<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KOMUNITASFILM.ORG</title>
	<atom:link href="http://komunitasfilm.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://komunitasfilm.org</link>
	<description>Kantor Berita Online Komunitas Film Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Mar 2012 08:20:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Film Dokumenter &#8220;Negeri di Bawah Kabut&#8221; Keliling Indonesia</title>
		<link>http://komunitasfilm.org/2012/03/negeri-di-bawah-kabut-keliling-indonesia/</link>
		<comments>http://komunitasfilm.org/2012/03/negeri-di-bawah-kabut-keliling-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Mar 2012 08:09:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KF.ORG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Film Dokumenter]]></category>
		<category><![CDATA[Film Negeri di Bawah Kabut]]></category>
		<category><![CDATA[Film The Land Beneath The Fog]]></category>
		<category><![CDATA[Film Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Film Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Shalahuddin Siregar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitasfilm.org/?p=640</guid>
		<description><![CDATA[Akan diputar di 16 kota di Indonesia : Semarang, Solo, Yogyakarta, Salatiga, Bandung, Purbalingga, Purwokerto, Surabaya, Malang, Jember, Denpasar, Palu, Makassar, Banda Aceh, Medan, dan Padang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-641" title="The Land Beneath The Fog" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2012/03/jpg" alt="" width="610" height="342" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>KF.ORG &#8211; YOGYAKARTA.</strong> Setelah diputar di Dubai, Singapore dan Jakarta, film dokumenter Negeri di Bawah Kabut akan diputar di 16 kota di Indonesia : Semarang, Solo, Yogyakarta, Salatiga, Bandung, Purbalingga, Purwokerto, Surabaya, Malang, Jember, Denpasar, Palu, Makassar, Banda Aceh, Medan, dan Padang. Kota pertama yang akan disinggahi adalah Semarang, dimana film ini akan diputar di Ruang Teater Fisip Universitas Diponegoro pada tanggal 3 April 2012 pukul 15.00 WIB.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Shalahuddin Siregar, sutradara film Negeri Di Bawah Kabut, pemutaran keliling ini ditujukan untuk menjadikan film ini sebagai bahan diskusi dan pembelajaran terhadap bentuk lain dalam film dokumenter di Indonesia. “Supaya ke depan film dokumenter Indonesia tidak terjebak pada gaya jurnalistik televisi saja,” ujar Udin, sapaan akrab Shalahuddin Siregar.</p>
<p style="text-align: justify;">Negeri Di Bawah Kabut dikembangkan dan diniatkan untuk memberikan tawaran bentuk lain dalam membuat film dokumenter. Dengan pendekatan observasional, film ini mencoba keluar dari bentuk jurnalistik televisi dan lebih mengedepankan bahasa gambar. “Cerita tidak melulu disampaikan dengan informasi verbal, tetapi lebih mengedepankan emosi dan keintiman antara penonton dengan protagonis film ini, supaya penonton merasa dekat dan terlibat dalam persoalan yang sedang dihadapi oleh protagonis,” ungkap Udin.</p>
<p style="text-align: justify;">Film Negeri Di Bawah Kabut bercerita mengenai 2 keluarga petani di Lereng Gunung Merbabu yang menghadapi perubahan tanpa mengerti alasannya. Sebagai komunitas petani yang mengandalkan sistem kalender tradisional Jawa dalam membaca musim, mereka dibuat bingung oleh musim yang sedang berubah. Akibatnya adalah ancaman gagal panen dan harga jual yang terlalu murah.</p>
<p style="text-align: justify;">Keseluruhan film ini dibuat dalam kurun waktu lima tahun, dengan rincian 2 tahun riset, 2 tahun syuting dilanjutkan dengan 18 bulan untuk proses editing. Film Negeri Di Bawah Kabut pertama kali diputar di Dubai International Film Festival 2011 dan berhasil meraih Special Jury Prize.* <strong><em>(KF/DA)</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em><br />
</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Jadwal Pemutaran Bulan April 2012 </strong><br />
<table id="t2">
	<thead>
		<tr><th scope="col" class="t2" id="n1">Tanggal/Waktu</th><th scope="col" class="t2" id="n2">Kota</th><th scope="col" class="t2" id="n3">Venue</th></tr></thead>
	<tbody><tr class="table-alternate"> <td class="start">3 April 2012 15.00 WIB</td><td>Semarang, Jawa Tengah</td><td>Ruang Teater Fisip Universitas Diponegoro.</td></tr><tr><td class="start">4 April 2012, 19.00 WIB</td><td>Solo, Jawa Tengah</td><td>Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah</td></tr><tr class="table-alternate"> <td class="start">5 April 2012, 19.00 WIB</td><td>Yogyakarta</td><td>IFI / Lembaga Indonesia-Perancis (LIP), Yogyakarta.</td></tr><tr><td class="start">11 April 2012, 19.00 WIB</td><td>Purwokerto, Jawa Tengah</td><td>Cafe Tlapak Pabuaran</td></tr><tr class="table-alternate"> <td class="start">12 April 2012, 19.00 WIB</td><td>Purbalingga, Jawa Tengah</td><td>Cafe Pedhangan</td></tr><tr><td class="start">20 April 2012, 10.00 WIB</td><td>Salatiga, Jawa Tengah</td><td>Auditorium Fakultas Teknologi Informasi Universitas Satya Wacana</td></tr></tbody></table></p>
<p style="text-align: center;">Info:<br />
www.negeridibawahkabut.com<br />
negeridibawahkabut@gmail.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitasfilm.org/2012/03/negeri-di-bawah-kabut-keliling-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FFD 2011 &#124; Dokumenter Indonesia: Sejarah Pasca-Orde Baru</title>
		<link>http://komunitasfilm.org/2012/03/ffd-2011-dokumenter-indonesia-sejarah-pasca-orde-baru/</link>
		<comments>http://komunitasfilm.org/2012/03/ffd-2011-dokumenter-indonesia-sejarah-pasca-orde-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Mar 2012 21:20:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KF.ORG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Irawanto]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film di Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film Dokumenter]]></category>
		<category><![CDATA[Film Indie]]></category>
		<category><![CDATA[Hafiz Forum Lenteng]]></category>
		<category><![CDATA[Katinka van Heeren]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Film Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitasfilm.org/?p=622</guid>
		<description><![CDATA[Notulensi ini merupakan bagian kedua dari Diskusi &#038; Seminar Festival Film Dokumenter (FFD) 2011 yang mengetengahkan tema-tema menarik dalam perkembangan perfilman dokumenter Indonesia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #808080;"><strong>Pengantar Redaksi:</strong></span><br />
<span style="color: #808080;"> Dalam <a href="http://festivalfilmdokumenter.org/" target="_blank">Festival Film Dokumenter</a> (FFD) 2011 lalu, rangkaian program Diskusi Panel dan Seminar mengetengahkan beberapa tema menarik bagi perkembangan perfilman dokumenter tanah air. FFD dan KF memuat secara berseri notulensi presentasi dan forum dalam lima bagian. Pada bagian ini, bahasan “Dokumenter Indonesia: Sejarah Pascareformasi Orde Baru” kami muat sebagai seri kedua. Notulensi ini dikerjakan oleh Tim Festival Film Dokumenter (FFD) 2011. Selamat mengikuti.</span></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-627" title="Dokumenter Indonesia; Sejarah, Pasca Orde Baru" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2012/03/Dokumenter-Indonesia-Sejarah-Pasca-Orde-Baru-5.jpg" alt="" width="558" height="316" /></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Pembicara:</strong><br />
Hafiz (Forum Lenteng, Jakarta)<br />
Budi Irawanto (National University Of Singapore)<br />
Katinka Van Hereen (Peneliti, Belanda)<br />
<strong>Moderator:</strong><br />
Hatib Abdul Kadir (Etnohistori)<br />
<strong>Venue:</strong><br />
R. Seminar, Taman Budaya Yogyakarta<br />
<strong>Waktu:</strong><br />
8 Desember 2011| Jam 14.00 wib</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hatib:</strong> selamat pagi semuanya, pagi ini kita akan membincangkan tentang dokumenter Indonesia; sejarah, pasca Orde Baru. Karena selama ini tidak ada reformasi yang benar-benar terjadi di Indonesia. Kita mulai dari Hafiz dulu ya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hafiz:</strong> Apa yang berubah dari film dokumenter pasca reformasi? Tidak banyak yang berubah, sebagian kecil komunitas atau individu yg mencoba membuat sesuatu yang berbeda, tapi secara general tidak banyak yang berubah. Pada masa reformasi, kebebasan informasi terbuka lebar mendorong munculnya dokumenter dokumenter yang bersifat kolektif dan bermunculan komunitas komunitas film. Kita sebenarnya cukup berbangga karena di mata sejarah sinema dunia kita tidak ketinggalan. Ini adalah pijakan awal dalam memandang film indonesia, dari usmar ismail (PERFINI) yang sempat membuat film dokumenter tapi kita tidak bisa menemukan karya-karya mereka ini. Tidak hanya bicara peristiwa revolusi tahun 60-an tapi juga konteks kemanusiaan yang melingkupi.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana melihat pijakan dari dokumenter yang mulai marak di indonesia?. Itu terjadi semenjak berdirinya TVRI tahun 1962, Soekarno mendirikan tvri untuk asean games. Kemunculan TVRI pun sebenarnya merupakan proyek mercusuarnya Soekarno. Setelah itu muncul produksi dokumenter terutama untuk televisi yang konteksnya jurnalistik. Namun Dokumenter yang dihasilkan oleh televisi memiliki kecenderungan jurnalistik yang kuat. Dalam 10 tahun terakhir, Festival Film Indonesia (FFI) aktif kembali dan juga JIFFest (Jakarta International Film Festival) yang menghasilkan program script competition dan ada juga In Docs dengan Eagle Award yang kemudian menjadi salah satu program projek tahunan Metro TV, sebagai standar film dokumenter nasional. Ruang-ruang yang merespon ini, kemudian mulai menghasilkan pembuat film dokumenter yang mulai memberi warna berbeda dalam konteks dunia dokumenter yang semakin beragam saat ini. Namuan akhirnya masih banyak yang terjebak hanya dalam segi estetika atau framing dari sisi korban saja, hal tersebut menjadi dominan dalam dunia perfilman Indonesia 10 tahun terakhir.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelumnya pemerintah kolonial telah membuat film dokumentasi tentang kota-kota di jawa yang bisa ditemukan di museum di leiden. TVRI sebagai satu-satunya sumber untuk propaganda terutama setelah orde baru berdiri. Pada periode 1970-1980 an ada PUSKAT (Pusat Studi Katholik), Pertamina dan lembaga atau kelompok yang membuat tapi hanya sebagai advokasi atas isu-isu tertentu, kemunculannya pun tidak terlalu jauh dari frame yang sama. Itu terjadi sampai tahun 1990-an.</p>
<p style="text-align: justify;">Tema utama diskusi ini bagaimana dokumenter pasca reformasi? Dalam kondisi dengan keterbukaan pers, pertanyaannya adalah apakah masyoritas dokumenter kita adalah produk jurnalistik atau sarana propaganda pemerintah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada beberapa pembuat dokumenter pasca reformasi yang perlu di-high light, seperti; Lexy Rambadetta, Alwi Shihab. Tahun 1999 ada festival film pendek independen gaungnya sangat besar, perayaan keterbukaan pasca reformasi, perayaan inisiatif anak muda untuk membuat film. Namun hanya 5% dokumenter yang muncul dalam festival Konfiden (Festival Film Pendek Konfiden). Dokumenter bukan menjadi minat atau sesuatu yang menarik untuk anak muda, pada saat itu. Film dokumenter yang dihasilkan kebanyakan melupakan bahasa sinema, se-olah olah hanya menjadi proyek jurnalis, padahal seharusnya atau sebaiknya dokumenter kembali pada titah sinema. Walaupun dokumenter berasal dari konstruksi sosial yang faktual, namun seharusnya dokumenter membangun kenyataan pada ruang ruang yang berbeda. Hadirnya kompetisi dan festival film yang mulai memasukan dokumenter sebagai salah satu sesi atau pengkategorian, kemudian melahirkan pembuat film dokumenter seperti Ucu Agustin, misalnya. Komunitas juga memiliki peran yang penting, bagaimana relasi komunitas terbentuk dan relasi dengan industri yang pada akhirnya tidak terlalu berperan. Membangun ruang atau membangun budaya menonton atau penonton yang sebenarnya kekuatannya ada dalam komunitas komunitas tersebut. Mereka lebih konsisten, fokus, seperti FFD yang focus pada dokumenter.</p>
<p style="text-align: justify;">Pasca reformasi mulai menjamur TV swasta dengan stasiun yang memasukkan dokumenter sebagai program andalan (misal anak 1000 pulau). Anak 100 pulau merupakan dokumenter yang cukup memberi gambaran kepada anak muda karena penggarapannya memang bagus sekali dengan menjual eksotisme indonesia. Yang pada akhirnya, semua program TV menjadikan dokumenter sebagai hiburan. Dan mulai berdatangan pembuat film dokumenter dari luar, seperti Leonard (Rettel Helmrich) yang menjadikan seseatu yang berhubungan dengan Indonesia, sebagai isu yang oke.</p>
<p style="text-align: justify;">Situasi dokumenter indonesia sekarang? Tahun 1970-an pernah ada yang menulis bahwa dokumenter kita terjebak pada ortodoksi, sesuatu yang tidak bisa berubah. Salah satunya adalah karena keterbatasan dalam ber-eksperimen menggunakan bahasa audio visual. Merumuskan apa itu dokumenter jaman sekarang masih terjebak dalam mengemas informasi saja layaknya pemberitaan di media massa. Dalam sebuah buku Bill Nichol mengatakan bahwa ada 6 kemungkinan film dokumenter yaitu poetik, ekspositori, partisipatori, refleksif, performatif. Tidak ada usaha eksperimentasi lebih jauh yang memberikan ruang lebih besar untuk interpretasi mengenai sebuah subjek.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah wawancara (yang pernah dilakukan Forum Lenteng) dengan Abduh Aziz yang mengatakan bahwa dokumenter kita terjebak dalam stigma korban, bahwa yang diangkat hanya yang jelek-jelek saja. Semua hal yang merujuk pada hal negatif itu lebih menarik bagi para pembuat dokumenter di tahun itu. Memang kita terjebak dalam konteks bagaimana jurnalisme bekerja, bad news is a good news, yang menjadi cara pandang terbesar bagi para pembuat dokumeter di indonesia. Dalam konteks lain, tidak masalah mengenai para pembuat dokumenter yang berbicara mengenai hal negatif, namun bagaimana mengemasnya dengan lebih eksperimental dan objektif. Dokumenter indonesia semakin jauh dari sejarahnya sendiri, yaitu sinema dan berhenti sebagai produk jurnalistik. Film dokumenter merekam kenyataan dengan objektif dan ditampilkan dengan interpretasi pembuatnya dan membangun kenyataan baru. Itulah sinema.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana dokumenter dilihat dengan kemungkinan eksperimentasinya?. Sebagian dari kita melihat dokumenter sebagai produk informasi, padahal sifatnya activisms yang berhubungan langsung dengan eksperimentasi sehingga film dokumenter banyak berkolaborasi dengan festival film eksperimental. Yang paling penting dari festival film adalah bagaimana wilayah activism itu tidak melulu direct namun juga ada di wilayah sinema atau estetikanya. Jujur saja memang dengan adanya komunitas seperti Kampung Halaman, Forum Lenteng, Komunitas Dokumenter sebagai harapan agar perkembangan dokumenter indonesia menjadi lebih baik dari sekarang.  FFD menjadi pemain utama dalam memajukan dokumenter di indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Dokumenter mulai bekerja menjauh dari sinema, terutama di indonesia. Saya ingin memerlihatkan film dokumenter eksperimental A Man, A Road and A River (5 min) yang menggambarkan seorang laki laki yang menerobos jalan yang di genangi air banjir. Film ini memberikan interpretasi yang berbeda beda dan mengunakan bahasa yang sangat sederhana, hanya dengan satu shot namun bisa menginspirasi banyak orang.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Budi Irawanto:</strong> 10 tahun setelah reformasi ada tiga kompilasi penting, yaitu proyek Payung 9808, Tales of Jakarta, dan Project Change (At Stake). Dari film film finalis FFD, saya sempat melakukan riset untuk melihat isu tentang keberagaman itu bagaimana dilihat oleh film dokumenter kita. Menggunakan analisis isi dengan melihat scene sebagai kesatuan gagasan atau ide yang penting. Sekitar 800-an scene yang bisa dihitung dari 70-an film yang akan dilihat. Persentase identitas lebih sedikit dibanding persentase religi. Tetapi konstruksi ideologi masih berkutat dalam harmoni, layaknya pandangan Orde Baru. Proses dokumenter di Indonesia masih belum ada perubahan dalam kepala pembuat film, konfilk konfliknya kurang dimunculkan, semisal; film dengan tema penduduk asli atau religi, padahal itu merupakan isu utama. Padahal dokumenter juga berperan dalam mengedukasi imaginasi.</p>
