<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KOMUNITASFILM.ORG</title>
	<atom:link href="http://komunitasfilm.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://komunitasfilm.org</link>
	<description>Kantor Berita Online Komunitas Film Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Feb 2012 08:01:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Agenda Bulan Februari 2012</title>
		<link>http://komunitasfilm.org/2012/02/agenda-bulan-februari-2012/</link>
		<comments>http://komunitasfilm.org/2012/02/agenda-bulan-februari-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Feb 2012 07:57:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KF.ORG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitasfilm.org/?p=574</guid>
		<description><![CDATA[Kami memilihkan agenda Bulan Februari 2012 yang menarik dan berharga untuk anda hadiri. Negeri di Bawah Kabut (2011) yang disutradarai Shalahuddin Siregar adalah film yang kami kategorikan sebagai film wajib tonton. Termasuk juga Bermula dari A (2011) sutradara BW. Purba Negara.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kami memilihkan agenda Bulan Februari 2012 yang menarik dan berharga untuk anda hadiri.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="size-full wp-image-584 alignleft" style="margin: 8px 10px;" title="Negeri di Bawah Kabut - Agenda Feb 2012" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2012/02/Negeri-di-Bawah-Kabut-Agenda-Feb-2012.jpg" alt="" width="200" height="200" />Pemutaran &amp; Diskusi<br />
<a href="http://thelandbeneaththefog.tumblr.com/" target="_blank"><strong>The Land Beneath The Fog</strong></a> / <strong>Negeri di Bawah Kabut</strong> (2011)<br />
Sutradara: Shalahuddin Siregar<br />
Durasi: 100 menit<br />
Penghargaan: Special Jury Prize, Muhr Asia Africa Documentary Award, 8th Dubai International Film Festival 2011</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hari/Tanggal: Kamis, 23 Februari 2012</strong><br />
<strong> Tempat: Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Cikini &#8211; Jakarta</strong><br />
<strong> Pukul: 14.15 WIB – selesai</strong><br />
<strong> Penyelenggara: Klub Kajian Film IKJ &amp; South to South Film Festival</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di sebuah desa di lereng gunung, sebuah komunitas diam-diam sedang menghadapi perubahan tanpa mengerti alasannya. Sebagai komunitas petani yang mengandalkan sistem kalender tradisional Jawa dalam membaca musim, mereka dibuat bingung oleh musim yang sedang berubah.</p>
<p style="text-align: justify;">Muryati (30 th) dan Sudardi (32 th), berusaha memahami kenapa hujan turun lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Gagal panen dan harga jual yang terlalu murah menjadi ancaman. Sementara itu Arifin (12 th) dihadapkan pada pertanyaan ; masa depan seperti apa yang ditawarkan kepadanya? Pada usia yang masih sangat muda, dia harus berhadapan dengan sistem sekolah negeri yang kompleks.</p>
<p style="text-align: justify;">Melalui kehidupan sehari-hari dua keluarga petani, Negeri di Bawah Kabut membawa kita melihat lebih dekat bagaimana perubahan musim, pendidikan dan kemiskinan saling berkaitan satu sama lain.*</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-587" title="Bermula dari A - Agenda Feb 2012" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2012/02/Bermula-dari-A-Agenda-Feb-2012.jpg" alt="" width="200" height="200" />Pemutaran<br />
<strong>Bermula dari A</strong> (2011)<br />
Sutradara: BW. Purba Negara<br />
Fiksi / 16 menit / Digital / BW / Indonesia</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi si laki-laki, sang perempuan adalah lidah. Dan bagi si perempuan, sang laki-laki adalah mata. Hubungan yang biasa-biasa saja terjalin di antara mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Penghargaan:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li style="text-align: left;"> In Competition, International Competition Programme, Tampere Film Festival 2012, Finlandia.</li>
<li style="text-align: left;"> International Competition Programme, Clermont Ferrand International Short Film Festival 2012, Perancis. (European Premiere)</li>
<li style="text-align: left;"> Special Jury Prize, Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2011, Indonesia.</li>
<li style="text-align: left;"> Film Pendek Terbaik, Festival Film Indonesia (FFI) 2011, Indonesia.</li>
<li style="text-align: left;"> Official Selection, Busan International Film Festival (BIFF) 2011, Korea. (International Premiere)</li>
<li style="text-align: left;"> Pemenang Ladrang Award, Festival Film Solo (FFS) 2011, Indonesia. (World Premiere)</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hari/Tanggal: Jumat, 24 Februari 2012</strong><br />
<strong> Tempat: IFI Surabaya (ex. CCCL) Jl. Darmokali No.10 &#8211; Surabaya</strong><br />
<strong> Pukul: 18.00 WIB – selesai</strong><br />
<strong> Penyelenggara: Independen Film Surabaya (INFIS)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitasfilm.org/2012/02/agenda-bulan-februari-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kompetisi Ladrang &amp; Gayaman Award 2012, Festival Film Solo</title>
		<link>http://komunitasfilm.org/2012/01/pendaftaran-ladrang-gayaman-2012/</link>
		<comments>http://komunitasfilm.org/2012/01/pendaftaran-ladrang-gayaman-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 09:02:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KF.ORG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Ariani Darmawan]]></category>
		<category><![CDATA[Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film Solo 2012]]></category>
		<category><![CDATA[Gayaman Award 2012]]></category>
		<category><![CDATA[Ifa Isfansyah]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Film Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Kuntz Agus]]></category>
		<category><![CDATA[Ladrang Award 2012]]></category>
		<category><![CDATA[Seno Gumira Ajidarma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitasfilm.org/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[Festival Film Solo telah membuka pendaftaran untuk Program Kompetisi Film Fiksi-Pendek Indonesia Kategori Umum-Nasional, Ladrang Award, dan juga Kategori Pelajar-Nasional, Gayaman Award.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-436" title="Festival Film Solo 2012 - KF" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2012/01/ffs-kf.jpg" alt="" width="480" height="360" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Festival Film Solo</strong> telah membuka pendaftaran untuk Program Kompetisi Film Fiksi-Pendek Indonesia Kategori Umum-Nasional, <strong>Ladrang Award</strong>, dan juga Kategori Pelajar-Nasional, <strong>Gayaman Award</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Film-film yang nantinya dikirimkan, akan dikurasi oleh Tim Program yang terdiri dari Ronny P. Tjandra, Ayu Mitha Radila dan Adrian Jonathan Pasaribu. Mereka akan memilih para finalis, sebelum masuk pada tahap penjurian.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewan Juri Festival Film Solo 2012 berjumlah tiga orang pada masing-masing kategori. Pada Ladrang Award, Dewan Juri terdiri dari Seno Gumira Ajidarma, Joko Anwar dan Ifa Isfansyah. Sedangkan pada Gayaman Award ada Kuntz Agus Nugroho, Ariani Darmawan dan Blontank Poer.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut ketentuan pendaftaran Ladrang dan Gayaman Award 2012, Festival Film Solo:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>LADRANG AWARD</strong> adalah Kompetisi Film Fiksi-Pendek Indonesia untuk Kategori Umum-Nasional.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li> Genre film adalah FIKSI dengan DURASI MAKSIMAL 30 menit</li>
<li>Tahun produksi film adalah 2010, 2011 dan 2012</li>
<li>Film diproduksi di Indonesia atau di negara lain dengan mengetengahkan cerita yang terkait dengan Indonesia</li>
<li>Film yang menggunakan bahasa selain Bahasa Indonesia, WAJIB memiliki subtitle Bahasa Indonesia</li>
<li>Format film yang dikirimkan adalah DUA buah DVD-Video PAL (DVD-Play), dan BUKAN DVD Data</li>
<li>Pendaftar bertanggungjawab penuh atas orisinalitas semua materi dalam film yang dikirimkan dan WAJIB menyertakan surat ijin dari pemegang Hak Cipta APABILA menggunakan materi non-orisinal</li>
<li>Pendaftar wajib mengisi secara LENGKAP formulir pendaftaran yang dapat diunduh di website www.festivalfilmsolo.com</li>
<li>Film, formulir dan seluruh kelengkapan harus SUDAH diterima oleh pengelola Festival Film Solo <strong>paling lambat tanggal 25 Maret 2012 Jam 24.00 WIB</strong></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>GAYAMAN AWARD</strong> adalah Kompetisi Film Fiksi-Pendek Indonesia untuk Kategori Pelajar  – Nasional.</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li> Genre film adalah FIKSI dengan DURASI MAKSIMAL 30 menit</li>
<li>Tahun produksi film adalah 2010, 2011 dan 2012</li>
<li>Film diproduksi di Indonesia atau di negara lain dengan mengetengahkan cerita yang terkait dengan Indonesia</li>
<li>Film yang menggunakan bahasa selain Bahasa Indonesia, WAJIB memiliki subtitle Bahasa Indonesia</li>
<li>Format film yang dikirimkan adalah DUA buah DVD-Video PAL (DVD-Play), dan BUKAN DVD Data</li>
<li>Pendaftar bertanggungjawab penuh atas orisinalitas semua materi dalam film yang dikirimkan dan WAJIB menyertakan surat ijin dari pemegang Hak Cipta APABILA menggunakan materi non-orisinal</li>
<li>Pendaftar wajib mengisi secara LENGKAP formulir pendaftaran yang dapat diunduh di website www.festivalfilmsolo.com</li>
<li>Film adalah karya pelajar setingkat SMA maupun SMP dan pendaftar WAJIB melampirkan fotokopi Kartu Pelajar yang masih berlaku</li>
<li>Film, formulir dan seluruh kelengkapan harus SUDAH diterima oleh pengelola Festival Film Solo <strong>paling lambat tanggal 25 Maret 2012 Jam 24.00 WIB</strong></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Film, formulir dan seluruh kelengkapan dikirimkan ke:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>PENGELOLA FESTIVAL FILM SOLO</strong><br />
Pondok Baru Permai<br />
Jl. Cenderawasih Blok H No.6<br />