<div id="attachment_629" class="wp-caption aligncenter" style="width: 568px"><img class="size-full wp-image-629 " title="9808" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2012/03/9808.jpg" alt="" width="558" height="325" /><p class="wp-caption-text">Salah satu adegan dalam Omnibus 9808: Sekolah Kami, Hidup Kami | Steve Pillar Setiabudi | 2008</p></div>
<p style="text-align: justify;">Argumen saya adalah film dokumenter belum sepenuhnya menjadi semacam edukasi tentang imajinasi untuk melihat tentang batas perbedaan di indonesia. Bagaimana film dokumenter tidak hanya berhenti sebagai dokumentasi atau perekaman faktualitas saja. Isu tentang keragaman dan isu tentang keberbedaan. Sudah disinggung bahwa era Orde Baru sudah mempromosikan keragaman, terutama keragaman yang selebratoris, yang patut dirayakan tanpa melihat bahwa ada masalah dalam keragaman itu. Keragaman dilihat sebagai sesuatu yang apolitis dan cenderung tidak berbahaya, padahal sebenarnya mernyimpan potensi-potensi konflik.</p>
<p style="text-align: justify;">Film dokumenter memiliki potensi dan kapasitas untuk mengangkat fakta keberbedaan dan keragaman yang besar. Dari hasil analisis, ditemukan gejala yang menarik dari 832 scene yang dicoba di-kuantifikasi isu identitas muncul 26,4 persen. Yang menarik dari ini bahwa ketika bicaratentang identitas, paling tidak secara visual dan dialog lebih banyak didasarkan pada etnisitas (59,2 %), ketimbang agama (38, 82 %). Tapi konflik tidak banyak muncul. Itu menjadi hal yang menarik.</p>
<p style="text-align: justify;">Setidaknya dari film finalis FFD, identitas menjadi perkara penting setelah reformasi (2002-2007). Etnisitas dipakai untuk menandai identitas ketimbang agama. Konflik tidak hadir karena ideologi tentang harmoni masih mewarnai para pembuat film dokumenter kita. Keragaman tidak dilihat dari impilkasi dan konsekuensinya. Kita juga melihat bagaimana variasi dibuat, dilihat dari wilayah mana. Film lain di luar finalis FFD, para pembuat film mulai gelisah untuk melihat reformasi steah 10 tahun ini. Mereka cukup pesimis dalam melihat perubahan pasca reformasi setelah 10 tahun ini. Memori tentang reformasi, perubahan terjadi pada aktivisnya bukan perubahan sosial secara umum. Problem tentang keberbedaan ini menjadi tantangan utama yang akan dihadapi oleh film-film dokumenter mendatang.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum ada perlakuan kreatif terhadap beberapa fakta, mungkin karena pendekatan yang alamiah. Film dokumenter belum cukup memantik imajinasi sebagai daya menggerakkan massa atas dasar keberbedaan. Kecnderungan yang bersifat deduktif dan normatif sehingga film dokumenter tidak lagi memiliki daya gugah (persuasi).</p>
<p style="text-align: justify;">Fim dokumenter pasca reformasi lebih banyak bergulat tentang politik identitas yang akan menjadi tantangan. Beberapa sering terbatas pada eksposisi mengenai perbedaan tapi implikasi atau konsekuensinya belum banyak dibahas. Fim dokumenter bisa menjadi proses edukasi terus menerus terhadap imajinasi mengenai seberapa jauh perbedaan itu dan impilkasinya. Di sini posis film domumenter menjadi sangat penting dan strategis.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><img class="size-full wp-image-624 alignright" title="Katinka" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2012/03/Katinka.jpg" alt="" width="165" height="200" />Katinka Van Hereen:</strong> Penonton di Indonesia, trauma dengan film dokumenter, selian dianggap sebagai propaganda yang terkesan membosankan dan cenderung monoton. Gaya yang monoton dan tidak berkembang karena mengulangi pakem justru membuatnya membosankan. Persoalan estetika, misalnya film Anak 1000 Pulau indah secara visual, namun juga terkesan “menjual” karena banyak sponsor. Banyak yang bagus secara visual namun tidak ada isinya. Pasca orde baru mulai muncul film dokumenter yang mengambil posisi subjek yang termarjinalkan, bersifat politis, untuk membuka kesalahan-kesalahan orde baru. Film Sebagai media advokasi (yang dilakukan Lexy Rambadetta,  Aryo Danusiri) yang fokus pada korban orde baru dan menyoroti masalah ketika orde baru. Dan banyak film yang masih terjebak dengan konstruksi yang sangat stereotype, padahal masih banyak hal yang bisa di gali di luar dari itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kritik terhadap film pasca orde baru sebenarnya tidak hanya stigma korban tapi juga pola yang sama. Banyak film yang masih terlalu terbatas terhadap pakem yang digunakan sebelumnya. Bahwa dalam dokumenter membutuhkan proses storytelling yang menjadi kekuatannya.  Dari pengalaman saya menjadi juri di FFD, film film yang masuk masih terbilang biasa biasa saja, masih sama dengan dokumenter NGO, propaganda dan jurnalistik, sehingga belum banyak dokumenter yang keluar dari pakem pakem tersebut. Namun semakin lama, juga banyak variasi film yang muncul dalam FFD. Mungkin secara visual kurang bagus, tapi cerita yang diketegahkan bagus. Dokumenter is a storytelling.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak perbedaan pendapat dari para filmmaker mengenai dokumenter yang bagus. Ada yang masih berpikir harus berpatokan pada pakem (baik dari segi visual maupun prosedural), namun ada juga yang berpendapat bahwa dokumenter yang baik ada pada ceritanya (story). Di FFD banyak yang bisa lepas dari pakem itu, sehingga menjadi pembeda. Penontonnya juga berbeda karena yang datang bukan penonton pada umumnya. Masalahnya dalam storytelling, banyak film yang berpikir bahwa dokumenter harus menyampaikan pelajaran atau hal hal yang sifatnya edukatif. Hal ini bisa membuat film itu terkesan sebagai sebuah pesanan dari funding atau lembaga lainnya yang berkepentingan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya indonesia tidak banyak berbeda dengan negara-negara lain. Di luar negeri, dokumenter bisa laku karena sudah bosan dengan film-film fiksi pada umumnya. Hanya saja yang membedakan di Indonesia adalah stigma dokumenter yang dianggap membosankan masih cukup kuat, dan di luar negeri dokumenter merupakan tontonan alternatif, disini saya kira Indonesia masih punya PR yang panjang. Leonard (Rettel Helmrich) yang membuat dokumenter mengenai trilogi indonesia baru mendapat award internasional. Dia berhasil dari segi storytelling dan juga visual.  Dengan torytelling, we are making statement.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanya Jawab</strong><br />
<strong>Zaki:</strong> posisi penonton film dkumenter dalam peta besar sejarah dokumenter di indonesia? Belum pernah mennemukan film yang melihat posisi penonton film dokumenter di indonesia. Karena itu adalah hal yang penting untuk memetakan sejarah film dokumenter. Sejauh mana itu ditelusuri atau ditulis?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jawab:</strong> Dalam konteks film, posisi penonton kita sangat cair, tidak ada pemilahan posisi yang sangat spesifik. Setelah tahun 1990-an hampir tidak ada penonton film indonesia. Setelah reformasi, ada festival festival dan komunitas komunitas baik independen maupun kampus yang memicu penonton untuk membuat filmnya sendiri yang kemudian akan membentuk penonton baru dan membuat kantung kantung supaya penonton Indonesia kembali muncul.</p>
<p style="text-align: justify;">Pernah ada riset tentang penonton dengan basis trend di bioskop Jakarta. Yang menarik adalah anak muda terutama di jakarta, bagi mereka menonton film adalah hal yang keren dan trendi. Film apapun akan mereka tonton, terutama yang bahasa indonesia sehingga film apapun bisa cukup laku. Tapi kalau kita melihat film yang lebih spesifik, seperti film eksperimental, hampir tidak ada. Kine Forum yang memajang program film film dokumenter di Jakarta juga sempat tidak berpenonton, biarpun ruang ruang semacam 21 juga digunakan. Dokumenter di Indonesia berhenti pada tahap liburan, konsumtif dan belum masuk ke ranah yang lebih dalam lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Komunitas film kita tidak membentuk penonton. Penonton dilempar ke rimba raya untuk memilih sesuatu yang hanya ada di level hiburan saja.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Laras:</strong> Saat membayangkan dokumenter yang terbayangkan adalah kerja jurnalistik kerena yang dibutuhkan adalah faktualitas data. Berarti kerja sineas dokumenter dan jurnalis relatif sama. Bagaimana mengkompromikan dokumenter yang lebih eksperimental dengan alur cerita yang lebih nyaman dan juga faktualitas data?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jawab:</strong><br />
<strong><img class="alignleft size-full wp-image-628" title="Hafiz" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2012/03/Hafiz.jpg" alt="" width="179" height="200" />Hafiz: </strong>Nichols pernah menulis 6 gaya dokumenter. Fenomena dokumenter dalam konteks sejarah tidak bergeser karena masih terhenti pada bagaimana mengemas informasi saja. Sedangkan dalam sejarahnya, Lumiere bekerja untuk men-dokumentasi-kan. Jadi awal sinema adalah dokumenter, sifatnya dokumentatif. Tapi dalam perkembangannya film ada yang berbasis dokumentasi, tapi juga ada yang fiksi. Bagaimana mengimajinaksikan fakta tersebut menjadi sinema. Film adalah salah satu produk kebudayaan sinema.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada dokumenter yang tanpa storytelling tapi membuat puzzle dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada penonton. Yang menarik adalah karena film tersebut hanya menyajikan flas-flash tanpa dialog dan narasi, sehingga kekuatan utama ada pada visual. Tapi dia disiplin dengan bahasa sinema.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang masih menjadi titik lemah di indonesia adalah pemahaman mengenai bahasa sinema, berhenti pada jurnalistik saja, ini termaklumi karena terbatasnya sarana serta infrastruktur yang kurang untuk menjadi pusat edukasi. Pada akhirnya dokumenter berkembang menjadi imaji fakta fakta mengenai sebuah peristiwa. Dokumenter juga bukan hanya sebagai media dokumentasi, karena secara jurnalistik ketika kita lebih mengetengahkan suatu isu pasti ada posisi yang menyertainya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Katinka: </strong>Storytelling itu bukan fiktif. Fakta yang diangkat bersifat subjektif, misal karena terpengaruh dari kosakata yang dipilih, dan dari penyampaian visual. Fakta tidak bisa berdiri sendiri, kita harus merangkainya. Bedanya dengan rekaman, diwujudkan cerita yang lebih luas. Berbeda antara dokumentasi dan dokumenter. Dokumentasi hanya gambar tanpa cerita. Tapi dokumenter adalah cerita dari sekumpulan dokumentasi itu. Yang menjadi masalah adalah storytelling, bagaimana men-deliver pesan dengan semenarik mungkin tapi tidak luput dari dokumentari.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Iwan:</strong> Sekedar merespon saja, dalam proses penjurian atau kurasi yang dilakukan oleh FFD terdiri dari beberapa kali proses seleksi; pemilihan administratif, penjurian madya, yang dilakukan oleh teman teman dari FFD sendiri dan mengundang beberapa teman sebagai juri untuk menentukan film finalis serta penjurian final untuk menentukan terbaik dan  penjurian komunal. Dari film film yang masuk tadi, kita memang mengalami kecenderungan yang sama, yaitu framing jurnalistik. Tema tema yang muncul juga tidak jauh jauh dari budaya dan masih sama dari tahun tahun sebelumnya. Kita belum menemukan ideologi atau pandangan yang beragam dari film film yang masuk di program kompetisi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Akbar:</strong> Saya tidak begitu setuju mengenai periodisasi sejarah film yang berdasarkan pada politik. Seharusnya film bisa mandiri untuk membangun sejarahnya. Media indonesia jatuh tidak menganggap bahwa film itu punya bahasa yang mandiri yang memiliki tesis dan keluar dari analisis sosial politik atau sejarah manapun. Dokumenter di orde baru menjadi perpanjangan tangan dari apa yang ada di media umum. Sangat tidak fair jika media analisis digunakan untuk membaca dokumenter.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jawab:</strong><br />
<strong> Budi:</strong> Setuju bahwa film adalah derivasi. Itu menarik untuk melihat bahwa problemnya tidak hanya di film tapi juga di sastra kita dengan periodisasi. Kita cenderung menggunakan sejarah sosial politik sebagai landasan. Itu bisa kita persoalkan. Kita harus kritis dengan pemakaian kategori-kategori tersebut yang kebanyakan hanya kita terima begitu saja. Sebenarnya kategori ini perlu dikritisi lagi yang memungkinkan munculnya kategori baru. Film sebagai bahasa yang mandiri dan dalam proses sejarahnya juga ada banyak perdebatan, mulai dari film bisu sampai ke film bersuara lalu masuknya film berwarna dari film hitam putih.  Dalam masa film bisu yang bertumpu pada visual sebagai bahasa yang murni. Namun ketika muncul era audio dan warna dianggap mengubah konsepsi film yang ada di era sebelumnya. Dan hal tersebut terelasi dengan kemnculan bahasa bahasa visual yang baru, dengan eksperimentasi yang menjadi tulang punggung sinema (dengan teknologi juga).</p>
<p style="text-align: justify;">Proses kemajuan film yang panjang itu juga hasil dari eksperimentasi. Kemudian treatment terhadap fakta-fakta, fim dokumenter adalah perlakuan kreatif atas faktualitas, penekanan pada “treatment” atau perlakuan yang menjadi isu perdebatan yang seringkali sulit didamaikan. Intervensi yang dilakukan filmmaker juga menyangkut dimensi lain dari film dokumenter, yaitu ethic. Persoalan etika hanya muncul dalam dokumenter dan tidak begitu berlaku di ranah film fiksi. Dan mengenai partisipatoris, menurut saya adalah, bagaimana melibatkan kelompok agar tidak hanya menjadi objek tangkapan kamera, namun juga ada di balik kamera.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-626" title="Dokumenter Indonesia; Sejarah, Pasca Orde Baru" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2012/03/Dokumenter-Indonesia-Sejarah-Pasca-Orde-Baru.jpg" alt="" width="558" height="372" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Zaki:</strong> Penting mencatat siapa sebenarnya generasi pembuat film dokumenter indonesia sekarang? Ternyata generasinya tidak berubah, yaitu generasi yang dibangun bersama dengan memori kolektif yang dibangun dalam memori besar. Jangan-jangan pelaku semua ini masih tergerus memeori kolektif yang sudah dibangun sejak lama, misal oleh orde baru, mengenai ideologi harmoni? Mari kita lihat apakah memori kolektif yang sudah mengakar menjadi warna yang menentukan dalam film dokumenter saat ini?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hatib:</strong> Kalau saya juga boleh bertanya, apa sebenarnya catatan positif dari film dokumenter pasca orde baru?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jawab:</strong><br />
<strong> Hafiz:</strong> Oke, mengenai siapa generasi pembuat film documenter Indonesia. Ini terkait dengan relasi sosial dan juga soal jenis-jenis film dokumenteter. Generasi pembuat film dokumenter saat ini: saya. Saya membuat tembok dengan industri film sendiri. Saya sudah 20 tahun melakukan studi tentang film. Kita adalah produk dari orde baru. Kita kehilangan akses pengetahuan mengenai film, sejarah media, dll. Ini adalah persoalan. Penggolongan generasi pada sebuah trend, dimana industri masuk pada arus ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Persoalan di film kita adalah bagaimana produksi dan akses pengetahuan perfilman itu sendiri. Industri film kita yang marak saat ini hanyalah efek bubble yang dimotori oleh kerja komunitas. Mungkin saja hilang tidak lama lagi. Kalau konstruksinya benar, mereka akan jauh tahan banting dibanding dengan mereka yang ada di industri film kita saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Budi:</strong> Permasalahan generasi merujuk kepada pandangan ideologi. Seperti apa posisi politik dari pembuat film dokumenter yang di luar komunitas tertentu membuat film? Representasi yang muncul dari foto itu sendiri tidakkah mewakili mata yang sebenarnya? Jebakannya ada dua, kita bisa sangat eksotis menjadi orang luar. Sebaliknya, orang dalam bisa menganggap bahwa apa yang di dalam adalah yang penting. Akan sangat baik jika pembuat film menjelaskan secara eksplisit mengenai posisinya dalam filmnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam memori kolektif, ada proses “pelupaan” massal bukan hanya “mengingat” saja. Sinema indonesia bisa saja mereproduksi memori sosial yang dibawa dalam agama, pendidikan, dll. Akses pengetahuan yang hilang di orde baru, tidak hanya pengetahuan perfilman tapi juga pengetahuan mengenai demokrasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal hal positif yang perlu dicatat setelah reformasi, apa yang kita takutkan pada masa orde baru menjadi bisa keluar semua. Kita juga perlu kembali belajar mengeja lagi bahasa-bahasa film yang sebelumnya direpresi ketika orde baru. Katinka juga menegaskan ketakutannya akan generasi tadi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Katinka:</strong> sulit membicarakan mengenai generasi pembuat film dokumenter. Tadi disebutkan pembuat film dokumenter sudah out of the box, tidak ada pembuat dokumenter film TV yang tidak disebutkan. Apakah pikiran orde baru benar-benar sudah tidak merasuk dalam generasi dokumenter saat ini? Tidak pas jika kita mengkategorikasikan sesuatu dengan ketat, karena pasti akan ada pengecualian di dalamnya. Ini bukan masalah indonesia saja, pasti ada perlawanan terhadap big power.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hatib:</strong> Oke, sepertinya harus kita sudahi sekarang ini, sudah jam 12.30 dan nanti akan ada sesi 2 lagi, terima kasih banyak atas diskusi kita pagi tadi hingga siang ini. waktu akan saya kembalikan ke panitia.</p>
<p style="text-align: center;">**</p>
<p>* Foto-foto Dokumentasi oleh Tim Festival Film Dokumenter 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitasfilm.org/2012/03/ffd-2011-dokumenter-indonesia-sejarah-pasca-orde-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FFD 2011 &#124; Relasi Kuasa dalam Dokumenter dan Dilema Representasi</title>
		<link>http://komunitasfilm.org/2012/03/ffd-2011-relasi-kuasa-dalam-dokumenter-dan-dilema-representasi/</link>
		<comments>http://komunitasfilm.org/2012/03/ffd-2011-relasi-kuasa-dalam-dokumenter-dan-dilema-representasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Mar 2012 10:01:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KF.ORG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Aryo Danusiri]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film di Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film Dokumenter (FFD)]]></category>
		<category><![CDATA[Film Dokumenter]]></category>
		<category><![CDATA[Film Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Film Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Rahung Nasution]]></category>
		<category><![CDATA[Rhieno Arifiansyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitasfilm.org/?p=610</guid>
		<description><![CDATA[Diskusi &#038; Seminar Festival Film Dokumenter (FFD) 2011 mengetengahkan tema-tema menarik bagi perkembangan perfilman dokumenter. KF memuat berseri notulensi forum dalam lima bagian.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #808080;"><em><strong>Pengantar Redaksi:</strong></em></span><br />
<span style="color: #808080;"> Dalam <a href="http://festivalfilmdokumenter.org/" target="_blank">Festival Film Dokumenter (FFD)</a> 2011 lalu, rangkaian program Diskusi Panel dan Seminar mengetengahkan beberapa tema menarik bagi perkembangan perfilman dokumenter tanah air. FFD dan KF memuat secara berseri notulensi presentasi dan forum dalam lima bagian. Pada bagian ini, bahasan &#8220;Relasi Kuasa dalam Dokumenter dan Dilema Representasi&#8221; kami muat sebagai seri pertama. Notulensi ini dikerjakan oleh Tim Festival Film Dokumenter (FFD) 2011. Selamat mengikuti.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #808080;"><br />
</span></p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-611 aligncenter" title="Relasi Kuasa FFD 1" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2012/03/Relasi-Kuasa-FFD-1.jpg" alt="" width="470" height="192" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pembicara:</strong><br />
Aryo Danusiri (Ragam Media)<br />
Rahung Nasution (JAVIN)<br />
Rhino Ariefiansyah (Pusat Kajian Antropologi UI)<br />
<strong>Penanggap:</strong><br />
M. Zamzam Fauzanafi (Antropologi UGM)<br />
<strong>Moderator:</strong><br />
Ngurah Suryawan (Etnohistori)<br />
<strong>Venue:</strong><br />
R. Seminar, Taman Budaya Yogyakarta<br />
<strong>Waktu:</strong><br />
9 Desember 2011, Jam 10.00 wib</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>SESI PEMAPARAN</strong><br />
<strong>Rahung Nasution</strong> (Filmmaker Independen)<br />
Selamat pagi, Assalamualaikum, Saya ingin menceritakan pengalaman yang saya lakukan di Mentawai, merupakan proyek kolaborasi yang berangkat dari kecintaan terhadap tato, yang awalnya romantis tapi pada perkembangannya berkembang menjadi politis. Cara pandang dominan datang dari institusi pendidikan yang dipengaruhi kuat oleh cara pandang luar. Seperti halnya dalam memandang suku di Indonesia, pada awalnya bangsa luar memandang suku kita sebagai nobel savage (orang liar yang ramah). Di mentawai, orang-orang tidak tertarik dengan ajaran baru karena bertentangan dengan gaya hidup mereka yang masih kental dengan kebudayaan nenek moyang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika perang dunia terjadi di eropa, baru 10% orang mentawai yang di-Kristen-kan. Ketika Orde Lama, masih belum banyak terjadi, justru lebih banyak terjadi di masa orde baru, di mana banyak orang mentawai yang di-Kristen-kan atau di-Islam-kan. Masyarakat adat dibayangkan sebagai masyarakat feodalistik. Ini adalah cara pandang sesat, di mana masyarakat tribalistik belum terbentuk kelas sehingga berbeda dengan struktur feodalistik di jawa. Sekarang kehidupan tradisional di mentawai hanya terjadi di pedalaman pulau siberut, tidak ada lagi rumah kolektif yang juga digunakan untuk melakukan ritual adat. Tato bisa menjadi sangat politis, sebagai sebuah statement, sebagai sikap politik terhadap peradaban modern.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam proses pembuatan dokumenter, kita datang sebagai orang asing untuk melihat kehidupan mereka yang eksotis. Misalnya saja, ethnic runaway. Cara pandang seperti ini dibangun lewat institusi pendidikan sebagai sumber akses pengetahuan dominan. Selain itu juga dari representasi dari internet. Kesan terhadap etnis terpengaruh dari wartawan, peneliti, dan sebagainya. Ini juga berpengaruh terhadap etnis mentawai sendiri, di mana mereka sadar bahwa mereka sebagai subjek eksotisme, sehingga pembuat dokumenter harus membayar bahkan untuk foto. Sulit karena ada rahasia mengenai makna tato yang tidak boleh dibuka kepada orang asing.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebudayaan merupakan sebuah interaksi dengan budaya dan perangkat lain. Jika perangkat ilmu pengetahuan tidak memanusiakan manusia, maka itu yang harus dilawan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Rhino Ariefiansyah</strong> (Kajian Antropologi UI)<br />
Selamat pagi menjelang siang, seperti Coki, saya dan beberapa teman Antropologi UI membuat proyek di indramayu, mencoba memulai kegiatan etnografi yang melibatkan medium visual tertauma video dan foto. Jika tadi Coki bilang tidak tahu menahu tentang antropologi, sebenarnya film atau pembahasannya tadi sangat etnografi, dengan masuk ke dalam wilayah komunitas yang dianggap menarik. Kerja etnografi yang melibatkan media visual sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Ada gaya dokumenter yang dipengaruhi oleh kerja kerja antropologi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tahun 30-an antropolog mulai melakukan pendokumentasian dalam bentuk foto dan film (mead dan suaminya di Bali), kemudian melakukan analisa terhadap fota dan film tersebut. Pada perkembangan berikutnya persoalan representasi dan kuasa mulai menjadi perhatian antropologi tahun 60-70-an, ada proyek yang memberikan kamera ke  komunitas, antropolog ingin melihat bagaimana komunitas tersebut menampilkan diri mereka sendiri dengan kemera. Persoalan soal representasi dan ototritas dalam menapilkan betuk representasi sudah terjadi di tahun 70-an. Hal tersebut dilakukan supaya komunitas tadi mampu menampilkan diri mereka. Buku Through Navajo Eyes, sebuah karya mengenai suku di Arizona Selatan. Antropolog memakai media film untuk menjelaskan mereka. Sebagai alternative model untuk melihat inside view. Kerja kolaboratif juga pernah dilakukan oleh Jean Rouch. Pemikiran mengenai kerja kolaboratif juga bukan kerja baru. Orang yang memfilmkan dan yang difilmkan adalah mitra.</p>
<p style="text-align: justify;">Di indramayu, kebutuhan akan dokumentasi sudah ada. Mereka ingin membuat tayangan yang komprehensif untuk merekam dengan detail apa yang disebut sebagai sains petani mengenai pemuliaan tanaman. Referensi banyak yang hanya menyebut petani sebagai perkerj petani saja dan bukan peneliti tani. Sekitar 4 bulan atau 9 bulan penelitian harus dilakukan untuk mengetahui proses pemuliaan tanaman para petani di Indramayu. Pada proses berkolaborasi, kami juga membuat workshop pengenalan terhadap fungsi kamera. Proses kolaborasi terjadi sampai proses editing. Di tengah jalan, proyek ini  mendapat pendanaan dari funding asing tapi harus ada bentuk pemberdayaan terhadap petani. Dengan melibatkan adanya pemberdayaan petani, kami membuat program bagaimana film itu di determinasi kan kepada petani, dengan membuat layar tancap dan diskusi di 13 kecamatan di indramayu. Dengan MoU mengenai kesepakatan untuk mendukung apa yang difilmkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ilustrasi (lihat gambar di malakah), ada moment perjumpaan dan refleksi yang terjadi berkali-kali sampai dengan pengambilan keputusan dalam proses kolaborasi. Seperti yang tadi dikatakan Coki tentang teknologi yang dibawa ke masyarakat sebagai objek penelitian. Kami sempat bingung mengenai penerapan pendekatan dan konsep seperti apa yang cocok untuk masyarakat disana, karena pendekatan partisipatoris ternyata tidak cocok diterapkan disana. Kemudian ada proses negosiasi antara peneliti dan subjek (masyarakat), baik dalam menentukan kerja praktis maupun bagaimana mereka akan direpresentasikan dalam proyek itu. Muncul konsep etnografi kolaboratif untuk menunjang negosiasi yang terjadi antara antorpolog dengan subjek. Mungkin itu bisa menjadi gambaran proses kolaborasi yang kami lakukan dengan etani di Indramayu. Itu dulu, terima kasih.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ngurah</strong> : Selanjutnya Aryo Danusiri. Lalu akan ditanggap secara keseluruhan oleh Zamzam.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><img class="alignleft size-full wp-image-612" title="Aryo Danusiri" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2012/03/Aryo-Danusiri.jpg" alt="" width="220" height="300" />Aryo Danusiri</strong> (Ragam Media)<br />
Oke, terima kasih banyak, kira kira yang akan saya bicarakan mengenai participatory filmmaking yang ampuh untuk mengemansipasi kaum marginal yang terbisukan oleh narasi besar selama rezim Orde Baru, dan sudah ramai dibicarakan sejak dulu. Partisipasi diangkat sebagai proses konkret untuk desentralisasi kuasa. Pengalaman saya dari partisipatoris tadi melihat para pelaku memperlakukan partisipasi sebagai black box, di mana ketika parsipatori dilaksanakan maka kaum marginal bisa bersuara. Kasus pertama tahun 2007, ketika saya mengikuti sebuah proyek di Aceh pasca tsunami. Saya diberi pengamatan soal keyword partisipasi. Proses rekonstruksi memakai pendekatan partisipatoris.</p>
<p style="text-align: justify;">Tahun 2002 melakukan worshop video komunitas di papua bekerja sama dengan NGO. Strateginya adalah untuk mengkombinasikan grup orang asing dengan pendatang. Setiap kelompok terdiri dari dua tipologi itu. Workshop berjalan seperti biasa, saya sebagai kepala sekolahnya. Papua sebagai korban dari politik jakarta yang banyak muncul dalam diskusi. Mereka justru concern dengan pikiran bahwa dengan stereotype korban maka beberapa keluarga di kampungnya yang tidak mau atu tidak setuju anak-anaknya sekolah karena di sekolah mengajarkan sejarah mengenai papua yang diproduksi oleh jakarta dan diajarkan di sekolah. Kelompok ini banyak di kritik karena mempertanyakan kembali arti pendidikan dan sejarah. Film menjadi alat diskusi bagi mereka sendiri untuk mencari mengenai apa yang bisa dilakukan dalam kondisi ini. Perbedaan tiga film itu dengan yang satu ini adalah bagaimana film menjadi media diskusi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tahun 2002 bicara sejarah dengan film investigatif dokumenter sangat populer. Maka banyak yang mengikuti gaya dokumenter TV seperti yang diproduksi oleh Metro TV. Film dokumenter yang digunakan untuk menyuarakan kaum marginal atau voiceless people dimana dalam mengklaim hak-hak mereka, ada proses idealisasi dan topologi. Berpikir kritis soal apa itu arti korban yang kemudian justru menjadi komoditi politik.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada masa sebelumnya proses kontrol penguasa lebih dilakukan dengan cara yang transparan lewat penjara atau sangsi sangsi tubuh atau sangsi yang sifatnya ketubuhan (Foucault). Problem dalam  antropologi adalah proses untuk bisa keluar dari perangkat pembendaan, idealisasi dari konsep atau subjek (native, masyarakat asli), yang pada tahun 1986 dikenalkan oleh Michael Feiser.</p>
<p style="text-align: justify;">Tahun 78 isu itu sudah dibahas oleh Johanes Fabian. Bahwa proses krono politik bisa dilihat dari politik visual. para the other (subjek) bisa menjadi menjadi subjek antro atau native karena mereka memiliki waktu yang berbeda, unik dan tidak memiliki sejarah. Tidak koheren mengenai pohon keluarga. Pohon kekerabatan sebagai kekerasan terhadap relasi dalam masyarakat, di mana tidak ada proses negosiasi atau kepaduan yang sama namun dibuat ke dalam bentuk visual dengan bagan sederhana oleh para antorpolog untuk memahami masyarakat primitif. Itu adalah kritik terhadap penggunaan visual atau bahkan bisa disebut sebagai iconophobia. Antropologi sebagai pengetahuan harus membuat argumen yang jelas serta pencitraan untuk memberikan ruang dan peluang interpretasi, yang (menurut Barthes) lebih dari sekedar tulisan. Mereduksi foto foto, membuat figure figure yang esensial. Foto portrait  banyak berkembang sampai pasca Perang Dunia II, ketimbang foto aktifitas.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau Rabino menyatakan begitu banyak etnografi lebih polyphonic, dialog antropolog dengan native. Tapi itu penting bagi Rabino, ia lebih focus pada idealisasi atau tipologi. Karena polyphonic atau dialog strategi dasarnya adalah dikotomi antropolog dengan subjek. Saran Rabino semacam menarik bagaimana melihat identitas Mentawai sebagai identitas yang belum selesai dan terus berubah. Kekuatan social politik yang besentuhan dengan mereka serta bentuk yang relasional.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya melihat ada persoalan sampai saat ini mengenai partisipatory video. Di satu sisi persoalan relasi kuasa dalam etnografi di satu sisi menciptakan iconophobia (phobia medium visual). Ada cerita dimana LSM di Thailand membawa native dalam konferensi di Jerman. Lalu ada antropolog dari kerajaan Thailand mengkritik habis-habisan antropolog dari LSM. Dimana lawannya tadi berusaha mengidealisasi native. Dari situ sebetulnya yang kemudian jadi persoalan adalah krisi representasi atau relasi kuasa malah menciptakan phobia medium visual. Padahal antroplolog sebenarnya bisa melakukan dan meruakan kesempatan untuk berinterpretasi yang kebanyakan hanya tertinggal di ruang diskusi. Diskusi juga masih terjebak pada bagaimana stakeholder harus bisa bernegosiasi untuk memunculkan teks yang koheren mengenai suatu masyarakat. Sebenarnya kita bisa merayakan interpretasi dan memberikan kepercayaan dan kesempatan pada penonton atau peserta untuk membuat kesimpulannya dan berinterpretasi sendiri. Ini adalah jebakan Plato’s Cave. Penonton itu pasif dan immobile, studi studi psikoanalisis atau semiotic terkerangkeng dalam sebuah gua yang gelap.</p>