Gentan – Sukoharjo, Jawa Tengah</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mendownload formulir pendaftaran, silakan membuka website resmi Festival Film Solo: <a href="http://www.festivalfilmsolo.com/" target="_blank">www.festivalfilmsolo.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitasfilm.org/2012/01/pendaftaran-ladrang-gayaman-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Unduh Naskah: Wrong Day (Yusuf Radjamuda, 2011)</title>
		<link>http://komunitasfilm.org/2011/11/unduh-naskah-wrong-day-yusuf-radjamuda-2011/</link>
		<comments>http://komunitasfilm.org/2011/11/unduh-naskah-wrong-day-yusuf-radjamuda-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2011 05:27:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KF.ORG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Unduh Naskah]]></category>
		<category><![CDATA[Download Naskah Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film Solo 2011]]></category>
		<category><![CDATA[Film Alternatif]]></category>
		<category><![CDATA[Film Fiksi Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Film Indie]]></category>
		<category><![CDATA[Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Film Pendek Wrong Day]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Film]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Film Palu]]></category>
		<category><![CDATA[Yusuf Radjamuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitasfilm.org/?p=403</guid>
		<description><![CDATA[Yusuf Radjamuda &#124; 4 Menit &#124; Kafe Ujung &#124; Warna &#124; Palu &#124; 2011
Seorang polisi muda mengejar penjahat kelas teri pada hari pertamanya bertugas. Mereka terjebak dalam satu perbincangan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-404" title="Wrong Day - KF" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/11/Wrong-Day-KF.jpg" alt="" width="480" height="255" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Wrong Day</strong><br />
<strong> Yusuf Radjamuda</strong> | 4 Menit | Kafe Ujung | Warna | Palu | 2011<br />
Seorang polisi muda mengejar penjahat kelas teri pada hari pertamanya bertugas. Mereka terjebak dalam satu perbincangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemain: <strong>Rizal Darvin</strong> dan <strong>Ipin Cevin</strong><br />
Produser, Naskah, Sutradara, Editor: <strong>Yusuf Radjamuda</strong><br />
Penata Kamera: <strong>Eddie Muchiddin</strong><br />
Penata Musik: <strong>Khais</strong> dan <strong>Paul Nashir</strong><br />
Produksi dan Distribusi: <strong>Kafe Ujung, Palu</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pemutaran dan Penghargaan:</strong><br />
- Nominasi Ladrang, Festival Film Solo, 2011<br />
- Film Pendek Terbaik, Malang Film-Video Festival, 2011</p>
<p style="text-align: justify;">Naskah dan musik tersedia dalam format flash ber-ekstensi .EXE yang bebas dari virus. Apabila file tidak bisa dibuka, silakan kasih permisi pada antivirus anda. Apabila anda menginginkan dalam format .PDF, silakan hubungi redaksi pada email: <a href="mailto:redaksi@komunitasfilm.org" target="_blank">redaksi@komunitasfilm.org</a></p>
<p style="text-align: justify;">Unduh naskah film ini adalah hasil kerjasama Komunitasfilm.org dengan Kafe Ujung, Palu.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.box.net/shared/zp3krgsn4l4yjtly5c1r" target="_blank"><strong>UNDUH NASKAH &#8220;WRONG DAY&#8221;</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitasfilm.org/2011/11/unduh-naskah-wrong-day-yusuf-radjamuda-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Opini: Gajah di Pelupuk Mata Pembuat Film dan Video di Indonesia</title>
		<link>http://komunitasfilm.org/2011/09/gajah-di-pelupuk-mata-pembuat-film-dan-video/</link>
		<comments>http://komunitasfilm.org/2011/09/gajah-di-pelupuk-mata-pembuat-film-dan-video/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 08:41:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KF.ORG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Forum Lenteng]]></category>
		<category><![CDATA[Hafiz]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Film]]></category>
		<category><![CDATA[Manshur Zikri]]></category>
		<category><![CDATA[OK Video 2011]]></category>
		<category><![CDATA[OK Video Jakarta International Video Festival 2011]]></category>
		<category><![CDATA[ruangrupa]]></category>
		<category><![CDATA[Sinema Gerilya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitasfilm.org/?p=376</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang terpikirkan ketika kita berbicara tentang film dan video? Tidak lain adalah hal yang selama ini menjadi referensi visual sebagian besar masyarakat Indonesia, yaitu sinetron (sinema elektronik. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-383" title="OK Video - Jakarta International Video Festival 2011" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/09/ok-video.jpg" alt="" width="480" height="147" /></p>
<p style="text-align: justify;">Opini <strong>Manshur Zikri</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ada semacam kesulitan</strong> bagi kita jika hendak membicarakan persinggungan antara film dan video dalam konteks Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya semacam kegagapan dari kalangan pelaku film dan video sendiri pada awal kehadiran kamera video yang datang secara instan di tengah masyarakat. Kegagapan ini membuat mereka meraba-raba dan pada akhirnya menciptakan suatu kekosongan, bahkan kekeliruan dalam menafsirkan perbedaan utama dari kedua medium tersebut. Oleh sebab itu untuk membaca persinggungan antara film dan video di Indonesia lebih mungkin dilihat dari aspek sosial daripada aspek artistik maupun estetiknya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Film dan Video Beda</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita merujuk pada definisinya, film dan video adalah dua hal berbeda. Film dilihat sebagai kelanjutan dari tradisi seni pendahulunya yang lahir dari perkembangan teknologi (film disebut sebagai “seni ketujuh” dalam tradisi kebudayaan Prancis). Sebagai strategi ekspresi, film tetap mengikuti tradisi baku di bidang seni pertunjukan konvensional (dalam hal ini tradisi teater). Kata “sinema” sendiri bahkan merujuk pada tradisi panggung: sebuah “ruang gelap” di mana terjadi aktivitas menonton suatu bentuk pementasan, pertunjukan (Hafiz, Forum Lenteng, 2011). Sementara André Bazin, kritikus film dari Prancis, berpendapat bahwa konsepsi tentang sinema, pada dasarnya, telah muncul sebelum adanya teknologi film itu sendiri. Ide bawaan yang terdapat pada “film” dan “sinema” muncul dari hasrat untuk mereproduksi realitas sebagaimana yang dirasakan oleh manusia. Dengan demikian, film (teknologi canggih itu) berasal dari dorongan mendasar untuk menghadirkan kembali “yang nyata” dari realitas sosial.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pengertian di atas maka dapat dipahami bahwa film dan sinema berdiri sendiri karena hasrat tradisi berkesenian untuk menghadiran kembali apa “yang nyata” sedetail mungkin. Alih-alih mengatakan bahwa film dan sinema muncul karena teknologi, maka lebih tepat untuk menyimpulkan bahwa film dan sinema adalah sebuah pencapaian puncak dari tradisi seni dalam kebudayaan dunia yang menggabungkan pelbagai medium kesenian yang hadir melalui temuan teknologi (Hafiz, 2011).</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara jika kita mendefinisikan video maka yang akan kita temukan adalah sebuah bentuk teknologi yang mampu memproses, menangkap, merekam, menyimpan, mentransimisi, dan merekonstruksi rentetaan gambar diam secara elektronis yang kemudian menghasilkan serangkaian gambar bergerak (Wikipedia). Dari sekian banyak pengertian tentang apa itu “seni video”, pernyataan dari Veronika Kusumaryati, kritikus film Kelompok Kajian Film IKJ, mungkin dapat membantu. Ia menjelaskan bahwa “medium video menyangkut perangkat berbasis teknologi elektronik dan berisi citraan yang merupakan reaksi terhadap teknologi itu sendiri. Sedangkan Mahardika Yudha, peneliti dari Forum Lenteng, menjelaskan bahwa video lahir dari rahim televisi (media massa). Televisi pulalah yang kemudian menjadi landasan bagi persebaran, perkembangan, dan penggunaan medium video. Di sini pendapat Mahardika memiliki kesamaan dengan pendapat Veronika, bahwa seni video lahir sebagai bentuk tanggapan atas teknologi itu sendiri (Hafiz, 2011).</p>
<p style="text-align: justify;">Berpijak pada pengertian di atas, kita dapat melangkah lebih jauh untuk melihat persinggungan antara film dan video. Sejatinya, persinggungan ini dapat diutarakan dengan kalimat sederhana: kedua medium tersebut sama-sama menangkap objek dan menampilkannya pada permukaan layar. Namun pemahaman ini menjadi sesuatu yang dilupakan. Tidak adanya kesadaran dalam memahami esensi film dan video menyebabkan para praktisi (khususnya di Indonesia sendiri) terjebak dalam euforia kecanggihan teknologi semata sehingga yang dilihat oleh mereka hanyalah aspek praktis dalam aktivitas produksi dan distribusi semata. Bahkan sejak periode 80-an hingga sekarang, persinggungan kedua medium tersebut di Indonesia tidak dilihat sebagai pertemuan yang berpotensi menciptakan bahasa visual dan elemen artistik yang khas dan terus berkembang. Di Indonesia keduanya hanya ditempatkan sebagai sarana komunikasi (bahkan lebih sempit lagi: hiburan) yang sebisa mungkin diterima oleh masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kilas Balik Video sebagai Alat Produksi Film</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang terpikirkan ketika kita berbicara tentang film dan video? Tidak lain adalah hal yang selama ini menjadi referensi visual sebagian besar masyarakat Indonesia, yaitu sinetron (sinema elektronik. Di Indonesia sinetron cukup memperlihatkan singgungan antara kedua medium tersebut, yaitu “sinema” (yang merujuk pada “film”) dan “elektronik” (yang merujuk pada video sebagai piranti elektronis).</p>