<p style="text-align: justify;">Studi2 psikoanalisis atau semiotik itu kebanyakan terkerangkeng. Partsipatoris kan sifatnya relasional. Fasilitator tidak perlu helpfull. Kecenderungannya saat ini penerima bantuan hanya menjadi penonton belaka. Para Antropolog tidak perlu memaksakan subjek untuk bisa memahami agenda antropolog, karena definisi partisipatori itu situasional, relasional dan dinamis, akan berkembang selama proyek itu juga berkembang. Idenya adalah bagaimana di video komunitas itu antropolog bisa membuat film sendiri. Ditonton oleh komunitas dan bisa berdiskusi. Hasilnya penonton bisa bertanya2 dan gelisah. Itu jebakan yang menarik diakhir screening. Film justru menjadi retorika terakhir, dan bukan menjadi pemantik petanyaan bagi penonton. Penonton pulang dengan pernyataan dan bukan membuat pertanyaan. Ambisi membuat film adalah untuk membuat pertanyaan. Bukan pernyataan. Kita melakukan esensialisasi terhadap subjek dalam film itu. Saya kira itu, terima kasih.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>M. Zamzam Fauzanafi</strong> (Antropologi UGM)<br />
Diskusi ini sangat antropologis, menilik dari judulnya, Memeriksa Relasi Kuasa dalam Dokumenter dan Dilema Representasi. Apa yang dimaksud dengan relasi kuasa (lihat TOR dari panitia) ketika membuat film ada kesenjangan antara yang membuat film, subjek film, dan bahkan penontonnya. Dan kesenjangan apa yang sebenarnya dipersoalkan? Uang, alat? Sulit dikenali kerana sering diselesaikan dengan solusi teknis, misalnya meminjamkan atau pemberian alat (kamera). Proses ini terjadi secara terus-menerus. Kesenjangan ini bisa dijembatani dengan menyelaraskannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Misal tujuanya Rhino dan beberapa temannya yang penelitian di Indramayu, mengajak petani untuk mengenal media audio visual. Petaninya berharap bisa mengenalkan yang mereka kerjakan melalui media yang baru namun Rhino dan teman temannya tujuannya membuat riset akademik dengan mereka sebagai subjek, disitu pertemuan atau keselarasan terjadi. Lalu partisipasi itu apa? Apakah artian bahwa subjek berartisipasi pada project?. Partisipasi itu bukan saya terhadap mereka atau mereka terhadap saya, tapi lebih pada bagaimana menjalankan program bersama dan saling menyelaraskan. Kalau antagonism tadi belum selesai, ya buat saja film sendiri sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Coki, dengan media materialnya yaitu tato sebagai jembatan. Partisipasi lewat alat. Subjeknya dibayar dengan pantas, agar fair, daripada memaksa subjek untuk kepentingan komersil.</p>
<p style="text-align: justify;">Representasi itu apa? Soal perwakilan yang dibicarakan Plato, tentang ilusi yang terwakilkan. Melihat film jangan direduksi menjadi teks. Fungsi film itu untuk ditonton, bukan dibaca. Dalam membuat dokumenter jangan berpura-pura tidak memiliki pendekatan. Supaya bisa ditunjukkan agar orang tahu film itu muncul karena apa.</p>
<p style="text-align: justify;">Tadi belum disinggung oleh Rhino, tentang kompleksitas. Membuat video jangan sampai tidak ada metode atau pendekatan. Bias-bias itu harus ditunjukkan, perspektifnya apa?. Begitu, semoga tidak menjadi kuliah antropologi.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-613" title="Peserta" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2012/03/Peserta.jpg" alt="" width="470" height="216" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>SESI TANYA-JAWAB:</strong><br />
<strong>Zaki</strong>: Pertanyaan saya tentang representasi, dialog mengenai representasi sudah panjang dan berkembang. Bagaimana mendialogkan antara representasi dengan pemahaman mengenai representasi, sementara pemahaman representasi juga konstruksionis. Apakah itu sudah masuk ke pemahaman para filmmaker?</p>
<p style="text-align: justify;">Yang ke dua, tentang jebakan dan tantangan mengenai video partisipatoris? Jangan-jangan menjebakkan dengan publikasi yang kami buat? Itu bahaya karena jangan-jangan kita menciptakan template yang awalnya disebut sebagai pendekatan pembebasan, jangan-jangan karena peneliti itu voiceless peneliti meminjam suara orang lain yang juga voiceless? Sudah saatnya kita melihat pola pola yang dilakukan pelaku karya audio visual, Karena sekarang templatenya mulai mengerucut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Fandi:</strong> Saya ingin share sedikit tentang pengalaman kami, yang membuat suatu dokumentasi visual mengenai isu penambangan di Kulon Progo. Ketika peneliti ingin meneliti soal konflik dan menuliskan dalam teks, bagaimana keamanan yang dilakukan informan mungkin bisa disamarkan. Seperti apa dokumenter yang ideal antara subjek dan objek. Berbeda antara proyek yang didanai funding dengan yang didanai secara mandiri. Bagaimana fillmaker bisa mengatasi keamanan subjek?</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam proses tersebut yang akan dibuat ternyata berbeda dengan  apa yang dilihat oleh para petani. Kami tidak ingin terlihat menjadi lebih besar dibelakang para petani dan mereka bisa melakukan proses perekaman kegiatan mereka. Dari kasus kami tersebut, bagaimana filmmaker bisa menjaga keamanan terhadap masyarakat yang terlibat dalam film?. Terkait dengan pembuatan dokumenter mengenai sengketa dengan korporasi, bagaimana dokumenter bisa memungkinkan memperkecil sebuah konflik?. Ini menjadi refleksi, kegelisahan ketakutan kami saat dipublikasikan oleh media-media.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Saut Situmorang</strong>: Tentang metafora gua plato, api unggun sama dengan kamera, namun dengan orang di belakangnya yang punya kepentingan politik seleksi. Bukankah politik seleksi sering terjadi di dokumenter?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jawaban-jawaban:</strong><br />
<strong>Aryo</strong>: Itu menarik soal menyeleksi. Apa yang kita seleksi itu bukan hal yang sempurna. Ada kompleksitas, ada resiko. Itu taktik bukan strategi, ada kesementaraan dalam representasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjawab dua pertanyaan tadi, kita sebagai film maker ya jangan buat satu, ya kita seleksi saja. Tergantung mana yang akan kita seleksi. justru itu yang paling penting ketimbang kita ketakutan untuk melakukan seleksi, kita lebih baik sadar bahwa kita harus menyeleksi dengan kritis, bahwa itu bukan sesuatu yang sempurna. Ada kompleksitas seleksi sebagai resiko.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjawab dua pertanyaan tadi, Kita sebagai filmmaker jangan mau berpikir bahwa kita harus membuat satu projek, kita tahu film itu untuk siapa. Jangan mengidealisasaikan dengan membuat satu film hanya untuk satu tipe penonton. Taktis, bersifat sementara dan tergantung konteks. Kita harus berpikir, bahwa merayakan seleksi berdasarkan ideologis, terfragmen dan bisa dipertanggungjawabkan. Itu taktik, bukan strategi, ada kesementaraan dalam representasi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Rahung</strong>: aku membuat video dengan partisipasi dan representasi. Tapi tidak lagi karena bermasalah, seperti politik etis jaman belanda. Banyak yang berpikir bahwa lewat video, persoalan bisa didiskusikan. Dari situ saya membuat video manual mengenai mekanisme pertanian organik, dan sebagainya. Sulit karena politik perwakilan itu adalah politik bermasalah, aku lebih memilih anarkisme dengan direct action.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua orang punya akses untuk memproduksi film dokumenter, tapi tidak semua orang ingin menjadi filmmaker. Film adalah hal yang sederhana, tapi kecenderungannya ada trend. Dan itu yang dipertentangkan. Aku menganggap konsep partisipasi dan repersentasi itu ambigu, kalau mau mbuat film ya membuatlah. Sah-sah saja dengan semua metode yang dikenal dan berkolaborasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk Saut, dalam proses pembuatan film dokumenter ada kerja yang melibatkan banyak keahlian atau bidang. Misalnya leonard menjembatani dengan long shoot cinema, tapi pada panel hari kemarin, Katinka mempersoalkan fakta itu kan factual.</p>
<p style="text-align: justify;">Gaya yang dipilih Leonard terdapat banyak tambahan namun berdasarkan fakta. Dekonstruksi Leonard dengan shoot dramatic buat saya adalah saat disalah satu filmnya ada satu scene tentang pembagaian sembako dan terjadi kekacauan. Kita harus melihat seseatu dari prosesnya yang unik itu. paling Celakanya, selain sutradara yang paling berkuasa adalah editor. Fakta itu jangan direkayasa. Aku hanya sempat berpikir bagaimana membawa ranah dokumenter ke ranah fiksi atau mengkombinasikan keduanya karena dokumenter memang rumit.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><img class="alignleft size-full wp-image-614" title="Rhieno" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2012/03/Rhieno.jpg" alt="" width="186" height="300" />Rhino</strong>: menanggapi tentang proses seleksi, ada satu scene yang bagi antropolog itu penting mengenai  praktik green revolution ketika petani melakukan sesuatu yang tidak tahu alasannya. Proses seleksi dalam proyek kolaborasi. Ketika saya dan teman teman melakukan proses editing film dan para petani melakukan control, apakah representasi itu masih dipakai? Jangan-jangan itu adalah proses reproduksi. Tapi reproduksi seperti apa? Jangan jangan kita memproduksi sesuatu yang baru dengan menggunakan kamera. Itu artefak pengetahuan bagi saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di indramayu  kita sadara sepetinya ada template yang ditemukan. Namun ternyata tidak bekerja di tempat lain. Ini adalah hal yang  kontekstual, dan sifatnya relasional antara filmmaker dan kolaboratornya, terjadi dalam satu jangka waktu. Saya pikir pengalaman saya dan teman teman di Indramayu, misalnya, merupakan template baru. Itu kan konstektual, relasi antara antropolog dengan kolaboratornya, terjadi dalam proses yang dinamis.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ngurah:</strong> Soal anonym project bagaimana?. bagaimana melindungi subjek dari film yang rentan keamanannya?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Aryo:</strong> kita bisa mendefinisikan sendiri, kalau terlalu berbahaya jangan difilmkan. Ada banyak media untuk mendistribusian, itu kan namanya fonografi. Itu bagian dari bentuk documenter yang penting. Semisal, radio itu penting di Jakarta karena macet, radio documenter itu bisa jadi alternative mungkin, berfikir taktis jangan hanya satu identitas.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Rahung:</strong> Bisa disiasati dengan taktik, perhatikan konsekuensinya, kita harus jujur pada subjeknya mengenai resiko-resiko yang mungkin muncul. Agar siap menghadai dampak yang tidak terprediksi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ngurah:</strong> Ada lagi? satu lagi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Iwan:</strong> Publik indonesia tidak banyak memahami produk dokumneter, film yang beredar di masyarakat diambil dari masyarakat walaupun kemudian didramatisir yang tanpa sadar membentuk masyarakat berikutnya. Bagaimana strategi tanpa sadar itu bisa dengan strategis membentuk masyarakat? Apa yang bisa dibayangkan masa depan film dokumenter di dalam masyarakat dengan kondisi seperti itu? Bagimana film dokumenter bisa menyentuh masyarakat dengan sebanyak-banyaknya?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Angga:</strong> masalah representasi, tentang penggunaan bahasa. Mungkin orang mentawai tidak menyebut tato sebagai tato ada gap, refeleksinya bagaimana? Tentang kesadaran, kita datang bertemu mereka dan ada pengkondisian. Ada demarkasi antara aku mereka (pembuat dan subjek). Penggunaan kamera juga memperngaruhi proses pengkondisian tersebut. Bagaimana menjembatani gap seperti ini, dengan refleksi yang bagaimana?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Rahung:</strong> salah satu cara mensiasati bahasa adalah dengan mempersingkat jarak, belajar berbahasa mereka. Itu adalah hal yang sangat teknis yang sebisa mungkin bisa dipersingkat, karena tidak akan pernah bisa dirobohkan karena tetap berbeda. Representasi tato mereka berbeda dengan saya, Tato bagi mereka merupakan identitas kolektif, dan saya ingin memahami tato di wilayah mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya pikir masyarakat kita sudah banyak yang mengenal dokumenter sejak Orde Baru, melalui TVRI. Namun memang modelnya mirip dengan yang dikembangkan Hitler di jerman. Apalagi ketika industri film banyak bangkrut di tahun 80-an. Dokumenter pasca-Orde Baru memiliki persoalan mendasar dalam proses pembuatan film adalah satu-satunya fakultas film ada di IKJ, yang rumornya jurusan kajian film akan dihapuskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Segala sesuatu berkembang karena ada kritik. Perfilman kita memang bangkit, tapi perangkatnya tidak mendukung dan di barat ada budaya menonton film dokumenter, di Indonesia masih kurang menjadikan itu sebagai sebuah budaya, karena memang tidak ada stasiun televisi yang foluks pada dokumenter.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Rhino:</strong> film adalah realitas tersendiri yang berbeda dengan realitas yang terjadi ketika difilmkan. Bagaimana ketika proses menciptakan entitas baru tidak menjadi suatu kekuatan saja yang menentukan itu semua. Itu kembali kepada proses.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Aryo:</strong> saya sepakat dengan Rhino dan Coki. Persoalan dan harapan terbesar itu bertemu dan bertumpu pada FFD sebagi bagian dari symbol yang dipertentangkan. Sudah 10 tahun. Pengalaman saya menjadi juri di FFI (Festival Film Indonesia) kemarin terlalu termakan oleh fiksi. Bagaimana ketegangan bisa diciptakan antara FFD dengan audiens yang menentukan apakah film itu dokumenter atau tidak atau eksperimental. Semestinya ada naratif dari statemen juri dari film film yang masuk di FFD dan saya pikir itu menjadi saran yang penting terhadap perspektif kuratorial.  Misalnya JAFF (Jogja-Netpac Asian Film Festival) dengan gaung yang besar dan terlalu ‘Garin’, namun website-nya tidak memberi representasi yang signifikan. Pentingnya festival adalah proses plastisnya apa yang disebut dokumenter itu bisa terdokumentasi dengan baik. Perlu ada momentum dan bagaimana kita bisa menjadikan FFD sebagai tempat belajar tentu memerlukan sebuah proses pada saling percaya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Zamzam: </strong>Gua plato, persoalannya bukan hanya seleksi. Kamera dibalikkan kepada benda, bukan menamai, tapi menunjukkan. Itulah yang dinamakan idelisasi yang harus dilawan. Ada sesuatu yang bekerja di kepala kita dengan menamai apa yang ada di depan kita. Kalau membaca karya Susan Sontag, menengok lalu menamai lagi setelah melihat gambarnya. Film itu menunjukkan, bukan hanya representasi lagi tapi produksi. Apakah dokumenter bisa pada fase tersebut?. Itu yang dilakukan oleh Forum Lenteng dengan merekam realitas dan efek realitas tersebut yang menguntungkan bagi dokumenter. Itu yang membuat kita tidak terjebak lagi pada gua plato. Problem manusia adalah menamai. Coba dilihat saja, dialami, tanpa harus dinamai.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ngurah:</strong> Terima kasih banyak atas antusiasnya dan diakhiri dengan kuliah mas Zamzam. Terima kasih.</p>
<p style="text-align: center;">**</p>
<p style="text-align: justify;">* Foto-foto Dokumentasi oleh Tim Festival Film Dokumenter 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitasfilm.org/2012/03/ffd-2011-relasi-kuasa-dalam-dokumenter-dan-dilema-representasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Unduh Naskah: Wrong Day (Yusuf Radjamuda, 2011)</title>
		<link>http://komunitasfilm.org/2011/11/unduh-naskah-wrong-day-yusuf-radjamuda-2011/</link>
		<comments>http://komunitasfilm.org/2011/11/unduh-naskah-wrong-day-yusuf-radjamuda-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2011 05:27:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KF.ORG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Unduh Naskah]]></category>
		<category><![CDATA[Download Naskah Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film Solo 2011]]></category>
		<category><![CDATA[Film Alternatif]]></category>
		<category><![CDATA[Film Fiksi Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Film Indie]]></category>
		<category><![CDATA[Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Film Pendek Wrong Day]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Film]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Film Palu]]></category>
		<category><![CDATA[Yusuf Radjamuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitasfilm.org/?p=403</guid>
		<description><![CDATA[Yusuf Radjamuda &#124; 4 Menit &#124; Kafe Ujung &#124; Warna &#124; Palu &#124; 2011