<p style="text-align: justify;">Sinetron bisa menjadi pijakan pertama dalam membicarakan persinggungan ini karena ia merupakan sebuah produk budaya yang mengamini perkembangan media dan teknologi, sekaligus sebagai cara untuk menyiasati permasalahan ekonomi yang melanda pada masanya. Ketika produksi film di tahun 80-an mengalami kemerosotan karena tingginya biaya, para pembuat film mengalami kesulitan untuk menarik massa agar datang ke bioskop. Maka muncul sebuah strategi alternatif: film yang justru mendatangi massa-nya melalui media televisi. Fritz G. Schadt, salah satu penggiat perfilman Indonesia pada dekade 1970-1980-an pernah mengatakan bahwa televisi adalah medium yang khas rumah tangga; “film” tidak lagi hadir di bioskop melainkan di dalam rumah kita sendiri. Kehadiran televisi membuat para pelaku film tidak lagi memproduksi karya dengan peralatan yang mahal dan dengan proses yang rumit. Mereka memanfaatkan piranti video (dan televisi) yang lebih murah dan cepat. Berangkat dari titik inilah kemudian film dan video (yang diwakili oleh televisi) mengalami persinggungan yang konkrit di tengah-tengah kita.</p>
<div id="attachment_379" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-379" title="Sinetron - Gara Gara KTP Jatuh Cinta" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/09/Sinetron-Garagara-KTP.jpg" alt="" width="480" height="332" /><p class="wp-caption-text">Sinetron &quot;Gara-gara KTP Jatuh Cinta&quot; (2011) - dok. Edo Rusyanto</p></div>
<p style="text-align: justify;">Catatan sejarah memperlihatkan bahwa kehadiran sinetron menjadi bagian penting dalam soal ini, yaitu ketika di tahun 1985 sebuah film televisi berjudul Gadis Kami Tercinta arahan sutradara Tiar Muslim memenangkan piala Vidia dalam Festifal Film Indonesia di Bandung. Lebih dari itu, kemajuan teknologi video kala itu terlihat pada fenomena merebaknya jumlah video rental (jumlah tempat penyewaan video ketika itu mencapai 1.200 buah), semakin meluasnya kegiatan perekaman yang menggunakan pita magnetis di masyarakat, dan stasiun TV nasional TVRI (Televisi Republik Indonesia) yang semakin gencar menggunakan video dalam memproduksi program acara, termasuk sandiwara. Arswendo Atmowiloto sebagai orang yang memperkenalkan istilah “sinema elektronik” dan Ali Shahab sebagai salah satu pelopor produksi sinetron pada dekade 1980-an percaya bahwa “…yang akan merajai dunia film bukan lagi bahan baku seluloid, tapi video” (Majalah Tempo Online, Agustus 1985).</p>
<p style="text-align: justify;">Penggunaan video untuk menghasilkan karya film terus berlanjut. Terutama ketika pertengahan tahun 90-an muncul semacam gerakan yang disebut “Sinema Gerilya” <span style="color: #ff0000;">[1]</span>.  Lalu lahir generasi muda yang dibesarkan oleh beragamnya kanal-kanal televisi (khususnya stasiun MTV / Music Television yang pertama kali hadir di Indonesia pada 1993). Mereka sangat intens dalam memproduksi video musik, video iklan, dan video dokumenter. Berbagai festival film pendek bermunculan, seperti Festival Film-Video Independen Indonesia dan Jakarta International Film Festival (JIFFest) di tahun 1999, satu tahun setelah Reformasi 1998. Kemunculan film Kuldesak (1998) menguatkan hasrat untuk menciptakan kultur “sinema independen” <span style="color: #ff0000;">[2]</span>. Hal ini kemudian berlanjut pada maraknya aktivitas produksi film panjang (feature) yang dilakukan dengan kamera digital kemudian mentransfernya ke dalam format pita seluloid 35 mm untuk diedarkan ke gedung-gedung bioskop (Gotot Prakosa, 2001: 13).</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga awal tahun 2000-an video masih hanya digunakan sebagai alat untuk merekam dan membuat film semata. Meskipun ada gerakan lain di awal tahun 90-an yang mendayagunakan video sebagai medium ekspresi seni lain (baca: seni rupa). Sebutlah Heri Dono sebagai salah satu pelakunya melalui karya video Hoping to Hear from You Soon (1992) dan Krisna Murti lewat karya 12 Jam dalam Kehidupan Penari Agung Rai (1993). Tetapi apa yang mereka lakukan belum memberikan dampak berarti terhadap kesadaran akan potensi medium video yang sesungguhnya dapat berdiri sebagai medium artistik. Bahkan, pasca Reformasi 1998 yang membuka potensi kebebasan berekspresi dan dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk dapat secara bebas menggunakan medium video pun hanya ditanggapi dengan hadirnya Komunitas Film Independen (Konfiden) tahun 1999. Kenyataan ini hanyalah gerakan kultural repetitif yang kembali menafsirkan video sebagai alat untuk membuat film semata <span style="color: #ff0000;">[3]</span>. Pada tahun 2001, ruangrupa Jakarta membuat semacam proyek bernama Silent Forces dan melakukan riset awal untuk membaca perkembangan seni video di Indonesia. Hasilnya adalah hampir 90% karya yang didapatkan dari proyek itu merupakan film pendek dan dokumentasi performance art oleh kalangan seniman (Hafiz, 2011).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gajah di Pelupuk Mata Pembuat Film Indonesia</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pemaparan di atas merupakan bukti bahwa video di Indonesia masih dijadikan alat untuk  “menyempurnakan” tradisi seni terdahulu. Video menjadi piranti untuk memindahkan panggung teater ke dalam bentuk tampilan layar datar. Dengan kata lain, produksi video adalah produksi film. Atas pertimbangan kendala dari alat-alat yang lama (baca: produksi film konvensional dan mahal), para pembuat film menggunakan video (dengan mental filmmaker) untuk terus menghidupkan sinema, yang justru berujung pada penurunan kualitas estetik film itu sendiri. Terlebih lagi karena kemunculan sinetron, film-film yang hadir di televisi (juga di layar lebar), mau tidak mau harus tunduk pada kepentingan industri kejar tayang untuk memuaskan hasrat penonton yang sudah terlenakan dengan visual-visual yang tidak berbobot <span style="color: #ff0000;">[4]</span>.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenyataan tersebut hadir karena sebagian besar pelaku film Indonesia pada masa itu tidak menyadari bahwa video, sesungguhnya, memiliki attitude dan bahasanya sendiri, bahwa video memiliki potensi sebagai satu bentuk seni yang utuh, yang dapat berbeda dari film. Berbeda dengan di negara lain, kehadiran video dengan cepat disadari potensinya oleh para seniman luar, misalnya di Amerika Serikat. Sebutlah nama-nama seperti Howard Fried, Bucky Schwart, Frank Gillete, Nam June Paik, dan sebagainya. Mereka percaya bahwa video memiliki kemampuan yang luar biasa karena sifatnya yang elektronis mampu memanipulasi citraan (Schadt, 1985). Para pelaku seni ini berusaha mencari celah untuk menjadikan video sebagai sebuah bentuk kesenian baru/new media art (Schadt, 1981). Sementara di Indonesia, video adalah alat sosial (juga finansial) untuk terus menghidupkan film, alih-alih sebagai media yang potensial menciptakan temuan artistik yang baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kehadiran video, produksi film menjadi mudah, distribusi menjadi lebih gampang, dan dalam hal presentasi karya pun video tidak sulit untuk dipindahkan ke dalam berbagai format tayang. Hingga sekarang, sangat sedikit sineas Indonesia yang menggunakan pita seluloid untuk memproduksi film. Mereka lebih memilih video (baik dalam format analog maupun digital) dengan berbagai pertimbangan ekonomisnya. Terlebih jika kita menyadari kehadiran sinetron yang tetap bertahan dan bahkan menjadi primadona di hampir seluruh stasiun televisi nasional saat ini. Hal ini tentu menjadi bukti nyata bahwa video memang merajai aktivitas produksi gambar bergerak yang menjadi bahan hiburan tontonan masyarakat, bukan sebagai medium kesenian yang otonom.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin benar bahwa sejauh ini film dan video saling melengkapi. Akan tetapi sejauh mana mereka bisa saling mengisi? Barangkali jawabannya hanya ada pada level peningkatan kuantitas, bukan pada tataran pertarungan bahasa tutur, peningkatan kualitas, pemahaman dan penafsiran konsep, serta eksplorasi kreatif.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>(Kemungkinan) Gajah di Pelupuk Mata Pembuat Video</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Lantas bagaimana dengan munculnya fenomena berkesenian dengan medium video di Indonesia dalam kurun 10 tahun terakhir? Benar memang, dalam satu dekade terakhir, para pelaku seni sudah menyadari bahwa video dapat berdiri sebagai medium seni tersendiri. Terutama sejak kehadiran ruangrupa dengan OK. Video-nya yang dianggap menjadi salah satu tonggak perkembangan seni video di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa melalui OK. Video banyak seniman muda yang mulai melirik dan mengutak-atik medium yang sangat luar biasa itu. Namun, tetap saja ada “kekosongan”, ada bayang-bayang gajah yang samar di depan mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Gali lubang, tutup lubang. Dalam beberapa hal, seni video ditanggapi sebagai satu hal yang berada sejauh-jauhnya dari persoalan film. Seakan ingin terlepas dari dosa para pendahulu yang aktif di tahun 80 dan 90-an. Tetapi bisa jadi justru terjadi hal yang sebaliknya: muncul semacam glorifikasi berlebihan dari seniman hari ini untuk memperlakukan seni video sebagai hal yang tidak dapat dilihat dari perspektif film dan sinema, dan oleh karena itu muncul kecenderungan untuk membuat karya seni video sebebas-bebasnya. Para pembuat video Indonesia seakan tidak membutuhkan referensi pengetahuan film dan sinema, dan hanya bersandar pada kecanggihan luar biasa dari medium video ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Keyakinan seperti inilah yang pada akhirnya membuat kita bisa tergagap jika, misalnya, ada karya seni video yang dibuat dengan menggunakan medium film (seluloid). Oleh sebab itu sudah seharusnya kita dapat menyadari usaha <a href="http://okvideofestival.org/" target="_blank">OK. Video – Jakarta International Video Festival</a> yang menghilangkan kata art dari istilah video art dan membiarkan kata “video” berdiri sendiri. Keputusan ini dapat dilihat sebagai strategi untuk membuka segala kemungkinan yang dapat dieksplorasi dari medium video sehingga kita tidak terkungkung pada soal seni video yang diartikan secara sempit: melukis dengan video.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang selalu menjadi masalah utama adalah kultur berkesenian kita yang tidak berjalan secara runut. Seni video dilahap oleh para pembuatnya tanpa menyadari akar sejarah munculnya medium ini. Mereka tidak pula memahami sejarah perkembangan dan kontribusi sinema dan film dalam persinggungannya dengan video. Kalau pun ingin dikatakan bahwa video tidak memiliki induk, bahwa dia muncul dari budaya media massa?berbeda dengan film yang merupakan tetasan telur dari seni teater?kita tidak dapat memungkiri bahwa video, bagaimana pun bentuknya, adalah karya moving image (citra bergerak) yang tidak dapat begitu saja dipisahkan dari film sebagai pembandingnya, karena mereka sama-sama memiliki kode-kode visual yang dapat dibaca (bahkan) dengan cara yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sekian banyak karya seni video yang dibuat oleh seniman Indonesia, mungkin hanya sedikit yang dapat kita anggap memiliki kesadaran tentang esensi (signifikansi perspektif) film di dalamnya. Sebutlah misalnya Alam: Syuhada (2005) karya Hafiz yang masuk dalam kompilasi 10 Tahun Seni Video Indonesia (2000-2010).</p>
<div id="attachment_378" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-378" title="Alam Syuhada - Hafiz" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/09/Alam-Syuhada-Hafiz.jpg" alt="" width="480" height="362" /><p class="wp-caption-text">Alam: Syuhada (2005) karya Hafiz (dok. KF.ORG)</p></div>
<p style="text-align: justify;">Karya ini dengan genial mampu menghadirkan representasi satu fragmen dalam sebuah bingkai sehingga membuka kemungkinan bagi penonton untuk membaca kode-kode visual secara horizontal untuk merefleksikan keseharian sang tokoh dalam video itu dan juga pengalamannya selama di Jakarta (Akbar Yumni, 2011). Cara menonton horizontal ini merupakan gagasan Barthes untuk menginterpretasikan kode visual dalam film sebagai hal yang dapat diamati dalam bentuk fragmen (pecahan). Di dalam karya video Hafiz, hal itu sangat dimungkinkan. Akan tetapi karena pembuatnya mengemas bahasa video, maka tata cara pembacaan fragmen-fragmen pada film itu tidak dibutuhkan. Sebab tampilan visual dalam video itu sendiri sudah menjadi satu kesatuan fragmen yang utuh, tidak perlu dipecah-pecah. Kode-kode visual semacam itu hanya akan muncul ketika pembuat videonya menyadari dan mengerti esensi bahasa film dalam meramu bahasa video. Dan pembacaan seperti ini hanya akan disadari ketika kita juga menyadari esensi dari film dan bahasanya. Oleh sebab itu, karya video Alam: Syuhada tidak serta merta berhenti pada bentuk seni video yang sempit, tetapi juga dapat dilihat sebagai karya film eksperimental.</p>
<p style="text-align: justify;">Karya video lain yang mungkin bisa kita lihat sebagai karya yang tidak serta merta melupakan esensi dari film adalah karya-karya video akumassa yang memiliki standar teknis yang merujuk pada bahasa dasar pembuatan film. Melihat video akumassa mengingatkan kita pada konsep penyutradaraan yang dilakukan Hitchcock, yang “memberikan otoritas” kepada subjek di dalam bingkai untuk membangun ruang dan jalur sirkulasinya sendiri. Namun pengemasan gaya bahasa yang mengutamakan eye level dan pengambilan gambar yang selektif untuk menguatkan objektivitas substansi, serta tidak menekankan pada durasi: awal, tengah, akhir; klimaks-antiklimaks, menjadikannya sebagai karya yang memiliki bahasa video tersendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemahaman seperti inilah yang harus dimiliki oleh para pembuat film dan video: bahwa persinggungan di antara kedua medium tersebut bisa saja terjadi dalam tataran estetis, bukan sekadar pada tataran sosial (apalagi finansial) yang hanya memandang video sebagai alat memudahkan aktivitas produksi dan distribusi semata. Dalam konteks ini, fungsi bahasa viual dalam film dijadikan sebagai pembongkar aktivitas penciptaan karya video sendiri, begitu juga sebaliknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Merupakan suatu keniscayaan bahwa karya video, sama halnya dengan film, dapat dilihat dari berbagai perspektif dan interdisiplin pengetahuan. Perspektif film pun, pada dasarnya, dapat dijadikan sebagai salah satu pisau bedah dalam mengkaji karya video yang memiliki attitude dan bahasanya sendiri itu. Dan merupakan suatu keharusan bagi pembuat karya seni video untuk memiliki kesadaran tentang bahasa film dan konsepsi sinema dalam berkarya.</p>
<p style="text-align: justify;">Film dan video memang berbeda, tetapi keduanya sesungguhnya bergerak ke arah yang sama untuk saling bertemu dan melengkapi. Jika kita terus tenggelam dalam euforia kemudahan dan kecanggihan yang ditawarkan video untuk menutupi persoalan-persoalan teknis film dan sinema, kita tidak akan bisa lepas dari senyum jahil sang gajah yang dengan setia nangkring di depan mata, membutakan kita dari potensi-potensi mengejutkan dari persinggungan antara film dan video itu sendiri.*</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-380" style="margin: 8px 10px;" title="Manshur Zikri" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/09/Manshur-Zikri.jpg" alt="" width="153" height="200" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Manshur Zikri</strong> adalah mahasiswa Ilmu Kriminologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Ia pernah mengikuti program Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa &amp; Budaya Visual 2011 yang diselenggarakan ruangrupa. Zikri bergiat di Forum Lenteng, sebuah komunitas yang bergerak di bidang penelitian dan pengembangan seni video. Kini ia aktif mengelola Jurnal Segi Empat. Email: <a href="mailto:manshurzikri@yahoo.com" target="_blank">manshurzikri@yahoo.com</a></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Catatan:</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">[1]</span> Gerakan ini dipelopori oleh Seno Gumira Adjidarma, Marseli dan kawan-kawan (mahasiswa Institut Kesenian Jakarta). Pengertian gerilya di sini merujuk pada aksi memproduksi film secara “bergerilya” karena sulitnya mendapatkan izin produksi pada masa Orde Baru. Namun, pada sisi artistik atau temuan bentuk, sinema gerilya tidak punya dampak signifikan bagi perkembangan film cerita, film eksperimental, dan karya seni video di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">[2]</span> Pada perkembangan selanjutnya cita-cita ini diikuti dengan dideklarasikannya sebuah gerakan bernama I Cinema oleh Riri Riza, Mira Lesmana, Rizal Mantovani dan kawan-kawan. Mereka membayangkan sebuah gerakan industri film yang menguasai pasar Indonesia dengan diputarnya karya-karya anak bangsa di bioskop-bioskop Studio 21. Untuk bacaan lebih lanjut, lihat Gotot Prakosa, “Ketika Film Pendek Bersosialisasi” (Jakarta: Yayasan Layar Putih, 2001).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">[3]</span> Komunitas ini menggerakkan anak-anak muda di Indonesia (terutama di Pulau Jawa) untuk membuat film dengan jargon yang sangat terkenal: “membuat film itu mudah”. Hal ini membawa pandangan di tengah masyarakat bahwa film adalah sesuatu yang “trendy” dan “cool” bagi anak-anak muda di Indonesia. Secara tidak langsung hal ini juga membentuk penonton film-film nasional yang diproduksi oleh komunitas yang ditandai oleh besarnya minat penonton film Indonesia di bioskop. Meskipun ujung-ujungnya tetap industrilah yang mendapat berkahnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">[4]</span> Padahal, pada masa awal sinema elektronik, kualitas karya yang dihasilkan sangat baik. Beberapa sutradara yang berkualitas itu di antaranya adalah Irwansyah dengan karyanya yang sangat terkenal, Sayekti dan Hanafi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitasfilm.org/2011/09/gajah-di-pelupuk-mata-pembuat-film-dan-video/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Unduh Naskah: Marni aka The Wife (Kuntz Agus, 2010)</title>
		<link>http://komunitasfilm.org/2011/07/unduh-naskah-marni-aka-the-wife-kuntz-agus-2010/</link>
		<comments>http://komunitasfilm.org/2011/07/unduh-naskah-marni-aka-the-wife-kuntz-agus-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 09:11:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KF.ORG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Unduh Naskah]]></category>
		<category><![CDATA[Agra Aghasa]]></category>
		<category><![CDATA[Agus Triatmojo]]></category>
		<category><![CDATA[Ajeng Patria Meilisa]]></category>
		<category><![CDATA[Ajish Dibyo]]></category>
		<category><![CDATA[Download Naskah Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Film Fiksi Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Film Indie]]></category>
		<category><![CDATA[Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Film Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kuntz Agus]]></category>
		<category><![CDATA[Unduh Naskah Film Pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitasfilm.org/?p=333</guid>
		<description><![CDATA[Marni Sutradara: Kuntz Agus Produser: Ajish Dibyo Pemain: Ajeng Patria Meilisa, Agus Triatmojo, Agra Aghasa Harimau Films / Fiksi / 23 Menit / Yogyakarta / 2010 Marni adalah sebuah film fiksi-pendek dengan latar belakang perburuan Penembak Misterius (Petrus) tahun 1983. Tahun itu adalah masa di mana banyak sekali terjadi pembunuhan dengan pelaku ‘tak dikenal’. Peristiwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/07/Marni-Stillphoto.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-334" title="Marni Stillphoto" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/07/Marni-Stillphoto.jpg" alt="" width="480" height="354" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Marni</strong><br />
Sutradara: Kuntz Agus<br />
Produser: Ajish Dibyo<br />
Pemain: Ajeng Patria Meilisa, Agus Triatmojo, Agra Aghasa<br />
Harimau Films / Fiksi / 23 Menit / Yogyakarta / 2010</p>