Seorang polisi muda mengejar penjahat kelas teri pada hari pertamanya bertugas. Mereka terjebak dalam satu perbincangan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-404" title="Wrong Day - KF" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/11/Wrong-Day-KF.jpg" alt="" width="480" height="255" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Wrong Day</strong><br />
<strong> Yusuf Radjamuda</strong> | 4 Menit | Kafe Ujung | Warna | Palu | 2011<br />
Seorang polisi muda mengejar penjahat kelas teri pada hari pertamanya bertugas. Mereka terjebak dalam satu perbincangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemain: <strong>Rizal Darvin</strong> dan <strong>Ipin Cevin</strong><br />
Produser, Naskah, Sutradara, Editor: <strong>Yusuf Radjamuda</strong><br />
Penata Kamera: <strong>Eddie Muchiddin</strong><br />
Penata Musik: <strong>Khais</strong> dan <strong>Paul Nashir</strong><br />
Produksi dan Distribusi: <strong>Kafe Ujung, Palu</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pemutaran dan Penghargaan:</strong><br />
- Nominasi Ladrang, Festival Film Solo, 2011<br />
- Film Pendek Terbaik, Malang Film-Video Festival, 2011</p>
<p style="text-align: justify;">Naskah dan musik tersedia dalam format flash ber-ekstensi .EXE yang bebas dari virus. Apabila file tidak bisa dibuka, silakan kasih permisi pada antivirus anda. Apabila anda menginginkan dalam format .PDF, silakan hubungi redaksi pada email: <a href="mailto:redaksi@komunitasfilm.org" target="_blank">redaksi@komunitasfilm.org</a></p>
<p style="text-align: justify;">Unduh naskah film ini adalah hasil kerjasama Komunitasfilm.org dengan Kafe Ujung, Palu.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.box.net/shared/zp3krgsn4l4yjtly5c1r" target="_blank"><strong>UNDUH NASKAH &#8220;WRONG DAY&#8221;</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitasfilm.org/2011/11/unduh-naskah-wrong-day-yusuf-radjamuda-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Opini: Gajah di Pelupuk Mata Pembuat Film dan Video di Indonesia</title>
		<link>http://komunitasfilm.org/2011/09/gajah-di-pelupuk-mata-pembuat-film-dan-video/</link>
		<comments>http://komunitasfilm.org/2011/09/gajah-di-pelupuk-mata-pembuat-film-dan-video/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 08:41:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KF.ORG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Forum Lenteng]]></category>
		<category><![CDATA[Hafiz]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Film]]></category>
		<category><![CDATA[Manshur Zikri]]></category>
		<category><![CDATA[OK Video 2011]]></category>
		<category><![CDATA[OK Video Jakarta International Video Festival 2011]]></category>
		<category><![CDATA[ruangrupa]]></category>
		<category><![CDATA[Sinema Gerilya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitasfilm.org/?p=376</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang terpikirkan ketika kita berbicara tentang film dan video? Tidak lain adalah hal yang selama ini menjadi referensi visual sebagian besar masyarakat Indonesia, yaitu sinetron (sinema elektronik. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-383" title="OK Video - Jakarta International Video Festival 2011" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/09/ok-video.jpg" alt="" width="480" height="147" /></p>
<p style="text-align: justify;">Opini <strong>Manshur Zikri</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ada semacam kesulitan</strong> bagi kita jika hendak membicarakan persinggungan antara film dan video dalam konteks Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya semacam kegagapan dari kalangan pelaku film dan video sendiri pada awal kehadiran kamera video yang datang secara instan di tengah masyarakat. Kegagapan ini membuat mereka meraba-raba dan pada akhirnya menciptakan suatu kekosongan, bahkan kekeliruan dalam menafsirkan perbedaan utama dari kedua medium tersebut. Oleh sebab itu untuk membaca persinggungan antara film dan video di Indonesia lebih mungkin dilihat dari aspek sosial daripada aspek artistik maupun estetiknya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Film dan Video Beda</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita merujuk pada definisinya, film dan video adalah dua hal berbeda. Film dilihat sebagai kelanjutan dari tradisi seni pendahulunya yang lahir dari perkembangan teknologi (film disebut sebagai “seni ketujuh” dalam tradisi kebudayaan Prancis). Sebagai strategi ekspresi, film tetap mengikuti tradisi baku di bidang seni pertunjukan konvensional (dalam hal ini tradisi teater). Kata “sinema” sendiri bahkan merujuk pada tradisi panggung: sebuah “ruang gelap” di mana terjadi aktivitas menonton suatu bentuk pementasan, pertunjukan (Hafiz, Forum Lenteng, 2011). Sementara André Bazin, kritikus film dari Prancis, berpendapat bahwa konsepsi tentang sinema, pada dasarnya, telah muncul sebelum adanya teknologi film itu sendiri. Ide bawaan yang terdapat pada “film” dan “sinema” muncul dari hasrat untuk mereproduksi realitas sebagaimana yang dirasakan oleh manusia. Dengan demikian, film (teknologi canggih itu) berasal dari dorongan mendasar untuk menghadirkan kembali “yang nyata” dari realitas sosial.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pengertian di atas maka dapat dipahami bahwa film dan sinema berdiri sendiri karena hasrat tradisi berkesenian untuk menghadiran kembali apa “yang nyata” sedetail mungkin. Alih-alih mengatakan bahwa film dan sinema muncul karena teknologi, maka lebih tepat untuk menyimpulkan bahwa film dan sinema adalah sebuah pencapaian puncak dari tradisi seni dalam kebudayaan dunia yang menggabungkan pelbagai medium kesenian yang hadir melalui temuan teknologi (Hafiz, 2011).</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara jika kita mendefinisikan video maka yang akan kita temukan adalah sebuah bentuk teknologi yang mampu memproses, menangkap, merekam, menyimpan, mentransimisi, dan merekonstruksi rentetaan gambar diam secara elektronis yang kemudian menghasilkan serangkaian gambar bergerak (Wikipedia). Dari sekian banyak pengertian tentang apa itu “seni video”, pernyataan dari Veronika Kusumaryati, kritikus film Kelompok Kajian Film IKJ, mungkin dapat membantu. Ia menjelaskan bahwa “medium video menyangkut perangkat berbasis teknologi elektronik dan berisi citraan yang merupakan reaksi terhadap teknologi itu sendiri. Sedangkan Mahardika Yudha, peneliti dari Forum Lenteng, menjelaskan bahwa video lahir dari rahim televisi (media massa). Televisi pulalah yang kemudian menjadi landasan bagi persebaran, perkembangan, dan penggunaan medium video. Di sini pendapat Mahardika memiliki kesamaan dengan pendapat Veronika, bahwa seni video lahir sebagai bentuk tanggapan atas teknologi itu sendiri (Hafiz, 2011).</p>
<p style="text-align: justify;">Berpijak pada pengertian di atas, kita dapat melangkah lebih jauh untuk melihat persinggungan antara film dan video. Sejatinya, persinggungan ini dapat diutarakan dengan kalimat sederhana: kedua medium tersebut sama-sama menangkap objek dan menampilkannya pada permukaan layar. Namun pemahaman ini menjadi sesuatu yang dilupakan. Tidak adanya kesadaran dalam memahami esensi film dan video menyebabkan para praktisi (khususnya di Indonesia sendiri) terjebak dalam euforia kecanggihan teknologi semata sehingga yang dilihat oleh mereka hanyalah aspek praktis dalam aktivitas produksi dan distribusi semata. Bahkan sejak periode 80-an hingga sekarang, persinggungan kedua medium tersebut di Indonesia tidak dilihat sebagai pertemuan yang berpotensi menciptakan bahasa visual dan elemen artistik yang khas dan terus berkembang. Di Indonesia keduanya hanya ditempatkan sebagai sarana komunikasi (bahkan lebih sempit lagi: hiburan) yang sebisa mungkin diterima oleh masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kilas Balik Video sebagai Alat Produksi Film</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang terpikirkan ketika kita berbicara tentang film dan video? Tidak lain adalah hal yang selama ini menjadi referensi visual sebagian besar masyarakat Indonesia, yaitu sinetron (sinema elektronik. Di Indonesia sinetron cukup memperlihatkan singgungan antara kedua medium tersebut, yaitu “sinema” (yang merujuk pada “film”) dan “elektronik” (yang merujuk pada video sebagai piranti elektronis).</p>
<p style="text-align: justify;">Sinetron bisa menjadi pijakan pertama dalam membicarakan persinggungan ini karena ia merupakan sebuah produk budaya yang mengamini perkembangan media dan teknologi, sekaligus sebagai cara untuk menyiasati permasalahan ekonomi yang melanda pada masanya. Ketika produksi film di tahun 80-an mengalami kemerosotan karena tingginya biaya, para pembuat film mengalami kesulitan untuk menarik massa agar datang ke bioskop. Maka muncul sebuah strategi alternatif: film yang justru mendatangi massa-nya melalui media televisi. Fritz G. Schadt, salah satu penggiat perfilman Indonesia pada dekade 1970-1980-an pernah mengatakan bahwa televisi adalah medium yang khas rumah tangga; “film” tidak lagi hadir di bioskop melainkan di dalam rumah kita sendiri. Kehadiran televisi membuat para pelaku film tidak lagi memproduksi karya dengan peralatan yang mahal dan dengan proses yang rumit. Mereka memanfaatkan piranti video (dan televisi) yang lebih murah dan cepat. Berangkat dari titik inilah kemudian film dan video (yang diwakili oleh televisi) mengalami persinggungan yang konkrit di tengah-tengah kita.</p>
<div id="attachment_379" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-379" title="Sinetron - Gara Gara KTP Jatuh Cinta" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/09/Sinetron-Garagara-KTP.jpg" alt="" width="480" height="332" /><p class="wp-caption-text">Sinetron &quot;Gara-gara KTP Jatuh Cinta&quot; (2011) - dok. Edo Rusyanto</p></div>
<p style="text-align: justify;">Catatan sejarah memperlihatkan bahwa kehadiran sinetron menjadi bagian penting dalam soal ini, yaitu ketika di tahun 1985 sebuah film televisi berjudul Gadis Kami Tercinta arahan sutradara Tiar Muslim memenangkan piala Vidia dalam Festifal Film Indonesia di Bandung. Lebih dari itu, kemajuan teknologi video kala itu terlihat pada fenomena merebaknya jumlah video rental (jumlah tempat penyewaan video ketika itu mencapai 1.200 buah), semakin meluasnya kegiatan perekaman yang menggunakan pita magnetis di masyarakat, dan stasiun TV nasional TVRI (Televisi Republik Indonesia) yang semakin gencar menggunakan video dalam memproduksi program acara, termasuk sandiwara. Arswendo Atmowiloto sebagai orang yang memperkenalkan istilah “sinema elektronik” dan Ali Shahab sebagai salah satu pelopor produksi sinetron pada dekade 1980-an percaya bahwa “…yang akan merajai dunia film bukan lagi bahan baku seluloid, tapi video” (Majalah Tempo Online, Agustus 1985).</p>
<p style="text-align: justify;">Penggunaan video untuk menghasilkan karya film terus berlanjut. Terutama ketika pertengahan tahun 90-an muncul semacam gerakan yang disebut “Sinema Gerilya” <span style="color: #ff0000;">[1]</span>.  Lalu lahir generasi muda yang dibesarkan oleh beragamnya kanal-kanal televisi (khususnya stasiun MTV / Music Television yang pertama kali hadir di Indonesia pada 1993). Mereka sangat intens dalam memproduksi video musik, video iklan, dan video dokumenter. Berbagai festival film pendek bermunculan, seperti Festival Film-Video Independen Indonesia dan Jakarta International Film Festival (JIFFest) di tahun 1999, satu tahun setelah Reformasi 1998. Kemunculan film Kuldesak (1998) menguatkan hasrat untuk menciptakan kultur “sinema independen” <span style="color: #ff0000;">[2]</span>. Hal ini kemudian berlanjut pada maraknya aktivitas produksi film panjang (feature) yang dilakukan dengan kamera digital kemudian mentransfernya ke dalam format pita seluloid 35 mm untuk diedarkan ke gedung-gedung bioskop (Gotot Prakosa, 2001: 13).</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga awal tahun 2000-an video masih hanya digunakan sebagai alat untuk merekam dan membuat film semata. Meskipun ada gerakan lain di awal tahun 90-an yang mendayagunakan video sebagai medium ekspresi seni lain (baca: seni rupa). Sebutlah Heri Dono sebagai salah satu pelakunya melalui karya video Hoping to Hear from You Soon (1992) dan Krisna Murti lewat karya 12 Jam dalam Kehidupan Penari Agung Rai (1993). Tetapi apa yang mereka lakukan belum memberikan dampak berarti terhadap kesadaran akan potensi medium video yang sesungguhnya dapat berdiri sebagai medium artistik. Bahkan, pasca Reformasi 1998 yang membuka potensi kebebasan berekspresi dan dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk dapat secara bebas menggunakan medium video pun hanya ditanggapi dengan hadirnya Komunitas Film Independen (Konfiden) tahun 1999. Kenyataan ini hanyalah gerakan kultural repetitif yang kembali menafsirkan video sebagai alat untuk membuat film semata <span style="color: #ff0000;">[3]</span>. Pada tahun 2001, ruangrupa Jakarta membuat semacam proyek bernama Silent Forces dan melakukan riset awal untuk membaca perkembangan seni video di Indonesia. Hasilnya adalah hampir 90% karya yang didapatkan dari proyek itu merupakan film pendek dan dokumentasi performance art oleh kalangan seniman (Hafiz, 2011).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gajah di Pelupuk Mata Pembuat Film Indonesia</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pemaparan di atas merupakan bukti bahwa video di Indonesia masih dijadikan alat untuk  “menyempurnakan” tradisi seni terdahulu. Video menjadi piranti untuk memindahkan panggung teater ke dalam bentuk tampilan layar datar. Dengan kata lain, produksi video adalah produksi film. Atas pertimbangan kendala dari alat-alat yang lama (baca: produksi film konvensional dan mahal), para pembuat film menggunakan video (dengan mental filmmaker) untuk terus menghidupkan sinema, yang justru berujung pada penurunan kualitas estetik film itu sendiri. Terlebih lagi karena kemunculan sinetron, film-film yang hadir di televisi (juga di layar lebar), mau tidak mau harus tunduk pada kepentingan industri kejar tayang untuk memuaskan hasrat penonton yang sudah terlenakan dengan visual-visual yang tidak berbobot <span style="color: #ff0000;">[4]</span>.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenyataan tersebut hadir karena sebagian besar pelaku film Indonesia pada masa itu tidak menyadari bahwa video, sesungguhnya, memiliki attitude dan bahasanya sendiri, bahwa video memiliki potensi sebagai satu bentuk seni yang utuh, yang dapat berbeda dari film. Berbeda dengan di negara lain, kehadiran video dengan cepat disadari potensinya oleh para seniman luar, misalnya di Amerika Serikat. Sebutlah nama-nama seperti Howard Fried, Bucky Schwart, Frank Gillete, Nam June Paik, dan sebagainya. Mereka percaya bahwa video memiliki kemampuan yang luar biasa karena sifatnya yang elektronis mampu memanipulasi citraan (Schadt, 1985). Para pelaku seni ini berusaha mencari celah untuk menjadikan video sebagai sebuah bentuk kesenian baru/new media art (Schadt, 1981). Sementara di Indonesia, video adalah alat sosial (juga finansial) untuk terus menghidupkan film, alih-alih sebagai media yang potensial menciptakan temuan artistik yang baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kehadiran video, produksi film menjadi mudah, distribusi menjadi lebih gampang, dan dalam hal presentasi karya pun video tidak sulit untuk dipindahkan ke dalam berbagai format tayang. Hingga sekarang, sangat sedikit sineas Indonesia yang menggunakan pita seluloid untuk memproduksi film. Mereka lebih memilih video (baik dalam format analog maupun digital) dengan berbagai pertimbangan ekonomisnya. Terlebih jika kita menyadari kehadiran sinetron yang tetap bertahan dan bahkan menjadi primadona di hampir seluruh stasiun televisi nasional saat ini. Hal ini tentu menjadi bukti nyata bahwa video memang merajai aktivitas produksi gambar bergerak yang menjadi bahan hiburan tontonan masyarakat, bukan sebagai medium kesenian yang otonom.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin benar bahwa sejauh ini film dan video saling melengkapi. Akan tetapi sejauh mana mereka bisa saling mengisi? Barangkali jawabannya hanya ada pada level peningkatan kuantitas, bukan pada tataran pertarungan bahasa tutur, peningkatan kualitas, pemahaman dan penafsiran konsep, serta eksplorasi kreatif.