<p style="text-align: justify;">Marni adalah sebuah film fiksi-pendek dengan latar belakang perburuan Penembak Misterius (Petrus) tahun 1983. Tahun itu adalah masa di mana banyak sekali terjadi pembunuhan dengan pelaku ‘tak dikenal’. Peristiwa Petrus adalah sebuah catatan hitam sejarah kekerasan negara yang hingga masih diselimuti tabir tanda tanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Petrus pada awalnya dimulai di Yogyakarta dengan nama Operasi Pemulihan Keamanan yang ditujukan untuk menekan angka kriminalitas. Operasi yang kemudian diadopsi secara nasional dengan nama sandi Operasi Clurit hinga menewaskan lebih dari 1300 orang (data dari Kontras). Diluar aspek politis dan hukum kasus Petrus, ada sesuatu yang lebih besar lagi yang harus dilihat lebih dalam lagi, yakni kemanusiaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Petrus adalah teror, sebuah ancaman serius bagi kemanusiaan, sejarah yang dilupakan dan menyimpan potensi-potensi perulangan. Hingga kini, pencatatan dan arsip visual dokumentatif maupun reflektif terhadap peristiwa itu sangat minim.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pemutaran dan Penghargaan:</strong><br />
Official Selection, Festival Film Solo 2011<br />
Nominasi Film Pendek Terbaik, Festival Film Indonesia 2010</p>
<p style="text-align: center;"><a title="Unduh Naskah Film Marni (2010)" href="http://www.box.net/shared/cycobs7xeq9limh3ddge" target="_blank"><span style="color: #ff0000;"><strong>UNDUH NASKAH MARNI (2010)</strong></span></a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>TRAILER MARNI</strong>:</p>
<p style="text-align: center;"><object width="480" height="305"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="movie" value="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=24123496&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=0&amp;show_byline=0&amp;show_portrait=0&amp;color=00adef&amp;fullscreen=1&amp;autoplay=0&amp;loop=0" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="305" src="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=24123496&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=0&amp;show_byline=0&amp;show_portrait=0&amp;color=00adef&amp;fullscreen=1&amp;autoplay=0&amp;loop=0" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always"></embed></object></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://vimeo.com/24123496">Marni (The Wife) teaser</a> from <a href="http://vimeo.com/user6047861">harimaufilms</a> on <a href="http://vimeo.com">Vimeo</a>.</p>
<p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitasfilm.org/2011/07/unduh-naskah-marni-aka-the-wife-kuntz-agus-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wrong Day Rajai Malang Film-Video Festival (Mafvie Fest) 2011</title>
		<link>http://komunitasfilm.org/2011/05/298/</link>
		<comments>http://komunitasfilm.org/2011/05/298/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2011 08:29:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KF.ORG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Film Fiksi Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Film Indie]]></category>
		<category><![CDATA[Film Kota Palu]]></category>
		<category><![CDATA[Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Film Wrong Day]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Film]]></category>
		<category><![CDATA[Mafvie Fest]]></category>
		<category><![CDATA[Malang Film-Video Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Yusuf Radjamuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitasfilm.org/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[MALANG - Gelaran Malang Film Video Festival (Mafvie Fest) di Dome Universitas Muhammadiyah Malang pada 23-25 Mei 2011 ditutup dengan luapan sukacita (25/5) oleh para sineas dari Komunitas Jalin Sulteng, Palu. Dari lima kategori yang dikompetisikan, film Wrong Day yang disutradarai Yusuf Radjamuda asal Palu, berhasil membawa pulang tiga penghargaan untuk Kategori Film Fiksi Terbaik, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_299" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-299" title="Mafvie Fest" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/06/mafvie-fest.jpg" alt="" width="480" height="413" /><p class="wp-caption-text">Sineas asal Palu menerima penghargaan sebagai Film Fiksi Terbaik Mafvie Fest 2011. (dok. Mafvie Fest)</p></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>MALANG </strong>- Gelaran <strong>Malang Film Video Festival (Mafvie Fest) </strong>di Dome Universitas Muhammadiyah Malang pada 23-25 Mei 2011 ditutup dengan luapan sukacita (25/5) oleh para sineas dari Komunitas Jalin Sulteng, Palu. Dari lima kategori yang dikompetisikan, film Wrong Day yang disutradarai Yusuf Radjamuda asal Palu, berhasil membawa pulang tiga penghargaan untuk Kategori Film Fiksi Terbaik, Film Teknis Terbaik dan Film Favorit Juri.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewan Juri yang terdiri dari Sugeng Pujileksono (Dosen Universitas Muhammadiyah Malang), Daniel Rudi Haryanto (Sutradara Dokumenter) dan Bayu Bergas (Redaktur www.komunitasfilm.org) secara bulat memilih Wrong Day sebagai Film Fiksi Terbaik. Oleh para juri, Wrong Day dinilai sebagai film yang lugas, matang dialog, dan baik dari segi teknis sehingga mampu menyisihkan lima film lainnya, yakni It Could Have Been A Perfect World (Adhyatmika, Jakarta), Aksara Cinta (Antonius Janu Haryono, Yogyakarta), Mubazir (Arie Surastio, Yogyakarta), Potret Diri (Yusuf Radjamuda, Palu) dan Pagi Pertama (Riva Aulia Rais, Yogyakarta).</p>
<p style="text-align: justify;">Film Wrong Day sebelumnya menjadi salah satu finalis Ladrang Award Festival Film Solo, 4-7 Mei 2011, namun kalah oleh film Bermula dari A karya BW Purba Negara.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk Kategori Film Dokumenter Terbaik Umum diraih oleh film Sop Buntut (Deden Ramadani, Jakarta) sedangkan untuk Kategori Film Dokumenter Terbaik Pelajar jatuh pada Senja di Atas Roda (Febry Ramadhan, Malang).* <em><strong>(KF.ORG/GS)</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitasfilm.org/2011/05/298/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Film Pendek dari Palu Dikeroyok Film dari Jakarta dan Yogyakarta</title>
		<link>http://komunitasfilm.org/2011/04/film-pendek-dari-palu-dikeroyok-jakarta-dan-jogja/</link>
		<comments>http://komunitasfilm.org/2011/04/film-pendek-dari-palu-dikeroyok-jakarta-dan-jogja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Apr 2011 07:32:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KF.ORG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bermula dari A]]></category>
		<category><![CDATA[BW Purba Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film Solo 2011]]></category>
		<category><![CDATA[Film Fiksi Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Film Indie]]></category>
		<category><![CDATA[Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Gedung Kesenian Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Jason Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja-Netpac Asian Film Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Film Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Mulyadi Witono]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan untuk Kembali]]></category>
		<category><![CDATA[Say Hello to Yellow]]></category>
		<category><![CDATA[Territorial Pissings]]></category>
		<category><![CDATA[Wrong Day]]></category>
		<category><![CDATA[Yusuf Radjamuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitasfilm.org/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[&#160; SOLO, JAWA TENGAH – Lima film telah dipilih sebagai Nominasi Ladrang Award 2011 dari 169 film yang masuk proses kuratorial Festival Film Solo, yakni Territorial Pissings (Jason Iskandar, Jakarta), Perjalanan Untuk Kembali (Mulyadi Witono, Jakarta), Wrong Day (Yusuf Radjamuda, Palu), Say Hello to Yellow (BW Purba Negara, Yogyakarta), dan Bermula dari A (BW Purba [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<div id="attachment_269" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-269" title="Wrong Day" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/04/Wrong-Day.jpg" alt="" width="480" height="270" /><p class="wp-caption-text">Adegan dalam film Wrong Day (Yusuf Radjamuda) dari Kota Palu (dok. FFS)</p></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>SOLO, JAWA TENGAH</strong> – Lima film telah dipilih sebagai <strong>Nominasi Ladrang Award 2011</strong> dari 169 film yang masuk proses kuratorial Festival Film Solo, yakni Territorial Pissings (Jason Iskandar, Jakarta),  Perjalanan Untuk Kembali  (Mulyadi Witono, Jakarta), Wrong Day (Yusuf Radjamuda, Palu), Say Hello to Yellow (BW Purba Negara, Yogyakarta), dan Bermula dari A (BW Purba Negara, Yogyakarta).</p>
<p style="text-align: justify;">Proses kurasi film dilakukan oleh tiga kurator, yakni Bayu Bergas pada ide cerita, Ayu Mitha Radila pada musik-scoring, dan Joko Narimo pada sisi teknis film. Selanjutnya lima film yang lolos sebagai nominasi Ladrang Award akan diajukan pada tiga juri yang terdiri dari Seno Gumira Ajidarma, Swastika Nohara dan Joko Anwar.</p>
<p style="text-align: justify;">Terpilihnya film Wrong Day &#8211; yang disutradarai Yusuf Radjamuda &#8211; menjadi salah satu finalis, terhitung mengejutkan, sebab ia mampu menyelinap di tengah-tengah gempuran film pendek dari Jakarta dan Yogyakarta yang menyerbu Festival Film Solo.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya memang berharap bisa masuk nominasi pada kompetisi tersebut, tapi sebenarnya saya tidak pernah memprediksi. Niat mengirimkan film hanya supaya karya kami dari Palu bisa ditonton minimal oleh kurator film, dan tentu saja masuk dalam database Festival Film Solo,&#8221; terang Yusuf Radjamuda yang akrab dipanggil Ucup ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Belajar Film Secara Otodidak</strong><br />
Ucup dan Komunitas Jalin Sulawesi Tengah yang ia kelola memang terbentuk bukan dari sekolah film. Tapi justru hal tersebut yang membuat mereka semakin kukuh untuk berkarya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kami di Palu masih sangat baru di dunia perfilman dibanding dengan daerah-daerah lain, terutama Pulau Jawa. Kami belajar secara otodidak dengan membaca buku, nonton film, membaca artikel di internet, dan apa saja yang kami temukan yang berhubungan dengan teknik pembuatan film, kami memahaminya secara liar dan eksploratif,&#8221; terangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang dikatakan Ucup tentu menggambarkan fenomena sesungguhnya dari komunitas film. Mereka biasanya tak pernah mengenyam pendidikan formal perfilman. Sebutlah nama nominator lainnya yang berhasil memasukkan dua film di kompetisi ini, BW Purba Negara. Lelaki muda yang akrab dipanggil Popo ini pun sejatinya adalah sarjana filsafat. Ia besar di Limaenam Films, komunitas di mana ia bermukim.</p>
<p style="text-align: justify;">Fenomena ini juga ada pada finalis lainnya, Jason Iskandar. Sutradara muda yang disebut-sebut sebagai salah satu wonderkid dunia perfilman nasional ini, malah memilih kuliah pada Jurusan Sosiologi Universitas Gadjah Mada selepas menamatkan SMA-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum menjadi nominasi di Festival Film Solo, Territorial Pissings adalah peraih Blencong Award 2010, penghargaan untuk film pendek terbaik di Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF). <a href="http://komunitasfilm.org/?p=263" target="_blank">Territorial Pissings mampu menyingkirkan Peraih Piala Citra pada Festival Film Indonesia (FFI) 2010 Kategori Film Pendek, Kelas 5000-an karya Jihad Adjie. </a>Dan seperti halnya Ucup, Jason juga menyatakan optimisme yang kuat untuk bisa menang. &#8220;Aku lumayan optimis. Kalau menang tentu akan sangat bagus,&#8221; katanya dengan mantap.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulyadi Witono adalah satu-satunya nominator yang mengenyam pendidikan formal film di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dia yang bentukan sekolah akan menghadapi gempuran film-film yang lahir dari sutradara-sutradara yang besar di komunitas dan belajar secara otodidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Festival Film Solo akan dibuka pada tanggal 4 Mei jam 19.30 WIB dengan konsep layar tancap di pelataran <a href="http://gedungkeseniansolo.org/" target="_blank">Gedung Kesenian Solo</a>. Yang mendapat kehormatan sebagai tiga film pembuka adalah Gang Seribu (Ulul Albab, Yogyakarta, 2009), Pigura (Darti dan Yasin, Purbalingga, 2010) dan Gara-gara Bendera (Jeihan Angga, Yogyakarta, 2011).</p>
<p style="text-align: justify;">Jadwal pemutaran dan acara festival bisa didownload di website resmi <a href="http://festivalfilmsolo.com/" target="_blank">www.festivalfilmsolo.com</a>*<em><strong> (GS/KF.ORG)</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Daftar Film Nominasi Ladrang Award 2011</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://komunitasfilm.org/?p=257" target="_blank"><strong>Territorial Pissings</strong></a><br />
Jason Iskandar / 7 Menit / Jakarta / 2010<br />
Sepasang remaja terbangun dari tidurnya dalam perjalanan ke luar kota. Percakapan terjadi di antara mereka yang membuat perjalanan tertunda untuk beberapa saat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Perjalanan Untuk Kembali</strong><br />
Mulyadi Witono / 20 Menit / Jakarta / 2010<br />
Seorang arsitek muda yang sangat sibuk harus mengantarkan ayahnya untuk pulang ke kampung halaman.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Wrong Day</strong><br />
Yusuf Radjamuda / 4 Menit / Palu / 2011<br />
Seorang polisi mengejar kriminal menjelang hari pertamanya bertugas. Namun satu hal memaksa terjadinya percakapan di antara keduanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bermula Dari A</strong><br />
BW Purba Negara / 15 Menit / Yogyakarta / 2011<br />
Tentang hubungan yang sangat biasa antara perempuan tunanetra dengan laki-laki tunarungu-wicara</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Say Hello to Yellow</strong><br />
BW Purba Negara / 20 Menit / Yogyakarta / 2011<br />
Sebuah benda kecil membuat seorang anak terjebak ilusi dan kepura-puraan. Sebuah potret kelucuan modernitas yang angkuh dan gagap.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitasfilm.org/2011/04/film-pendek-dari-palu-dikeroyok-jakarta-dan-jogja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Unduh Naskah: Territorial Pissings (Jason Iskandar, 2010)</title>
		<link>http://komunitasfilm.org/2011/03/unduh-naskah-territorial-pissings-jason-iskandar-2010/</link>
		<comments>http://komunitasfilm.org/2011/03/unduh-naskah-territorial-pissings-jason-iskandar-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Mar 2011 11:33:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KF.ORG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Unduh Naskah]]></category>
		<category><![CDATA[Download Naskah Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Film Fiksi Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Film Indie]]></category>
		<category><![CDATA[Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Jason Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja-Netpac Asian Film Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Territorial Pissings]]></category>
		<category><![CDATA[Unduh Naskah Film Pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitasfilm.org/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[Territorial Pissings (2010) Gambar Darurat &#124; HD &#124; Fiksi &#124; 7 Menit &#124; Sutradara &#38; Penulis : Jason Iskandar &#124; Produser : Florence Giovani &#124; Pemeran : Yovita Ayu &#38; Deo Grasianto Sepasang remaja terbangun dari tidurnya saat beristirahat dalam perjalanan menuju ke luar kota. Mereka akan melanjutkan perjalanan, namun percakapan terjadi antara mereka dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-258" title="Territorial Pissings still" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/03/Territorial-Pissings-still.jpg" alt="" width="480" height="270" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Territorial Pissings</strong> (2010)</p>
<p style="text-align: justify;">Gambar Darurat | HD | Fiksi | 7 Menit | Sutradara &amp; Penulis : Jason Iskandar | Produser : Florence Giovani | Pemeran : Yovita Ayu &amp; Deo Grasianto</p>
<p style="text-align: justify;">Sepasang remaja terbangun dari tidurnya saat beristirahat dalam perjalanan menuju ke luar kota. Mereka akan melanjutkan perjalanan, namun percakapan terjadi antara mereka dengan sekelilingnya, yang membuat perjalanan mereka tertunda untuk beberapa saat.</p>
<p style="text-align: justify;">• Film Pendek Asia Terbaik (Blencong Award) – Jogja-Netpac Asian Film Festival 2010</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.box.net/shared/f0tp47o30j" target="_blank"><span style="color: #ff0000;"><strong>UNDUH NASKAH &#8220;TERRITORIAL PISSINGS&#8221;</strong></span></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitasfilm.org/2011/03/unduh-naskah-territorial-pissings-jason-iskandar-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jason Iskandar: Setahun Produksi Tak Lebih dari Dua Film!</title>
		<link>http://komunitasfilm.org/2011/02/jason-iskandar-setahun-produksi-tak-lebih-dari-dua-film/</link>
		<comments>http://komunitasfilm.org/2011/02/jason-iskandar-setahun-produksi-tak-lebih-dari-dua-film/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Feb 2011 18:39:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KF.ORG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Distribusi Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film di Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Film Alternatif]]></category>
		<category><![CDATA[Film Dokumenter]]></category>
		<category><![CDATA[Film Fiksi Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Film Indie]]></category>
		<category><![CDATA[Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Gedung Kesenian Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Ifa Isfansyah]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Bukan Negara Islam. Sarung Petarung]]></category>
		<category><![CDATA[It`s Not Raining Outside]]></category>
		<category><![CDATA[Jason Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja-Netpac Asian Film Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Film]]></category>
		<category><![CDATA[Paul Agusta]]></category>
		<category><![CDATA[Pemutaran Film]]></category>
		<category><![CDATA[Territorial Pissings]]></category>
		<category><![CDATA[Wawancara Jason Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[Yosep Anggi Noen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitasfilm.org/?p=242</guid>
		<description><![CDATA[Dalam usia yang muda, Jason Iskandar telah merebut perhatian publik melalui beberapa film pendeknya. Beberapa kalangan bahkan menyebutnya sebagai wonderkid dunia perfilman nasional. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/02/TP-JI.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-245" title="TP JI" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/02/TP-JI.jpg" alt="" width="480" height="319" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam usia yang sangat muda, <strong>Jason Iskandar</strong> telah merebut perhatian publik melalui beberapa film pendeknya. Beberapa kalangan bahkan menyebutnya sebagai wonderkid dalam dunia perfilman nasional. Film fiksi-pendek terbarunya, Territorial Pissings, diganjar Blencong Award &#8212; penghargaan atas Film Pendek Terbaik &#8212; dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival 2010.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepada <a href="http://komunitasfilm.org/?page_id=14" target="_blank"><strong>Bayu Bergas</strong></a> dari <a href="http://komunitasfilm.org/" target="_blank"><strong>komunitasfilm.org</strong></a>, Jason membeberkan sejumlah ketidakpuasan atas distribusi film-filmnya selama ini. Ia juga blak-blakan soal sumber biaya untuk produksi film-filmnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jason yang tengah berada di Jakarta dan Bergas di Solo, memutuskan berkencan melalui YM pada malam Hari Valentine.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Jas, selamat ya Territorial Pissings <a href="http://jaff-filmfest.com/2011/01/pemenang-film-kompetisi-jaff-2010/" target="_blank">menang di Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2010</a>.<br />