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>(Kemungkinan) Gajah di Pelupuk Mata Pembuat Video</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Lantas bagaimana dengan munculnya fenomena berkesenian dengan medium video di Indonesia dalam kurun 10 tahun terakhir? Benar memang, dalam satu dekade terakhir, para pelaku seni sudah menyadari bahwa video dapat berdiri sebagai medium seni tersendiri. Terutama sejak kehadiran ruangrupa dengan OK. Video-nya yang dianggap menjadi salah satu tonggak perkembangan seni video di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa melalui OK. Video banyak seniman muda yang mulai melirik dan mengutak-atik medium yang sangat luar biasa itu. Namun, tetap saja ada “kekosongan”, ada bayang-bayang gajah yang samar di depan mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Gali lubang, tutup lubang. Dalam beberapa hal, seni video ditanggapi sebagai satu hal yang berada sejauh-jauhnya dari persoalan film. Seakan ingin terlepas dari dosa para pendahulu yang aktif di tahun 80 dan 90-an. Tetapi bisa jadi justru terjadi hal yang sebaliknya: muncul semacam glorifikasi berlebihan dari seniman hari ini untuk memperlakukan seni video sebagai hal yang tidak dapat dilihat dari perspektif film dan sinema, dan oleh karena itu muncul kecenderungan untuk membuat karya seni video sebebas-bebasnya. Para pembuat video Indonesia seakan tidak membutuhkan referensi pengetahuan film dan sinema, dan hanya bersandar pada kecanggihan luar biasa dari medium video ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Keyakinan seperti inilah yang pada akhirnya membuat kita bisa tergagap jika, misalnya, ada karya seni video yang dibuat dengan menggunakan medium film (seluloid). Oleh sebab itu sudah seharusnya kita dapat menyadari usaha <a href="http://okvideofestival.org/" target="_blank">OK. Video – Jakarta International Video Festival</a> yang menghilangkan kata art dari istilah video art dan membiarkan kata “video” berdiri sendiri. Keputusan ini dapat dilihat sebagai strategi untuk membuka segala kemungkinan yang dapat dieksplorasi dari medium video sehingga kita tidak terkungkung pada soal seni video yang diartikan secara sempit: melukis dengan video.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang selalu menjadi masalah utama adalah kultur berkesenian kita yang tidak berjalan secara runut. Seni video dilahap oleh para pembuatnya tanpa menyadari akar sejarah munculnya medium ini. Mereka tidak pula memahami sejarah perkembangan dan kontribusi sinema dan film dalam persinggungannya dengan video. Kalau pun ingin dikatakan bahwa video tidak memiliki induk, bahwa dia muncul dari budaya media massa?berbeda dengan film yang merupakan tetasan telur dari seni teater?kita tidak dapat memungkiri bahwa video, bagaimana pun bentuknya, adalah karya moving image (citra bergerak) yang tidak dapat begitu saja dipisahkan dari film sebagai pembandingnya, karena mereka sama-sama memiliki kode-kode visual yang dapat dibaca (bahkan) dengan cara yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sekian banyak karya seni video yang dibuat oleh seniman Indonesia, mungkin hanya sedikit yang dapat kita anggap memiliki kesadaran tentang esensi (signifikansi perspektif) film di dalamnya. Sebutlah misalnya Alam: Syuhada (2005) karya Hafiz yang masuk dalam kompilasi 10 Tahun Seni Video Indonesia (2000-2010).</p>
<div id="attachment_378" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-378" title="Alam Syuhada - Hafiz" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/09/Alam-Syuhada-Hafiz.jpg" alt="" width="480" height="362" /><p class="wp-caption-text">Alam: Syuhada (2005) karya Hafiz (dok. KF.ORG)</p></div>
<p style="text-align: justify;">Karya ini dengan genial mampu menghadirkan representasi satu fragmen dalam sebuah bingkai sehingga membuka kemungkinan bagi penonton untuk membaca kode-kode visual secara horizontal untuk merefleksikan keseharian sang tokoh dalam video itu dan juga pengalamannya selama di Jakarta (Akbar Yumni, 2011). Cara menonton horizontal ini merupakan gagasan Barthes untuk menginterpretasikan kode visual dalam film sebagai hal yang dapat diamati dalam bentuk fragmen (pecahan). Di dalam karya video Hafiz, hal itu sangat dimungkinkan. Akan tetapi karena pembuatnya mengemas bahasa video, maka tata cara pembacaan fragmen-fragmen pada film itu tidak dibutuhkan. Sebab tampilan visual dalam video itu sendiri sudah menjadi satu kesatuan fragmen yang utuh, tidak perlu dipecah-pecah. Kode-kode visual semacam itu hanya akan muncul ketika pembuat videonya menyadari dan mengerti esensi bahasa film dalam meramu bahasa video. Dan pembacaan seperti ini hanya akan disadari ketika kita juga menyadari esensi dari film dan bahasanya. Oleh sebab itu, karya video Alam: Syuhada tidak serta merta berhenti pada bentuk seni video yang sempit, tetapi juga dapat dilihat sebagai karya film eksperimental.</p>
<p style="text-align: justify;">Karya video lain yang mungkin bisa kita lihat sebagai karya yang tidak serta merta melupakan esensi dari film adalah karya-karya video akumassa yang memiliki standar teknis yang merujuk pada bahasa dasar pembuatan film. Melihat video akumassa mengingatkan kita pada konsep penyutradaraan yang dilakukan Hitchcock, yang “memberikan otoritas” kepada subjek di dalam bingkai untuk membangun ruang dan jalur sirkulasinya sendiri. Namun pengemasan gaya bahasa yang mengutamakan eye level dan pengambilan gambar yang selektif untuk menguatkan objektivitas substansi, serta tidak menekankan pada durasi: awal, tengah, akhir; klimaks-antiklimaks, menjadikannya sebagai karya yang memiliki bahasa video tersendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemahaman seperti inilah yang harus dimiliki oleh para pembuat film dan video: bahwa persinggungan di antara kedua medium tersebut bisa saja terjadi dalam tataran estetis, bukan sekadar pada tataran sosial (apalagi finansial) yang hanya memandang video sebagai alat memudahkan aktivitas produksi dan distribusi semata. Dalam konteks ini, fungsi bahasa viual dalam film dijadikan sebagai pembongkar aktivitas penciptaan karya video sendiri, begitu juga sebaliknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Merupakan suatu keniscayaan bahwa karya video, sama halnya dengan film, dapat dilihat dari berbagai perspektif dan interdisiplin pengetahuan. Perspektif film pun, pada dasarnya, dapat dijadikan sebagai salah satu pisau bedah dalam mengkaji karya video yang memiliki attitude dan bahasanya sendiri itu. Dan merupakan suatu keharusan bagi pembuat karya seni video untuk memiliki kesadaran tentang bahasa film dan konsepsi sinema dalam berkarya.</p>
<p style="text-align: justify;">Film dan video memang berbeda, tetapi keduanya sesungguhnya bergerak ke arah yang sama untuk saling bertemu dan melengkapi. Jika kita terus tenggelam dalam euforia kemudahan dan kecanggihan yang ditawarkan video untuk menutupi persoalan-persoalan teknis film dan sinema, kita tidak akan bisa lepas dari senyum jahil sang gajah yang dengan setia nangkring di depan mata, membutakan kita dari potensi-potensi mengejutkan dari persinggungan antara film dan video itu sendiri.*</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-380" style="margin: 8px 10px;" title="Manshur Zikri" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/09/Manshur-Zikri.jpg" alt="" width="153" height="200" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Manshur Zikri</strong> adalah mahasiswa Ilmu Kriminologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Ia pernah mengikuti program Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa &amp; Budaya Visual 2011 yang diselenggarakan ruangrupa. Zikri bergiat di Forum Lenteng, sebuah komunitas yang bergerak di bidang penelitian dan pengembangan seni video. Kini ia aktif mengelola Jurnal Segi Empat. Email: <a href="mailto:manshurzikri@yahoo.com" target="_blank">manshurzikri@yahoo.com</a></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Catatan:</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">[1]</span> Gerakan ini dipelopori oleh Seno Gumira Adjidarma, Marseli dan kawan-kawan (mahasiswa Institut Kesenian Jakarta). Pengertian gerilya di sini merujuk pada aksi memproduksi film secara “bergerilya” karena sulitnya mendapatkan izin produksi pada masa Orde Baru. Namun, pada sisi artistik atau temuan bentuk, sinema gerilya tidak punya dampak signifikan bagi perkembangan film cerita, film eksperimental, dan karya seni video di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">[2]</span> Pada perkembangan selanjutnya cita-cita ini diikuti dengan dideklarasikannya sebuah gerakan bernama I Cinema oleh Riri Riza, Mira Lesmana, Rizal Mantovani dan kawan-kawan. Mereka membayangkan sebuah gerakan industri film yang menguasai pasar Indonesia dengan diputarnya karya-karya anak bangsa di bioskop-bioskop Studio 21. Untuk bacaan lebih lanjut, lihat Gotot Prakosa, “Ketika Film Pendek Bersosialisasi” (Jakarta: Yayasan Layar Putih, 2001).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">[3]</span> Komunitas ini menggerakkan anak-anak muda di Indonesia (terutama di Pulau Jawa) untuk membuat film dengan jargon yang sangat terkenal: “membuat film itu mudah”. Hal ini membawa pandangan di tengah masyarakat bahwa film adalah sesuatu yang “trendy” dan “cool” bagi anak-anak muda di Indonesia. Secara tidak langsung hal ini juga membentuk penonton film-film nasional yang diproduksi oleh komunitas yang ditandai oleh besarnya minat penonton film Indonesia di bioskop. Meskipun ujung-ujungnya tetap industrilah yang mendapat berkahnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">[4]</span> Padahal, pada masa awal sinema elektronik, kualitas karya yang dihasilkan sangat baik. Beberapa sutradara yang berkualitas itu di antaranya adalah Irwansyah dengan karyanya yang sangat terkenal, Sayekti dan Hanafi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitasfilm.org/2011/09/gajah-di-pelupuk-mata-pembuat-film-dan-video/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Unduh Naskah: Marni aka The Wife (Kuntz Agus, 2010)</title>
		<link>http://komunitasfilm.org/2011/07/unduh-naskah-marni-aka-the-wife-kuntz-agus-2010/</link>
		<comments>http://komunitasfilm.org/2011/07/unduh-naskah-marni-aka-the-wife-kuntz-agus-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 09:11:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KF.ORG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Unduh Naskah]]></category>
		<category><![CDATA[Agra Aghasa]]></category>
		<category><![CDATA[Agus Triatmojo]]></category>
		<category><![CDATA[Ajeng Patria Meilisa]]></category>
		<category><![CDATA[Ajish Dibyo]]></category>
		<category><![CDATA[Download Naskah Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Film Fiksi Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Film Indie]]></category>
		<category><![CDATA[Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Film Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kuntz Agus]]></category>
		<category><![CDATA[Unduh Naskah Film Pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitasfilm.org/?p=333</guid>
		<description><![CDATA[Marni Sutradara: Kuntz Agus Produser: Ajish Dibyo Pemain: Ajeng Patria Meilisa, Agus Triatmojo, Agra Aghasa Harimau Films / Fiksi / 23 Menit / Yogyakarta / 2010 Marni adalah sebuah film fiksi-pendek dengan latar belakang perburuan Penembak Misterius (Petrus) tahun 1983. Tahun itu adalah masa di mana banyak sekali terjadi pembunuhan dengan pelaku ‘tak dikenal’. Peristiwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/07/Marni-Stillphoto.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-334" title="Marni Stillphoto" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/07/Marni-Stillphoto.jpg" alt="" width="480" height="354" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Marni</strong><br />
Sutradara: Kuntz Agus<br />
Produser: Ajish Dibyo<br />
Pemain: Ajeng Patria Meilisa, Agus Triatmojo, Agra Aghasa<br />
Harimau Films / Fiksi / 23 Menit / Yogyakarta / 2010</p>
<p style="text-align: justify;">Marni adalah sebuah film fiksi-pendek dengan latar belakang perburuan Penembak Misterius (Petrus) tahun 1983. Tahun itu adalah masa di mana banyak sekali terjadi pembunuhan dengan pelaku ‘tak dikenal’. Peristiwa Petrus adalah sebuah catatan hitam sejarah kekerasan negara yang hingga masih diselimuti tabir tanda tanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Petrus pada awalnya dimulai di Yogyakarta dengan nama Operasi Pemulihan Keamanan yang ditujukan untuk menekan angka kriminalitas. Operasi yang kemudian diadopsi secara nasional dengan nama sandi Operasi Clurit hinga menewaskan lebih dari 1300 orang (data dari Kontras). Diluar aspek politis dan hukum kasus Petrus, ada sesuatu yang lebih besar lagi yang harus dilihat lebih dalam lagi, yakni kemanusiaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Petrus adalah teror, sebuah ancaman serius bagi kemanusiaan, sejarah yang dilupakan dan menyimpan potensi-potensi perulangan. Hingga kini, pencatatan dan arsip visual dokumentatif maupun reflektif terhadap peristiwa itu sangat minim.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pemutaran dan Penghargaan:</strong><br />
Official Selection, Festival Film Solo 2011<br />
Nominasi Film Pendek Terbaik, Festival Film Indonesia 2010</p>
<p style="text-align: center;"><a title="Unduh Naskah Film Marni (2010)" href="http://www.box.net/shared/cycobs7xeq9limh3ddge" target="_blank"><span style="color: #ff0000;"><strong>UNDUH NASKAH MARNI (2010)</strong></span></a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>TRAILER MARNI</strong>:</p>
<p style="text-align: center;"><object width="480" height="305"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="movie" value="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=24123496&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=0&amp;show_byline=0&amp;show_portrait=0&amp;color=00adef&amp;fullscreen=1&amp;autoplay=0&amp;loop=0" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="305" src="http://vimeo.com/moogaloop.swf?clip_id=24123496&amp;server=vimeo.com&amp;show_title=0&amp;show_byline=0&amp;show_portrait=0&amp;color=00adef&amp;fullscreen=1&amp;autoplay=0&amp;loop=0" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always"></embed></object></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://vimeo.com/24123496">Marni (The Wife) teaser</a> from <a href="http://vimeo.com/user6047861">harimaufilms</a> on <a href="http://vimeo.com">Vimeo</a>.</p>
<p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitasfilm.org/2011/07/unduh-naskah-marni-aka-the-wife-kuntz-agus-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wrong Day Rajai Malang Film-Video Festival (Mafvie Fest) 2011</title>
		<link>http://komunitasfilm.org/2011/05/298/</link>
		<comments>http://komunitasfilm.org/2011/05/298/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2011 08:29:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KF.ORG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Film Fiksi Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Film Indie]]></category>
		<category><![CDATA[Film Kota Palu]]></category>
		<category><![CDATA[Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Film Wrong Day]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Film]]></category>
		<category><![CDATA[Mafvie Fest]]></category>