<strong>Jason</strong>: Yap, trims! Trims juga sudah memenangkannya. Hahaha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Hahaha&#8230; Apa yang kamu harapkan dengan kemenanganmu?<br />
<strong>Jason</strong>: Hmmmm.. Yang pasti aku senang ketika film yang aku buat masuk festival dan bisa menang. Tapi aku selalu mencoba untuk menjadikan kemenangan sebagai bonus aja. Maksudnya, yang penting diputar dan ditonton oleh orang. Itu dulu. Kalau kemudian menang, ya bagus.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Eh, kok semua sutradara sama ya statement-nya: menang di festival itu bonus <img src='http://komunitasfilm.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
<strong>Jason</strong>: Ya bohong sih kalau bilang gak ingin menang, tapi ya dicoba dikurangi sekurang-kurangnya. That’s the point! Hahaha. Jawaban ini juga nasehat dari beberapa orang lho, penting katanya. Hahaha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Usiamu berapa sekarang?<br />
<strong>Jason</strong>: Sekarang 20.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Tahun 2007 kamu memulai bikin film. Kenapa pilihanmu film?<br />
<strong>Jason</strong>: Sebenernya sebelum aku mulai bikin film, aku sudah mulai nyoba-nyoba desain grafis, kemudian fotografi. Di desain grafis, aku sering terbentur teknis karena aku gak begitu bisa gambar. Masuk SMA aku mulai nyoba fotografi, tapi aku mulai merasa kurang luas. Lalu ya ketika bikin film, enak aja karena luas. Kebetulan juga sejak ikut workshop pertama dulu, sudah dibilang untuk kesampingkan teknis, ya sudah jadinya asyik aja, bebas dan lebih luas.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Banyak orang salut dengan film-filmmu yang dokumenter, karena kamu selalu mengangkat tema yang tidak steril.<br />
<strong>Jason</strong>: Bilangin trims pada orang orang itu. Hahaha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Lalu kenapa bikin fiksi? ?<br />
<strong>Jason</strong>: Karena ingin mencoba aja. Aku gak mau aja dibilang pembuat film fiksi atau pembuat film dokumenter.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Beberapa orang melihat dengan usiamu yang masih sangat muda, kamu akan banyak membikin film bagus di kemudian hari. Apa rencanamu dalam lima tahun mendatang?<br />
<strong>Jason</strong>: Waduh, yang pasti menyelesaikan kuliah secepatnya, sambil bikin film pendek terus, itu aja sih. Hmmm.. Aku inginnya setahun tidak lebih dari dua film, karena pengalaman waktu tahun 2009 bikin tiga film, lalu 2010 langsung bikin satu, distribusinya berantakan dan gak fokus. Hehehe.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Pola distribusi seperti apa yang kamu mau?<br />
<strong>Jason</strong>: Aku inginnya sih ketika aku selesai bikin film, ya sudah aku fokus ke pendistribusian film itu. Cari cara ke berbagai link, misalnya festival, pemutaran di manapun, DVD, dan lainnya. Aku inginnya saat pra-produksi sudah ada bujet sendiri untuk biaya administrasi festival. Selama ini aku gak pernah seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Sarung Petarung distribusinya ada masalah gak menurutmu?<br />
<strong>Jason</strong>: Hmmm, itu tidak ada. Karena itu juga cukup luas diputar oleh The Body Shop di roadshow mereka.</p>
<p style="text-align: justify;"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/02/Sarung-Petarung.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-247" title="Sarung Petarung" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/02/Sarung-Petarung.jpg" alt="" width="480" height="294" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Kalau Indonesia Bukan Negara Islam (IBNI)?<br />
<strong>Jason</strong>: IBNI itu pertama kali aku distribusikan ke berbagai tempat dengan usaha sendiri. Jadi masalah paling banyak di uang, hanya pakai uang orangtua aja. Pernah aku coba kirim lewat Shortfilmdepot ke festival di luar, tapi email balasan yang masuk cuma email penolakan. Hahaha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Cheat Chat Bingo gimana? Lebih bagus dong ya distribusinya?<br />
<strong>Jason</strong>: Sama aja sih! Browsing sendiri, daftar sendiri, kirim sendiri semua. Intinya begitu. Aku kurang puas dengan distribusi aku selama ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Bagian mana nih kurang puasnya?<br />
<strong>Jason</strong>: Sekarang sudah tahun 2011, dan harusnya aku cari link untuk mutar Territorial Pissings seluas-luasnya, tapi tiba-tiba ada yang mau <a href="http://komunitasfilm.org/?p=222" target="_blank">mutar IBNI kayak di GKS</a> (<a href="http://gedungkeseniansolo.org/" target="_blank">Gedung Kesenian Solo</a> – red) nanti. Sebenarnya aku udah bosan sama pemutaran dan diskusi IBNI. Tapi mau gak mau, karena gimanapun itu juga kesempatan menyebarkan filmku juga kan. Hehehe.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Territorial Pissings akan didistribusikan oleh <a href="http://www.fourcoloursfilms.com/" target="_blank">Fourcolours Films</a> kan ya. Seperti apa metode distribusinya?<br />
<strong>Jason</strong>: Iya, Territorial Pissings didistribusikan oleh Fourcolours. Kalau itu berjalan lancar, akan sangat membantu. Tapi aku belum baca kontraknya. Pihak sana (Fourcolours – red) belum kirim draftnya. Tapi intinya yang aku harapkan sih bukan distribusi DVD-nya, melainkan distribusi ke festival-festival luar, karena waktu IBNI aku coba kirim sendiri lewat FedEx dan Shortfilmdepot, ternyata mahaaaaaal! Hehehe.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Rencanamu dan distributor, Territorial Pissings akan ke festival mana aja tahun ini?<br />
<strong>Jason</strong>: Hahaha, gak ada rencana juga soal itu. Nah kayak gini juga nih yang terjadi selama ini. Aku gak tahu ke festival mana aja yang jadi target. Jadi ya setiap browsing ada festival ya kirim. Yang baru kukirim terakhir itu Asia-Africa Film Festival dan nanti <a href="http://festivalfilmsolo.komunitasfilm.org/" target="_blank"><strong>Festival Film Solo</strong></a>, baru itu. Inipun kukirim sendiri karena belum ada perjanjian tertulis dengan distributor, sebenernya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Wah, mudah2an langsung ada perjanjian tertulisnya ya.<br />
<strong>Jason</strong>: Tau tuh, tak kunjung dikirim draftnya. Hahahaha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Kalau untuk distribusi DVD, apa rencanamu?<br />
<strong>Jason</strong>: Kalau untuk DVD, tidak mengharapkan apa apa, jujur. Hehehe. Aku bener-bener berharap bisa keliling seluas-luasnya aja ke banyak festival lewat distributor itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Menurutmu, apa distribusi DVD sekarang ini gak cukup potensial?<br />
<strong>Jason</strong>: Entahlah, sepertinya tidak. Seberapa banyak sih yang rela ngeluarin uang untuk membeli film pendek. Itu menurutku sih, tapi entahlah kenyataannya. Hehehe.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Ifa Isfansyah pernah bikin <a href="http://koperasifilm.com/" target="_blank">koperasifilm.com</a>, Dimas Jayasrana dengan <a href="http://www.themarshall.org/" target="_blank">The Marshall Plan</a>, dan Lulu Ratna dengan kompilasi <a href="http://boemboe.org/" target="_blank">DVD Boemboe</a>. Menurutmu belum menjawab juga?<br />
<strong>Jason</strong>: Yap! Dan sukseskah ketiganya?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Kayaknya aku yang sedang nanya deh ya?! ?<br />
<strong>Jason</strong>: Hahahaha. Entahlah. Aku tidak ada bayangan soal itu. Yang pasti aku benar benar berharap distibutor ini kalau jadi bisa membawa keliling seluas-luasnya aja, yah anggap aja DVD bagian dari paket itu. The Marshall Plan terakhir ngedistribusiin Kado Hari Jadi. Aku sempet beli, lumayan packaging-nya. Hahaha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Paul Agusta pada akhirnya mendistribusikan Kado Hari Jadi lewat <a href="http://cinemapoetica.com/download-area/kado-hari-jadi" target="_blank">unduhan gratis,</a> bukan kepingan DVD lagi.<br />
<strong>Jason</strong>: Oooh ya, aku juga tahu tuh. Hahahaha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Film-filmmu bisa diunduh di mana nih?<br />
<strong>Jason</strong>: vimeo.com/jasoniskandar</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Jas, soal duit nih.<br />
<strong>Jason</strong>: Ya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Bujet produksimu yang terendah sampai yang tertinggi berapa?<br />
<strong>Jason</strong>: Sarung Petarung dikasih bujet 500 ribu dari panitia workshop The Body Shop. Itu paling rendah, dan habis juga cuma untuk makan-makan. Kalau yang paling tinggi Territorial Pissings, sekitar 4 juta. Kalau IBNI gak ada bujet tertulis, jadi keluar-keluar aja gitu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Duit dari mana tuh yang Territorial Pissings?<br />
<strong>Jason</strong>: Duit dari orang tua.</p>
<p style="text-align: justify;"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/02/sket-TP-2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-248" title="sket TP 2" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/02/sket-TP-2.jpg" alt="" width="477" height="445" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: IBNI juga dari ortu?<br />
<strong>Jason</strong>: IBNI dari uang jajan, ya dari orang tua juga intinya. Ya memang prediksi tidak akan banyak. Baru di Territorial Pissings mulai belajar rinci, buat form-bujet sedetil mungkin, sebelumnya gak pernah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Siapa orang yang punya pengaruh ke kamu di film?<br />
<strong>Jason</strong>: Pasti ortu, karena sebagian besar modal dari mereka. Hahaha. Terus Dimas Jayasrana, mentor sejak workshop The Body Shop, yang terus jadi mentor sampai sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Dimas pasti bangga kamu sebut-sebut di sini.<br />
<strong>Jason</strong>: Hahahaha&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Tiga film pendek Indonesia favoritnya Jason Iskandar?<br />