		<category><![CDATA[Malang Film-Video Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Yusuf Radjamuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitasfilm.org/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[MALANG - Gelaran Malang Film Video Festival (Mafvie Fest) di Dome Universitas Muhammadiyah Malang pada 23-25 Mei 2011 ditutup dengan luapan sukacita (25/5) oleh para sineas dari Komunitas Jalin Sulteng, Palu. Dari lima kategori yang dikompetisikan, film Wrong Day yang disutradarai Yusuf Radjamuda asal Palu, berhasil membawa pulang tiga penghargaan untuk Kategori Film Fiksi Terbaik, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_299" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-299" title="Mafvie Fest" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/06/mafvie-fest.jpg" alt="" width="480" height="413" /><p class="wp-caption-text">Sineas asal Palu menerima penghargaan sebagai Film Fiksi Terbaik Mafvie Fest 2011. (dok. Mafvie Fest)</p></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>MALANG </strong>- Gelaran <strong>Malang Film Video Festival (Mafvie Fest) </strong>di Dome Universitas Muhammadiyah Malang pada 23-25 Mei 2011 ditutup dengan luapan sukacita (25/5) oleh para sineas dari Komunitas Jalin Sulteng, Palu. Dari lima kategori yang dikompetisikan, film Wrong Day yang disutradarai Yusuf Radjamuda asal Palu, berhasil membawa pulang tiga penghargaan untuk Kategori Film Fiksi Terbaik, Film Teknis Terbaik dan Film Favorit Juri.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewan Juri yang terdiri dari Sugeng Pujileksono (Dosen Universitas Muhammadiyah Malang), Daniel Rudi Haryanto (Sutradara Dokumenter) dan Bayu Bergas (Redaktur www.komunitasfilm.org) secara bulat memilih Wrong Day sebagai Film Fiksi Terbaik. Oleh para juri, Wrong Day dinilai sebagai film yang lugas, matang dialog, dan baik dari segi teknis sehingga mampu menyisihkan lima film lainnya, yakni It Could Have Been A Perfect World (Adhyatmika, Jakarta), Aksara Cinta (Antonius Janu Haryono, Yogyakarta), Mubazir (Arie Surastio, Yogyakarta), Potret Diri (Yusuf Radjamuda, Palu) dan Pagi Pertama (Riva Aulia Rais, Yogyakarta).</p>
<p style="text-align: justify;">Film Wrong Day sebelumnya menjadi salah satu finalis Ladrang Award Festival Film Solo, 4-7 Mei 2011, namun kalah oleh film Bermula dari A karya BW Purba Negara.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk Kategori Film Dokumenter Terbaik Umum diraih oleh film Sop Buntut (Deden Ramadani, Jakarta) sedangkan untuk Kategori Film Dokumenter Terbaik Pelajar jatuh pada Senja di Atas Roda (Febry Ramadhan, Malang).* <em><strong>(KF.ORG/GS)</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitasfilm.org/2011/05/298/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Film Pendek dari Palu Dikeroyok Film dari Jakarta dan Yogyakarta</title>
		<link>http://komunitasfilm.org/2011/04/film-pendek-dari-palu-dikeroyok-jakarta-dan-jogja/</link>
		<comments>http://komunitasfilm.org/2011/04/film-pendek-dari-palu-dikeroyok-jakarta-dan-jogja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Apr 2011 07:32:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KF.ORG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bermula dari A]]></category>
		<category><![CDATA[BW Purba Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film Solo 2011]]></category>
		<category><![CDATA[Film Fiksi Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Film Indie]]></category>
		<category><![CDATA[Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Gedung Kesenian Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Jason Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja-Netpac Asian Film Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Film Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Mulyadi Witono]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan untuk Kembali]]></category>
		<category><![CDATA[Say Hello to Yellow]]></category>
		<category><![CDATA[Territorial Pissings]]></category>
		<category><![CDATA[Wrong Day]]></category>
		<category><![CDATA[Yusuf Radjamuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitasfilm.org/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[&#160; SOLO, JAWA TENGAH – Lima film telah dipilih sebagai Nominasi Ladrang Award 2011 dari 169 film yang masuk proses kuratorial Festival Film Solo, yakni Territorial Pissings (Jason Iskandar, Jakarta), Perjalanan Untuk Kembali (Mulyadi Witono, Jakarta), Wrong Day (Yusuf Radjamuda, Palu), Say Hello to Yellow (BW Purba Negara, Yogyakarta), dan Bermula dari A (BW Purba [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<div id="attachment_269" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-269" title="Wrong Day" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/04/Wrong-Day.jpg" alt="" width="480" height="270" /><p class="wp-caption-text">Adegan dalam film Wrong Day (Yusuf Radjamuda) dari Kota Palu (dok. FFS)</p></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>SOLO, JAWA TENGAH</strong> – Lima film telah dipilih sebagai <strong>Nominasi Ladrang Award 2011</strong> dari 169 film yang masuk proses kuratorial Festival Film Solo, yakni Territorial Pissings (Jason Iskandar, Jakarta),  Perjalanan Untuk Kembali  (Mulyadi Witono, Jakarta), Wrong Day (Yusuf Radjamuda, Palu), Say Hello to Yellow (BW Purba Negara, Yogyakarta), dan Bermula dari A (BW Purba Negara, Yogyakarta).</p>
<p style="text-align: justify;">Proses kurasi film dilakukan oleh tiga kurator, yakni Bayu Bergas pada ide cerita, Ayu Mitha Radila pada musik-scoring, dan Joko Narimo pada sisi teknis film. Selanjutnya lima film yang lolos sebagai nominasi Ladrang Award akan diajukan pada tiga juri yang terdiri dari Seno Gumira Ajidarma, Swastika Nohara dan Joko Anwar.</p>
<p style="text-align: justify;">Terpilihnya film Wrong Day &#8211; yang disutradarai Yusuf Radjamuda &#8211; menjadi salah satu finalis, terhitung mengejutkan, sebab ia mampu menyelinap di tengah-tengah gempuran film pendek dari Jakarta dan Yogyakarta yang menyerbu Festival Film Solo.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya memang berharap bisa masuk nominasi pada kompetisi tersebut, tapi sebenarnya saya tidak pernah memprediksi. Niat mengirimkan film hanya supaya karya kami dari Palu bisa ditonton minimal oleh kurator film, dan tentu saja masuk dalam database Festival Film Solo,&#8221; terang Yusuf Radjamuda yang akrab dipanggil Ucup ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Belajar Film Secara Otodidak</strong><br />
Ucup dan Komunitas Jalin Sulawesi Tengah yang ia kelola memang terbentuk bukan dari sekolah film. Tapi justru hal tersebut yang membuat mereka semakin kukuh untuk berkarya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kami di Palu masih sangat baru di dunia perfilman dibanding dengan daerah-daerah lain, terutama Pulau Jawa. Kami belajar secara otodidak dengan membaca buku, nonton film, membaca artikel di internet, dan apa saja yang kami temukan yang berhubungan dengan teknik pembuatan film, kami memahaminya secara liar dan eksploratif,&#8221; terangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang dikatakan Ucup tentu menggambarkan fenomena sesungguhnya dari komunitas film. Mereka biasanya tak pernah mengenyam pendidikan formal perfilman. Sebutlah nama nominator lainnya yang berhasil memasukkan dua film di kompetisi ini, BW Purba Negara. Lelaki muda yang akrab dipanggil Popo ini pun sejatinya adalah sarjana filsafat. Ia besar di Limaenam Films, komunitas di mana ia bermukim.</p>
<p style="text-align: justify;">Fenomena ini juga ada pada finalis lainnya, Jason Iskandar. Sutradara muda yang disebut-sebut sebagai salah satu wonderkid dunia perfilman nasional ini, malah memilih kuliah pada Jurusan Sosiologi Universitas Gadjah Mada selepas menamatkan SMA-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum menjadi nominasi di Festival Film Solo, Territorial Pissings adalah peraih Blencong Award 2010, penghargaan untuk film pendek terbaik di Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF). <a href="http://komunitasfilm.org/?p=263" target="_blank">Territorial Pissings mampu menyingkirkan Peraih Piala Citra pada Festival Film Indonesia (FFI) 2010 Kategori Film Pendek, Kelas 5000-an karya Jihad Adjie. </a>Dan seperti halnya Ucup, Jason juga menyatakan optimisme yang kuat untuk bisa menang. &#8220;Aku lumayan optimis. Kalau menang tentu akan sangat bagus,&#8221; katanya dengan mantap.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulyadi Witono adalah satu-satunya nominator yang mengenyam pendidikan formal film di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dia yang bentukan sekolah akan menghadapi gempuran film-film yang lahir dari sutradara-sutradara yang besar di komunitas dan belajar secara otodidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Festival Film Solo akan dibuka pada tanggal 4 Mei jam 19.30 WIB dengan konsep layar tancap di pelataran <a href="http://gedungkeseniansolo.org/" target="_blank">Gedung Kesenian Solo</a>. Yang mendapat kehormatan sebagai tiga film pembuka adalah Gang Seribu (Ulul Albab, Yogyakarta, 2009), Pigura (Darti dan Yasin, Purbalingga, 2010) dan Gara-gara Bendera (Jeihan Angga, Yogyakarta, 2011).</p>
<p style="text-align: justify;">Jadwal pemutaran dan acara festival bisa didownload di website resmi <a href="http://festivalfilmsolo.com/" target="_blank">www.festivalfilmsolo.com</a>*<em><strong> (GS/KF.ORG)</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Daftar Film Nominasi Ladrang Award 2011</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://komunitasfilm.org/?p=257" target="_blank"><strong>Territorial Pissings</strong></a><br />
Jason Iskandar / 7 Menit / Jakarta / 2010<br />
Sepasang remaja terbangun dari tidurnya dalam perjalanan ke luar kota. Percakapan terjadi di antara mereka yang membuat perjalanan tertunda untuk beberapa saat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Perjalanan Untuk Kembali</strong><br />
Mulyadi Witono / 20 Menit / Jakarta / 2010<br />
Seorang arsitek muda yang sangat sibuk harus mengantarkan ayahnya untuk pulang ke kampung halaman.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Wrong Day</strong><br />
Yusuf Radjamuda / 4 Menit / Palu / 2011<br />
Seorang polisi mengejar kriminal menjelang hari pertamanya bertugas. Namun satu hal memaksa terjadinya percakapan di antara keduanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bermula Dari A</strong><br />
BW Purba Negara / 15 Menit / Yogyakarta / 2011<br />
Tentang hubungan yang sangat biasa antara perempuan tunanetra dengan laki-laki tunarungu-wicara</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Say Hello to Yellow</strong><br />
BW Purba Negara / 20 Menit / Yogyakarta / 2011<br />
Sebuah benda kecil membuat seorang anak terjebak ilusi dan kepura-puraan. Sebuah potret kelucuan modernitas yang angkuh dan gagap.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitasfilm.org/2011/04/film-pendek-dari-palu-dikeroyok-jakarta-dan-jogja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Unduh Naskah: Territorial Pissings (Jason Iskandar, 2010)</title>
		<link>http://komunitasfilm.org/2011/03/unduh-naskah-territorial-pissings-jason-iskandar-2010/</link>
		<comments>http://komunitasfilm.org/2011/03/unduh-naskah-territorial-pissings-jason-iskandar-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Mar 2011 11:33:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KF.ORG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Unduh Naskah]]></category>
		<category><![CDATA[Download Naskah Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Film Fiksi Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Film Indie]]></category>
		<category><![CDATA[Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Jason Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja-Netpac Asian Film Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Territorial Pissings]]></category>
		<category><![CDATA[Unduh Naskah Film Pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitasfilm.org/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[Territorial Pissings (2010) Gambar Darurat &#124; HD &#124; Fiksi &#124; 7 Menit &#124; Sutradara &#38; Penulis : Jason Iskandar &#124; Produser : Florence Giovani &#124; Pemeran : Yovita Ayu &#38; Deo Grasianto Sepasang remaja terbangun dari tidurnya saat beristirahat dalam perjalanan menuju ke luar kota. Mereka akan melanjutkan perjalanan, namun percakapan terjadi antara mereka dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-258" title="Territorial Pissings still" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/03/Territorial-Pissings-still.jpg" alt="" width="480" height="270" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Territorial Pissings</strong> (2010)</p>
<p style="text-align: justify;">Gambar Darurat | HD | Fiksi | 7 Menit | Sutradara &amp; Penulis : Jason Iskandar | Produser : Florence Giovani | Pemeran : Yovita Ayu &amp; Deo Grasianto</p>
<p style="text-align: justify;">Sepasang remaja terbangun dari tidurnya saat beristirahat dalam perjalanan menuju ke luar kota. Mereka akan melanjutkan perjalanan, namun percakapan terjadi antara mereka dengan sekelilingnya, yang membuat perjalanan mereka tertunda untuk beberapa saat.</p>
<p style="text-align: justify;">• Film Pendek Asia Terbaik (Blencong Award) – Jogja-Netpac Asian Film Festival 2010</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.box.net/shared/f0tp47o30j" target="_blank"><span style="color: #ff0000;"><strong>UNDUH NASKAH &#8220;TERRITORIAL PISSINGS&#8221;</strong></span></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitasfilm.org/2011/03/unduh-naskah-territorial-pissings-jason-iskandar-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jason Iskandar: Setahun Produksi Tak Lebih dari Dua Film!</title>
		<link>http://komunitasfilm.org/2011/02/jason-iskandar-setahun-produksi-tak-lebih-dari-dua-film/</link>
		<comments>http://komunitasfilm.org/2011/02/jason-iskandar-setahun-produksi-tak-lebih-dari-dua-film/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Feb 2011 18:39:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KF.ORG</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Distribusi Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film di Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Film Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Film Alternatif]]></category>
		<category><![CDATA[Film Dokumenter]]></category>
		<category><![CDATA[Film Fiksi Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Film Indie]]></category>
		<category><![CDATA[Film Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Gedung Kesenian Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Ifa Isfansyah]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Bukan Negara Islam. Sarung Petarung]]></category>
		<category><![CDATA[It`s Not Raining Outside]]></category>
		<category><![CDATA[Jason Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja-Netpac Asian Film Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Film]]></category>
		<category><![CDATA[Paul Agusta]]></category>
		<category><![CDATA[Pemutaran Film]]></category>
		<category><![CDATA[Territorial Pissings]]></category>
		<category><![CDATA[Wawancara Jason Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[Yosep Anggi Noen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitasfilm.org/?p=242</guid>
		<description><![CDATA[Dalam usia yang muda, Jason Iskandar telah merebut perhatian publik melalui beberapa film pendeknya. Beberapa kalangan bahkan menyebutnya sebagai wonderkid dunia perfilman nasional. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/02/TP-JI.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-245" title="TP JI" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/02/TP-JI.jpg" alt="" width="480" height="319" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam usia yang sangat muda, <strong>Jason Iskandar</strong> telah merebut perhatian publik melalui beberapa film pendeknya. Beberapa kalangan bahkan menyebutnya sebagai wonderkid dalam dunia perfilman nasional. Film fiksi-pendek terbarunya, Territorial Pissings, diganjar Blencong Award &#8212; penghargaan atas Film Pendek Terbaik &#8212; dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival 2010.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepada <a href="http://komunitasfilm.org/?page_id=14" target="_blank"><strong>Bayu Bergas</strong></a> dari <a href="http://komunitasfilm.org/" target="_blank"><strong>komunitasfilm.org</strong></a>, Jason membeberkan sejumlah ketidakpuasan atas distribusi film-filmnya selama ini. Ia juga blak-blakan soal sumber biaya untuk produksi film-filmnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jason yang tengah berada di Jakarta dan Bergas di Solo, memutuskan berkencan melalui YM pada malam Hari Valentine.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Jas, selamat ya Territorial Pissings <a href="http://jaff-filmfest.com/2011/01/pemenang-film-kompetisi-jaff-2010/" target="_blank">menang di Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2010</a>.<br />
<strong>Jason</strong>: Yap, trims! Trims juga sudah memenangkannya. Hahaha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Hahaha&#8230; Apa yang kamu harapkan dengan kemenanganmu?<br />