<strong>Jason</strong>: Harap Tenang Ada Ujian!, A Very Slow Breakfast dan Sugiharti Halim.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>(Catatan redaksi: <strong>Harap Tenang Ada Ujian!</strong> Sutradara Ifa Isfansyah, Produksi tahun 2006. <strong>A Very Slow Breakfast </strong>Sutradara Edwin, Produksi tahun 2003. <strong>Sugiharti Halim</strong> Sutradara Ariani Darmawan, Produksi tahun 2008.)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Btw, mungkin Territorial Pissings bakal ketemu dengan It&#8217;s Not Raining Outside-nya Yosep Anggi di <a href="http://festivalfilmsolo.komunitasfilm.org/" target="_blank"><strong>Festival Film Solo</strong></a>, bulan Mei nanti <img src='http://komunitasfilm.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
<strong>Jason</strong>: Hahahaha&#8230; Iya! Jujur, banyak shot Territorial Pissings yang meniru itu. Hahaha. Aku suka banget sama frame terbelahnya!</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Hahaha.. Statement-mu di atas dimasukkan ke wawancara ini gak nih?<br />
<strong>Jason</strong>: Gak papa, masukin aja biar Cecep (Yosep Anggi &#8211; red) senang! Hahaha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Eh, Jas. Kamu melakukan ritual gitu gak sih kalo mau produksi? Misalnya minum darah kelinci atau apa.<br />
<strong>Jason</strong>: Hahaha, gak pernah. Bahkan baru terpikir sekarang. Boleh dicoba next time.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Pertanyaan terakhir, kamu penganut seks bebas bukan?<br />
<strong>Jason</strong>: Bukan pembicara yang baik, jadi sulit menganut itu. Hahaha</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Jadi kamu tidak terbiasa freesex ya?<br />
<strong>Jason</strong>: Tidak.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Sex berbayar?<br />
<strong>Jason</strong>: Hahaha. Iya, itu beda soal.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Oke, jangan lupa kirim fotomu yang paling menjual ya, Jas.<br />
<strong>Jason</strong>: Oke. Sip!</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: center;"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/02/jason-iskandar.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-246" title="jason iskandar" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/02/jason-iskandar.jpg" alt="" width="480" height="471" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jason Iskandar</strong> lahir di Jakarta pada tahun 1991. Ia mulai membuat film dokumenter pada usia 17 tahun lewat workshop Think Act Change : A Documentary Film Competition yang diadakan oleh The Body Shop dan Dewan Kesenian Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Filmografi:</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sarung Petarung</strong> (2007)</p>
<p style="text-align: justify;">Workshop Think Act Change 2007 | DV | Dokumenter | 15 Menit | Sutradara &amp; Penulis : Jason Iskandar &amp; M. Adiartha Kusuma<br />
Remaja mempertanyakan kegunaan kondom dan relasinya dengan safe sex. Jawaban polos mereka menggambarkan bahwa sudah saatnya membicarakan kondom.<br />
•	Film Dokumenter Terbaik &#8211; Think Act Change 2007<br />
•	Film Dokumenter Favorit &#8211; Think Act Change 2007<br />
•	Film Dokumenter HIV/AIDS Terbaik &#8211; Think Act Change 2007<br />
•	Nominasi Film Dokumenter Terbaik &#8211; Festival Film Dokumenter 2008<br />
•	Nominasi Film Dokumenter Terbaik &#8211; Malang Film Video Festival 2008<br />
•	Seleksi Non Kompetisi &#8211; Q! Film Festival 2008<br />
•	Seleksi Non Kompetisi &#8211; Festival Film Pendek Konfiden 2007</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Indonesia Bukan Negara Islam</strong> (2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Gambar Darurat | DV | Dokumenter | 9 Menit | Sutradara &amp; Penulis : Jason Iskandar | Produser : Jason Iskandar &amp; Made Perwira<br />
Film dokumenter tentang dua orang siswa Muslim yang bersekolah di sekolah Katholik. Mereka berpendapat tentang Indonesia dan Islam sebagai agama mayoritas. Divisualisasikan dengan foto-foto hitam putih.<br />
•	Film Dokumenter Terbaik – Tawuran! Festival Film Pelajar 2009<br />
•	Film Dokumenter Terbaik (Kategori Pelajar)  – Festival Film Dokumenter 2009<br />
•	Special Mention for Exploration of Medium – The First Asia Africa International Film Festival 2010<br />
•	Nominasi Film Dokumenter Terbaik &#8211; Malang Film Video Festival 2010<br />
•	Seleksi Non Kompetisi &#8211; Festival Film Purbalingga 2009<br />
•	Seleksi Non Kompetisi &#8211; 3 Cities Film Festival 2010</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Detensi </strong>(2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Gambar Darurat | DV | Fiksi | 8 Menit | Sutradara, Penulis, Produser : Jason Iskandar | Pemeran : Made Perwira &amp; Rayestu Abdulrachman<br />
Hukuman mengepel toilet dan dongeng klise tentang kepala sekolah.<br />
•	Seleksi Kompetisi &#8211; Tawuran! Festival Film Pendek Pelajar<br />
•	Seleksi Non Kompetisi &#8211; Europe on Screen (Festival Film Eropa) 2009 &#8211; November 2009</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Cheat Chat Bingo</strong> (2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Gambar Darurat | DV | Dokumenter | 30 Menit | Sutradara, Penulis, Produser : Jason Iskandar<br />
Film dokumenter yang menelisik kecenderungan menyontek di SMA Kanisius, serta resiko yang harus ditanggung.<br />
•	Seleksi Non Kompetisi &#8211; Festival Film Pendek Konfiden 2009<br />
•	Nominasi Film Dokumenter Terbaik (Kategori Pelajar) &#8211; Festival Film Dokumenter 2009<br />
•	Seleksi Non Kompetisi &#8211; Festival Film Purbalingga 2010<br />
•	Seleksi Kompetisi &#8211; Malang Film Video Festival 2010</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Territorial Pissings </strong>(2010)</p>
<p style="text-align: justify;">Gambar Darurat | HD | Fiksi | 7 Menit | Sutradara &amp; Penulis : Jason Iskandar | Produser : Florence Giovani | Pemeran : Yovita Ayu &amp; Deo Grasianto</p>
<p style="text-align: justify;">Sepasang remaja terbangun dari tidurnya saat beristirahat dalam perjalanan menuju ke luar kota. Mereka akan melanjutkan perjalanan, namun percakapan terjadi antara mereka dengan sekelilingnya, yang membuat perjalanan mereka tertunda untuk beberapa saat.</p>
<p style="text-align: justify;">•	Film Pendek Asia Terbaik (Blencong Award) – Jogja-Netpac Asian Film Festival 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitasfilm.org/2011/02/jason-iskandar-setahun-produksi-tak-lebih-dari-dua-film/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peraih Piala Citra 2010 Kandas di JAFF</title>
		<link>http://komunitasfilm.org/2011/01/peraih-piala-citra-2010-kandas-di-jaff/</link>
		<comments>http://komunitasfilm.org/2011/01/peraih-piala-citra-2010-kandas-di-jaff/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Jan 2011 21:16:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KF.ORG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Download Naskah Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film di Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Film Alternatif]]></category>
		<category><![CDATA[Film Fiksi Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Film Indie]]></category>
		<category><![CDATA[JAFF 2010]]></category>
		<category><![CDATA[Jason Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[jihad Adjie]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Narimo]]></category>
		<category><![CDATA[Kelas 5000-an]]></category>
		<category><![CDATA[Tehran Witout Permission]]></category>
		<category><![CDATA[Territorial Pissings]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitasfilm.org/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[YOGYAKARTA &#8211; Perhelatan Jogja-Netpac Asian Film Festival 2010 baru saja usai (30/12), namun kejutan terjadi dalam sesi kompetisi. Film Tehran without Permission (Sepideh Farsi) asal Iran berhasil menyabet tiga penghargaan sekaligus, yakni Netpac Award, Geber Award dan mendapat Special Mention dari para juri. Film yang hanya menggunakan kamera handphone itu mampu memikat para juri untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-264" title="Tehran without Permission" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/04/Tehran-without-Permission.jpg" alt="" width="480" height="683" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>YOGYAKARTA</strong> &#8211; Perhelatan <strong>Jogja-Netpac Asian Film Festival 2010</strong> baru saja usai (30/12), namun kejutan terjadi dalam sesi kompetisi. Film <strong>Tehran without Permission</strong> (Sepideh Farsi) asal Iran berhasil menyabet tiga penghargaan sekaligus, yakni Netpac Award, Geber Award dan mendapat Special Mention dari para juri.</p>
<p style="text-align: justify;">Film yang hanya menggunakan kamera handphone itu mampu memikat para juri untuk memilihnya. Adrian Pasaribu, Joko Narimo dan Elora Rini yang mewakili juri dari komunitas film, misalnya, memilihnya karena metode produksinya yang tanggap dengan situasi sekarang. Dalam jangka pendek, ia dapat diwujudkan oleh komunitas film di Indonesia. Dalam jangka panjang, ia dapat memantik perkembangan film di kalangan komunitas. &#8220;Isu yang diangkat oleh Tehran without Permission sangat tajam. Hal teknis menjadi bisa dikesampingkan,&#8221; terang Joko.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Blencong Award</strong><br />
Kejutan lain adalah kalahnya peraih Piala Citra Festival Film Indonesia 2010 Kategori Film Pendek, <strong>Kelas 5000-an</strong> karya Jihad Adjie. Pada sesi Program Kompetisi Film Pendek Light of Asia, Kelas 5000-an tidak bisa menyaingi film <strong>Territorial Pissings</strong> karya Jason Iskandar.</p>
<p style="text-align: justify;">Varadila, Ika Krismantari dan Bayu Bergas yang menjadi juri Light of Asia, memenangkan film berdurasi 7 menit ini karena mampu menyampaikan gagasan yang besar dan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari lewat penyampaian yang sederhana. Dewan juri juga membuat penilaian berdasarkan pencapaian sinematografis yang sangat layak dan bahwa film ini lahir dari sutradara muda yang memiliki potensi sangat besar untuk bisa berprestasi di Asia dan internasional. <em><strong>(GS/KF.ORG)</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitasfilm.org/2011/01/peraih-piala-citra-2010-kandas-di-jaff/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