<strong>Jason</strong>: Hmmmm.. Yang pasti aku senang ketika film yang aku buat masuk festival dan bisa menang. Tapi aku selalu mencoba untuk menjadikan kemenangan sebagai bonus aja. Maksudnya, yang penting diputar dan ditonton oleh orang. Itu dulu. Kalau kemudian menang, ya bagus.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Eh, kok semua sutradara sama ya statement-nya: menang di festival itu bonus <img src='http://komunitasfilm.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
<strong>Jason</strong>: Ya bohong sih kalau bilang gak ingin menang, tapi ya dicoba dikurangi sekurang-kurangnya. That’s the point! Hahaha. Jawaban ini juga nasehat dari beberapa orang lho, penting katanya. Hahaha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Usiamu berapa sekarang?<br />
<strong>Jason</strong>: Sekarang 20.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Tahun 2007 kamu memulai bikin film. Kenapa pilihanmu film?<br />
<strong>Jason</strong>: Sebenernya sebelum aku mulai bikin film, aku sudah mulai nyoba-nyoba desain grafis, kemudian fotografi. Di desain grafis, aku sering terbentur teknis karena aku gak begitu bisa gambar. Masuk SMA aku mulai nyoba fotografi, tapi aku mulai merasa kurang luas. Lalu ya ketika bikin film, enak aja karena luas. Kebetulan juga sejak ikut workshop pertama dulu, sudah dibilang untuk kesampingkan teknis, ya sudah jadinya asyik aja, bebas dan lebih luas.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Banyak orang salut dengan film-filmmu yang dokumenter, karena kamu selalu mengangkat tema yang tidak steril.<br />
<strong>Jason</strong>: Bilangin trims pada orang orang itu. Hahaha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Lalu kenapa bikin fiksi? ?<br />
<strong>Jason</strong>: Karena ingin mencoba aja. Aku gak mau aja dibilang pembuat film fiksi atau pembuat film dokumenter.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Beberapa orang melihat dengan usiamu yang masih sangat muda, kamu akan banyak membikin film bagus di kemudian hari. Apa rencanamu dalam lima tahun mendatang?<br />
<strong>Jason</strong>: Waduh, yang pasti menyelesaikan kuliah secepatnya, sambil bikin film pendek terus, itu aja sih. Hmmm.. Aku inginnya setahun tidak lebih dari dua film, karena pengalaman waktu tahun 2009 bikin tiga film, lalu 2010 langsung bikin satu, distribusinya berantakan dan gak fokus. Hehehe.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Pola distribusi seperti apa yang kamu mau?<br />
<strong>Jason</strong>: Aku inginnya sih ketika aku selesai bikin film, ya sudah aku fokus ke pendistribusian film itu. Cari cara ke berbagai link, misalnya festival, pemutaran di manapun, DVD, dan lainnya. Aku inginnya saat pra-produksi sudah ada bujet sendiri untuk biaya administrasi festival. Selama ini aku gak pernah seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Sarung Petarung distribusinya ada masalah gak menurutmu?<br />
<strong>Jason</strong>: Hmmm, itu tidak ada. Karena itu juga cukup luas diputar oleh The Body Shop di roadshow mereka.</p>
<p style="text-align: justify;"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/02/Sarung-Petarung.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-247" title="Sarung Petarung" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/02/Sarung-Petarung.jpg" alt="" width="480" height="294" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Kalau Indonesia Bukan Negara Islam (IBNI)?<br />
<strong>Jason</strong>: IBNI itu pertama kali aku distribusikan ke berbagai tempat dengan usaha sendiri. Jadi masalah paling banyak di uang, hanya pakai uang orangtua aja. Pernah aku coba kirim lewat Shortfilmdepot ke festival di luar, tapi email balasan yang masuk cuma email penolakan. Hahaha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Cheat Chat Bingo gimana? Lebih bagus dong ya distribusinya?<br />
<strong>Jason</strong>: Sama aja sih! Browsing sendiri, daftar sendiri, kirim sendiri semua. Intinya begitu. Aku kurang puas dengan distribusi aku selama ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Bagian mana nih kurang puasnya?<br />
<strong>Jason</strong>: Sekarang sudah tahun 2011, dan harusnya aku cari link untuk mutar Territorial Pissings seluas-luasnya, tapi tiba-tiba ada yang mau <a href="http://komunitasfilm.org/?p=222" target="_blank">mutar IBNI kayak di GKS</a> (<a href="http://gedungkeseniansolo.org/" target="_blank">Gedung Kesenian Solo</a> – red) nanti. Sebenarnya aku udah bosan sama pemutaran dan diskusi IBNI. Tapi mau gak mau, karena gimanapun itu juga kesempatan menyebarkan filmku juga kan. Hehehe.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Territorial Pissings akan didistribusikan oleh <a href="http://www.fourcoloursfilms.com/" target="_blank">Fourcolours Films</a> kan ya. Seperti apa metode distribusinya?<br />
<strong>Jason</strong>: Iya, Territorial Pissings didistribusikan oleh Fourcolours. Kalau itu berjalan lancar, akan sangat membantu. Tapi aku belum baca kontraknya. Pihak sana (Fourcolours – red) belum kirim draftnya. Tapi intinya yang aku harapkan sih bukan distribusi DVD-nya, melainkan distribusi ke festival-festival luar, karena waktu IBNI aku coba kirim sendiri lewat FedEx dan Shortfilmdepot, ternyata mahaaaaaal! Hehehe.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Rencanamu dan distributor, Territorial Pissings akan ke festival mana aja tahun ini?<br />
<strong>Jason</strong>: Hahaha, gak ada rencana juga soal itu. Nah kayak gini juga nih yang terjadi selama ini. Aku gak tahu ke festival mana aja yang jadi target. Jadi ya setiap browsing ada festival ya kirim. Yang baru kukirim terakhir itu Asia-Africa Film Festival dan nanti <a href="http://festivalfilmsolo.komunitasfilm.org/" target="_blank"><strong>Festival Film Solo</strong></a>, baru itu. Inipun kukirim sendiri karena belum ada perjanjian tertulis dengan distributor, sebenernya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Wah, mudah2an langsung ada perjanjian tertulisnya ya.<br />
<strong>Jason</strong>: Tau tuh, tak kunjung dikirim draftnya. Hahahaha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Kalau untuk distribusi DVD, apa rencanamu?<br />
<strong>Jason</strong>: Kalau untuk DVD, tidak mengharapkan apa apa, jujur. Hehehe. Aku bener-bener berharap bisa keliling seluas-luasnya aja ke banyak festival lewat distributor itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Menurutmu, apa distribusi DVD sekarang ini gak cukup potensial?<br />
<strong>Jason</strong>: Entahlah, sepertinya tidak. Seberapa banyak sih yang rela ngeluarin uang untuk membeli film pendek. Itu menurutku sih, tapi entahlah kenyataannya. Hehehe.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Ifa Isfansyah pernah bikin <a href="http://koperasifilm.com/" target="_blank">koperasifilm.com</a>, Dimas Jayasrana dengan <a href="http://www.themarshall.org/" target="_blank">The Marshall Plan</a>, dan Lulu Ratna dengan kompilasi <a href="http://boemboe.org/" target="_blank">DVD Boemboe</a>. Menurutmu belum menjawab juga?<br />
<strong>Jason</strong>: Yap! Dan sukseskah ketiganya?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Kayaknya aku yang sedang nanya deh ya?! ?<br />
<strong>Jason</strong>: Hahahaha. Entahlah. Aku tidak ada bayangan soal itu. Yang pasti aku benar benar berharap distibutor ini kalau jadi bisa membawa keliling seluas-luasnya aja, yah anggap aja DVD bagian dari paket itu. The Marshall Plan terakhir ngedistribusiin Kado Hari Jadi. Aku sempet beli, lumayan packaging-nya. Hahaha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Paul Agusta pada akhirnya mendistribusikan Kado Hari Jadi lewat <a href="http://cinemapoetica.com/download-area/kado-hari-jadi" target="_blank">unduhan gratis,</a> bukan kepingan DVD lagi.<br />
<strong>Jason</strong>: Oooh ya, aku juga tahu tuh. Hahahaha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Film-filmmu bisa diunduh di mana nih?<br />
<strong>Jason</strong>: vimeo.com/jasoniskandar</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Jas, soal duit nih.<br />
<strong>Jason</strong>: Ya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Bujet produksimu yang terendah sampai yang tertinggi berapa?<br />
<strong>Jason</strong>: Sarung Petarung dikasih bujet 500 ribu dari panitia workshop The Body Shop. Itu paling rendah, dan habis juga cuma untuk makan-makan. Kalau yang paling tinggi Territorial Pissings, sekitar 4 juta. Kalau IBNI gak ada bujet tertulis, jadi keluar-keluar aja gitu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Duit dari mana tuh yang Territorial Pissings?<br />
<strong>Jason</strong>: Duit dari orang tua.</p>
<p style="text-align: justify;"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/02/sket-TP-2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-248" title="sket TP 2" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/02/sket-TP-2.jpg" alt="" width="477" height="445" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: IBNI juga dari ortu?<br />
<strong>Jason</strong>: IBNI dari uang jajan, ya dari orang tua juga intinya. Ya memang prediksi tidak akan banyak. Baru di Territorial Pissings mulai belajar rinci, buat form-bujet sedetil mungkin, sebelumnya gak pernah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Siapa orang yang punya pengaruh ke kamu di film?<br />
<strong>Jason</strong>: Pasti ortu, karena sebagian besar modal dari mereka. Hahaha. Terus Dimas Jayasrana, mentor sejak workshop The Body Shop, yang terus jadi mentor sampai sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Dimas pasti bangga kamu sebut-sebut di sini.<br />
<strong>Jason</strong>: Hahahaha&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Tiga film pendek Indonesia favoritnya Jason Iskandar?<br />
<strong>Jason</strong>: Harap Tenang Ada Ujian!, A Very Slow Breakfast dan Sugiharti Halim.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>(Catatan redaksi: <strong>Harap Tenang Ada Ujian!</strong> Sutradara Ifa Isfansyah, Produksi tahun 2006. <strong>A Very Slow Breakfast </strong>Sutradara Edwin, Produksi tahun 2003. <strong>Sugiharti Halim</strong> Sutradara Ariani Darmawan, Produksi tahun 2008.)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Btw, mungkin Territorial Pissings bakal ketemu dengan It&#8217;s Not Raining Outside-nya Yosep Anggi di <a href="http://festivalfilmsolo.komunitasfilm.org/" target="_blank"><strong>Festival Film Solo</strong></a>, bulan Mei nanti <img src='http://komunitasfilm.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
<strong>Jason</strong>: Hahahaha&#8230; Iya! Jujur, banyak shot Territorial Pissings yang meniru itu. Hahaha. Aku suka banget sama frame terbelahnya!</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Hahaha.. Statement-mu di atas dimasukkan ke wawancara ini gak nih?<br />
<strong>Jason</strong>: Gak papa, masukin aja biar Cecep (Yosep Anggi &#8211; red) senang! Hahaha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Eh, Jas. Kamu melakukan ritual gitu gak sih kalo mau produksi? Misalnya minum darah kelinci atau apa.<br />
<strong>Jason</strong>: Hahaha, gak pernah. Bahkan baru terpikir sekarang. Boleh dicoba next time.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Pertanyaan terakhir, kamu penganut seks bebas bukan?<br />
<strong>Jason</strong>: Bukan pembicara yang baik, jadi sulit menganut itu. Hahaha</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Jadi kamu tidak terbiasa freesex ya?<br />
<strong>Jason</strong>: Tidak.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Sex berbayar?<br />
<strong>Jason</strong>: Hahaha. Iya, itu beda soal.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bergas</strong>: Oke, jangan lupa kirim fotomu yang paling menjual ya, Jas.<br />
<strong>Jason</strong>: Oke. Sip!</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: center;"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/02/jason-iskandar.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-246" title="jason iskandar" src="http://komunitasfilm.org/wp-content/uploads/2011/02/jason-iskandar.jpg" alt="" width="480" height="471" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jason Iskandar</strong> lahir di Jakarta pada tahun 1991. Ia mulai membuat film dokumenter pada usia 17 tahun lewat workshop Think Act Change : A Documentary Film Competition yang diadakan oleh The Body Shop dan Dewan Kesenian Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Filmografi:</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sarung Petarung</strong> (2007)</p>
<p style="text-align: justify;">Workshop Think Act Change 2007 | DV | Dokumenter | 15 Menit | Sutradara &amp; Penulis : Jason Iskandar &amp; M. Adiartha Kusuma<br />
Remaja mempertanyakan kegunaan kondom dan relasinya dengan safe sex. Jawaban polos mereka menggambarkan bahwa sudah saatnya membicarakan kondom.<br />
•	Film Dokumenter Terbaik &#8211; Think Act Change 2007<br />
•	Film Dokumenter Favorit &#8211; Think Act Change 2007<br />
•	Film Dokumenter HIV/AIDS Terbaik &#8211; Think Act Change 2007<br />
•	Nominasi Film Dokumenter Terbaik &#8211; Festival Film Dokumenter 2008<br />
•	Nominasi Film Dokumenter Terbaik &#8211; Malang Film Video Festival 2008<br />
•	Seleksi Non Kompetisi &#8211; Q! Film Festival 2008<br />
•	Seleksi Non Kompetisi &#8211; Festival Film Pendek Konfiden 2007</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Indonesia Bukan Negara Islam</strong> (2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Gambar Darurat | DV | Dokumenter | 9 Menit | Sutradara &amp; Penulis : Jason Iskandar | Produser : Jason Iskandar &amp; Made Perwira<br />
Film dokumenter tentang dua orang siswa Muslim yang bersekolah di sekolah Katholik. Mereka berpendapat tentang Indonesia dan Islam sebagai agama mayoritas. Divisualisasikan dengan foto-foto hitam putih.<br />
•	Film Dokumenter Terbaik – Tawuran! Festival Film Pelajar 2009<br />
•	Film Dokumenter Terbaik (Kategori Pelajar)  – Festival Film Dokumenter 2009<br />
•	Special Mention for Exploration of Medium – The First Asia Africa International Film Festival 2010<br />
•	Nominasi Film Dokumenter Terbaik &#8211; Malang Film Video Festival 2010<br />
•	Seleksi Non Kompetisi &#8211; Festival Film Purbalingga 2009<br />
•	Seleksi Non Kompetisi &#8211; 3 Cities Film Festival 2010</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Detensi </strong>(2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Gambar Darurat | DV | Fiksi | 8 Menit | Sutradara, Penulis, Produser : Jason Iskandar | Pemeran : Made Perwira &amp; Rayestu Abdulrachman<br />
Hukuman mengepel toilet dan dongeng klise tentang kepala sekolah.<br />
•	Seleksi Kompetisi &#8211; Tawuran! Festival Film Pendek Pelajar<br />
•	Seleksi Non Kompetisi &#8211; Europe on Screen (Festival Film Eropa) 2009 &#8211; November 2009</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Cheat Chat Bingo</strong> (2009)</p>
<p style="text-align: justify;">Gambar Darurat | DV | Dokumenter | 30 Menit | Sutradara, Penulis, Produser : Jason Iskandar<br />
Film dokumenter yang menelisik kecenderungan menyontek di SMA Kanisius, serta resiko yang harus ditanggung.<br />
•	Seleksi Non Kompetisi &#8211; Festival Film Pendek Konfiden 2009<br />
•	Nominasi Film Dokumenter Terbaik (Kategori Pelajar) &#8211; Festival Film Dokumenter 2009<br />
•	Seleksi Non Kompetisi &#8211; Festival Film Purbalingga 2010<br />
•	Seleksi Kompetisi &#8211; Malang Film Video Festival 2010</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Territorial Pissings </strong>(2010)</p>
<p style="text-align: justify;">Gambar Darurat | HD | Fiksi | 7 Menit | Sutradara &amp; Penulis : Jason Iskandar | Produser : Florence Giovani | Pemeran : Yovita Ayu &amp; Deo Grasianto</p>
<p style="text-align: justify;">Sepasang remaja terbangun dari tidurnya saat beristirahat dalam perjalanan menuju ke luar kota. Mereka akan melanjutkan perjalanan, namun percakapan terjadi antara mereka dengan sekelilingnya, yang membuat perjalanan mereka tertunda untuk beberapa saat.</p>
<p style="text-align: justify;">•	Film Pendek Asia Terbaik (Blencong Award) – Jogja-Netpac Asian Film Festival 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitasfilm.org/2011/02/jason-iskandar-setahun-produksi-tak-lebih-dari-dua-film/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

